Oleh: Fardila Indrianti, S.Pd
"The Voice Of Muslimah Papua Barat"

Mediaoposisi.com-Perkembangan dunia teknologi saat ini makin pesat ke arah serba digital. Era digital telah membuat manusia memasuki gaya hidup baru yang tidak bisa dilepaskan dari perangkat yang serba elektronik. Teknologi dianggap sebagai kebutuhan pokok dalam medukung kelangsungan hidupnya.

Hal ini berbanding lurus dengan perkembangan media digital kita. Saat ini akses informasi melalui media tersebar luas dan cepat bahkan hanya dengan satu sentuhan jari.

Hal tersebut didukung dengan berbagai aplikasi maupun konten-konten menarik yang dengan mudah di akses oleh siapa saja, baik orang dewasa, remaja maupun anak-anak. Instagram, whatsapp, facebook, dan lain sebagainya merupakan contoh kecil bagaimana media digital mendominasi kehidupan manusia saat ini.

Pengaruh media digital ini bersifat janus, yaitu memiliki sisi sangat positif dan sisi sangat negatif. Sisi positifnya adalah kecepatan informasi yang mudah dan cepat. Informasi dapat dicari hanya dengan hituangan detik dari internet. Sedangkan sisi negatifnya adalah menghasilkan pengguna-pengguna yang latah terhadap budaya asing.

Merebaknya penggunaan smartphone dengan operasi systemnya yang semakin canggih makin hari kian meresahkan. Ini dikarenakan setiap OS berlomba menciptakan aplikasi yang diperuntukkan demi kemudahan penggunanya.

Ini berdampak pada perubahan gaya hidup remaja saat ini. Lihatlah bagaimana generasi sekarang dengan cepat update serta lebih mudah dalam belajar. Sebagai contoh mesin pencari (search engine) sejenis Google dan ensiklopedia online seperti Wikipedia yang memudahkan seseorang mencari apapun.

Pembelajaran makin mudah, apapun bisa ditemukan di internet. Bahkan akses ke situs terlarang dan konten-konten rusak pun di fasilitasi dengan sangat terbuka, aplikasi pencarian pasangan pun semakin digandrungi generasi muda saat ini, begitu pula dengan generasi muslim kita.

Melihat semua kemudahan akses yang dimiliki tentu memiliki dampak yang besar terhadap generasi saat ini maupun generasi yang akan datang. Hal seperti ini tentu menyebabkan keprihatinan besar. Semua aspek budaya yang datang dari barat seakan tidak difilter dengan baik. Sebagai contoh adalah budaya food, fashion, fun dan film masuk ke dalam lingkungan keluarga, disambut hangat oleh seluruh anggota keluarga, bahkan dijadikan tren dan gaya hidup.

Situs jejaring sosial seperti Facebook, instagram, dan lainnya juga bisa membahayakan karena memicu orang untuk mengisolasikan diri. Remaja menjadi aktif di dunia maya namun kehilangan jiwa bersosialisasi, berganti dengan generasi pemuja kebebasan, penghujat, dan generasi antipati. Ini juga menyebabkan berbagai masalah kesehatan bahkan gangguan kejiwaan disebabkan kecanduan gadget.

Pada Juni 2017, sebuah survei yang dilakukan kepada hampir 1.500 remaja dan dewasa muda menyebut, Instagram adalah media sosial terburuk bagi kesehatan mental dan kesejahteraan. Platform tersebut juga disebut terkait dengan tingkat kecemasan, depresi, bullying, dan Fear of Missing Out (FOMO) -- ketakutan bahwa orang lain sedang mengalami kejadian menyenangkan, di mana ia tidak merasa terlibat.

Survei #StatusOfMind yang dipublikasi Royal Society for Public Health Inggris menjelaskan bahwa, terdapat lima media sosial yang masuk ke dalam survei. Jika diurutkan dari yang terburuk, medsos tersebut adalah Instagram, Snapchat, Facebook, Twitter, dan You Tube. Studi sebelumnya mengatakan bahwa anak muda yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari di situs media sosial, lebih cenderung mengalami tekanan psikologis. (Liputan6.com/25/1/2018)

Seiring berkembangnya teknologi, berkembang pula kejahatan. Di dunia internet, kejahatan dikenal dengan nama cyber crime. Kejahatan dunia maya sangatlah beragam. Di antaranya ujaran kebencian, penipuan, penculikan bahkan yang terparah dapat menjadi korban pembunuhan.

Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela. Beberapa kasus terkait penyimpangan remaja pun terjadi, ini tidak terlepas dari pengaruh pornografi yang dengan mudah di akses di era digital ini.

Yang membuat miris adalah penyimpangan perilaku seksual yang terjadi di kalangan remaja usia sekolah. Antara lain peristiwa beberapa hari lalu yang menghebohkan warga Garut terkait adanya grup gay pelajar di facebook. Yang mencengangkan adalah anggota grup tersebut mencapai 2500 orang. (Tribunnews.com/10/10/2018)

Akar permasalahan; Sistem Kufur Produk Barat

Sistem kufur saat ini telah berhasil menjauhkan generasi muda Islam dari syariat agama sendiri. Media sosial sebagai produk teknologi Barat merupakan "madaniyah" yang sarat dengan "hadharah Barat". Artinya media digital sebagai bagian dari propaganda barat terhadap generasi muda diberbagai belahan dunia khususnya generasi Islam telah berhasil menghancurkan kepribadian mereka.

Melalui berbagai kemudahan akses media, baik media hiburan maupun media digital menyeret generasi muda dalam jeratan sistem kapitalis yang melahirkan gaya hidup hedonis dan permisif, apapun boleh dilakukan untuk memperoleh kebahagiaan semu, unjuk kebolehan dan mencari perhatian, atas nama kebebasan dan hak asasi, tidak lagi sesuai dengan apa yang dibolehkan atau dilarang oleh Allah.

Lihat saja bagaimana tren yang berlaku hari ini, pemuda pemudi Islam berperilaku yang jauh dari Islam, ikhtilat atau campur baur dalam aktivitas yang tidak berfaedah juga menjadi pemandangan biasa, berbagai aktivitas di dunia nyata maupun dunia maya yang semakin memprihatinkan, tidak jarang berujung pada kemaksiatan seperti  pergaulan bebas. Tidak jarang akibat penyalahgunaan media digital menjerumuskan pada tindak kejahatan, seperti penipuan, pemerkosaan, bahkan menjadi korban pembunuhan.

Hal ini diperparah karena negara sebagai soko guru ketahanan bangsa justru menjadi biang kerok kehancuran bangsa itu sendiri. Negara seolah menjadi perantara bagi generasi muda agar dengan bebas mengekspresikan segala potensinya, hingga tak jarang potensi-potensi yang buruk disalurkan tanpa pengawasan. Bagaimana negara memfasilitasi hal-hal yang ada, baik dalam dunia maya seperti aplikasi tik tok, aplikasi pencarian jodoh, situs porno dan lain sebagainya maupun di dalam dunia nyata yang tidak diawasi secara ketat.

Di sisi lain, kita disuguhkan dengan berbagai tontonan yang merusak perilaku remaja, sinetron percintaan muda-mudi menjadi rating tertinggi tanpa ada filter dari lembaga penyiaran. Sehingga wajar jika generasi saat ini tidak mampu menjadi generasi tumpuan dan harapan umat, berganti menjadi para generasi pembebek penghancur peradaban.

Selain itu perkembangan media sosial juga makin mengubah gaya hidup manusia saat ini. Pemilik akun media sosial senantiasa update dan berbagi informasi setiap saatnya. Perkembangan isu terkini yang dibahas di media sosial hampir pasti selalu menjadi sebuah trend. Media sosial bisa menjadi alternatif melihat perkembangan apa yang sedang dibicarakan.

Media sosial juga menjadi sarana interaksi antara pengguna satu dengan yang lain dalam menanggapi sebuah isu terkini. Dengan fungsi jejaringnya, media sosial merupakan tempat yang layak untuk saling berbagi apapun, mencari teman, ataupun hanya sekedar melihat perkembangan terkini yang terjadi.

Kerusakkan remaja hari ini, telah nyata terjadi akibat sistem kehidupan yang rusak di negeri ini. Begitu banyak faktor yang menyebabkan meningkatnya kerusakkan moral para remaja dewasa ini. Ajaran Islam ditinggalkan, berganti dengan kebebasan dan liberalisme yang terus menerus dipaksakan kepada generasi saat ini. Ini dibuktikan melalui berbagai tayangan televisi yang sarat akan hal-hal negatif. Belum lagi keadaan masyarakat yang dijejali budaya liberal, hingga di sekolah melalui sistem pendidikan sekular.

