Oleh : Ani Herlina 
 "Pendidik dan Anggota di komunitas  Akedemi Menulis Kreatif."

Mediaoposisi.com-Pesta demokrasi tanah air tinggal menghitung bulan. Setiap menghadapi pilpres atau pilkada dunia perpolitikan Indonesia kerap memanas. Baik di media televisi maupun di jagad mesdos. Sang kubu yang mencalonkan diri untuk bisa terpilih dalam lingkaran kekuasaan saling unjuk diri membanggakan dirinyalah yang layak memimpin negri ini. Dengan dibumbui berbagai macam pencitraan yang penuh dengan manipulasi. Perang opinipun terjadi untuk menghancurkan pihak lawan. Dari tangan tak kasat mata inilah lahirlah berita, interpretasi, meme, gambar, foto, membuat propaganda, bahkan fitnah.

Munculnya tokoh ulama ke pusaran politik  membuat kisruh poklitik Indonesia kian memanas. Karena ulama terjebak politik pragmatis. Sebenarnya ulama memiliki pengaruh yang sangat signifikan dengan keilmuannya yang mumpuni dan tindakannya yang mampu mempengaruhi masyrakat sehingga dia mampu menjadi figur yang patut di contoh.

Namun jika ulama hanya di dekati ketika dekat dengan waktu pemilihan, hanya karena memiliki masa yang besar, lalu dimamfaatkan untuk mendulang suara umat, itu yang sangat menyedihkan. Ditengah Indonesia yang memanas, ulama seharusnya hadir menjadi penengah panasnya konstelasi politik bukan terseret dalam arus politik yang ditawarkan oleh partai politik. Ulama itu di ibaratkan air yang harusnya mampu menjadi penyejuk umat dari lelahnya problematika kehidupan.

Ketika ulama terafilisi pada label politik maka kewibawannya akan mengecil. Karena dia pas
ti lebih mementingkan apa yang diusung oleh partainya, Dan bisa jadi akan menaggalkan jubah keulamaannya.

Dali-dalil Al-Qur’an akan di jualnya dengan harga yang sangat murah dan tak lebih sebagai pemanis untuk mencapai ambisinya. Hal ini akan membuat masyrakat semakin tak respek terhadap peran ulama. Kita bisa lihat komentar warga net di media sosial yang benar-benar tak menunjukan adab yang sopan kepada para ulama,padahal mereka adalah warisul anbiya atau pewaris ilmu para nabi

Islam memang tidak melarang umat untuk berpolitik. Karena politik tidak bisa dijauhkan dari Islam. Namun melihat bagaimana sistem yang di terapkan saat ini adalah  sistem kufur yang tidak memiliki korelasi dengan islam. Maka akankah ulama tersebut mampu membawa aspirasi islam kedalam lingkaran politik praktis? Rasanya jauh panggang dari api. Karena demokrasi pasti yang diterapkannya adalah hukum sekuler dan itu artinya akan sangat bertentangan dengan Islam.

Sudah tentu ketika ulama  terseret arus politik negri ini, yang penuh dengan kecurangan akan mencedarai kewibawaan sebagai ulama dan melukai sebagian umat yang masih waras ingin diterapkannya hukum syara.

Pelemahan secara sistematis terus dilakukan pada ulama baik secara kata-kata, fisik  melalui kriminalisasi bahkan cara terhalus dengan tawaran dunia berupa jabatan politik praktis sehinga ulama bisa di kuasai oleh para pengusung liberalis-sekuler dan komunis. Dan kemudian ulama yang sudah terjebak dalam poros  ini mereka jadi para pejuang demokrasi dan menganggap demokrasi sama dengan syuro. Mereka berteriak lantang tentang HAM, pluralisme dan liberalisme.

Berkaitan dengan hal ini, Imam al Ghazali dalam kitabnya ‘ihya ulumudin, menyatakan:

“Dulu tradisi para ulama mengoreksi penguasa untuk menerapkan hukum Allah SWT. Mereka mengikhlaskan niat dan pernyataannya membekas di hati. Namun sekarang, terdapat para penguasa yang tamak dan para ulama hanya diam. Andaikan mereka bicara, pernyataannya berbeda dengan perbuatannnya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa akibat kerusakan ulama. Sedangkan kerusakan  akibat di genggam cinta dan jabatan. Siapa saja yang di genggam cinta dunia niscaya tidak mampu menguasai kerikilnya bagaimana lagi dapat mengingatkan penguasa dan para pembesar.”

Ulama  dimasa kegemilangan islam tidak pernah mendekat pada penguasa. Mereka sangat menjaga jarak bahkan mendapatkan perlakuan yang refresif dari penguasa, karena mempertahankan idealismenya sebagai ulama. Dan mereka adalah sosok yang paling lantang mengingatkan penguasa yang melanggar ketentuan syara. Sudah menjadi tugasnya beramar ma’ruf nahi munkar.

Namun, berbeda dengan saat ini: Ulamalah yang menjadi alat penguasa demi melanggengkan kekuasaannya. Dan marwah ulama dicabut paksa mengikuti aktivitas yang sesuai dengan sistem demokrasi.  Baik itu di panggung politik, di acara kampanye yang penuh hiburan maksiat yang  mempertontonkan aurat atau di acara lainnya yang bertentangan dengan islam. Ulama di paksa tunduk pada kebiasaan penguasa. Halal dan haram menjadi bias. Karena hasil dari buah demokrasi yang penting puas.

Telah tiba masanya fitnah akhir zaman di mana menjaga keistiqomahan di masa ini sungguh sangat berat. Tidak  hanya untuk kita, tapi berlaku untuk para ulama. Maka akan lebih bijaksana kita senantiasa mendo’akan para ulama kita, agar senantiasa istiqomah dengan menjaga marwah keulamaaannya. Karena rusaknya bangsa ini, dimulai dari rusaknya ulama. Semoga ulama kita tidak termasuk yang di gambarkan dalam hadist Rasulullah.

Yang di pagi harinya beriman dan di sore harinya kafir karena demi ambisinya pada kekuasaan dunia, hingga menjadi penjilat penguasa.

“Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad No. 8493)

Maka dari itu ummat islam harus bersatu untuk menumbangkan kedzaliman yang saat ini sedang berkuasa dan mewaspadai ulama-ulama yang telah berpihak kepada kedzaliman[MO/an]




Posting Komentar