Dari sinilah lahir berbagai sikap dan perilaku liberal yang mengagungkan kebebasan individu. Manusia bertindak atas dasar akal dan perasaannya saja, bukan lagi berdasarkan hukum syara'. Ini tentu menjadi kekhawatiran yang besar bagi kelangsungan generasi Islam ke depan.

Media digital yang sejatinya adalah produk Barat nyatanya menjadi alat menyebarkan berbagai pemikiran dan budaya kufur. Hal ini terlihat jelas dari kemudahan akses serta berbagai fiture layanan yang mudah dijangkau, tak jarang hal ini disalahgunakan oleh remaja. Sebagai contoh berbagai konten porno dengan mudah diakses oleh masyarakat khususnya remaja tanpa ada pengawasan dari orang tua maupun pemerintah.

Hal ini dibarengi pula dengan serbuan budaya Barat yang memasuki kehidupan kaum muslim khususnya remaja, dengan menjajakan berbagai jenis musik, mode, film, artis idola, bahkan gaya hidupnya. Hal ini dianggap wajar karena inilah zamannya globalisasi dimana dunia seakan tak terbatas, segala potensi yang dimiliki manusia seolah ingin diekspresikan sebebas-bebasnya.

Kembali Kepada Sistem Islam

Segala persoalan yang terjadi pada remaja merupakan buah dari penerapan sistem sekuler liberal yang melahirkan generasi rusak. Islam sebagai agama yang paripurna hadir untuk memecahkan segala problematika yang dihadapi oleh manusia, baik dalam tatanan individu, masyarakat maupun negara.

Sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nahl ayat 89 yang artinya, " Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) Al-Qur'an sebagai penjelas segala sesuatu; juga sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim." (TQS. An-Nahl[16]: 89)

Di dalam Islam, segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia, alam semesta dan kehidupan diatur oleh Allah SWT. Terkait permasalahan remaja, Islam telah memberikan batasan yang jelas dalam pergaulan laki-laki dan perempuan, antara lain diharamkan untuk berkhalwat (berduaan) dengan yang bukan mahramnya. Hal ini dengan tegas dijelaskan di dalam surah Al-Israa' ayat 32 yang artinya, "Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (TQS. Al-Israa’: 32)

Islam juga melarang adanya aktivitas campur baur (ikhtilat) antara laki-laki dan perempuan baik di dalam kehidupan nyata maupun di dalam dunia maya, kecuali adanya alasan syar'i, seperti di dalam muamalah, pendidikan, maupun kesehatan. Hal ini sebagai bentuk penjagaan Islam terhadap kehormatan dan kemuliaan manusia agar tidak terjerumus dalam perilaku sesat.

Hal ini tentu dikuatkan melalui institusi keluarga sebagai pilar pengokoh kepribadian remaja. Sehingga baik orang tua maupun anak dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sesuai dengan syariat Allah.

Media yang beredar baik media digital maupun media sosial dipastikan berisi konten-konten yang mengedukasi masyarakat khususnya remaja, jauh dari unsur pornografi dan konten buruk. Di dalam Islam, pemerintah memiliki andil yang besar dalam mengatur dan mengontrol segala aktivitas yang berkaitan dengan kemaslahatan umat.

Sistem sanksi di dalam Islam juga memiliki hikmah yang sangat besar. Islam memberikan sanksi kepada kepala keluarga yang terbukti lalai dalam mengurus keluarganya, serta memberikan hukuman jilid dan rajam bagi pelaku zina sesuai dengan Al-Qur'an dan hadits. Hal ini bersifat sebagai pencegahan (preventif) dan memberikan efek jera baik bagi pelaku maupun orang lain.

Namun semua itu tidak dapat terwujud tanpa adanya institusi pemerintahan Islam, karena hanya dengan sistem pemerintahan Islam yang mampu menerapkan seluruh aturan-aturan Allah SWT, sebagai pedoman manusia dalam mencapai kemuliaannya sebagai umat yang terbaik.[MO/an]


Posting Komentar