Oleh: Merli Ummu Khila 
( Pegiat Dakwah, Kontributor Media) 

Mediaoposisi.com-Di mana kebaikan, di mana keadilan
Mengapa hanya kebohongan yang di hasilkan
Semudah itu kau injak injak darah pejuang

Kau masih lupakan rakyat yang lelah berorasi
Keadilan tertatih hampir setengah mati
Sulit bergerak rakus harta menjerat kaki
Mendengar kebenaran kaupun berdebar hati
Tak heran bila rakyat pun mulai menebar maki
Ku ingin aparat yang bisa jadi panutan
Bukan salah pilih pilihan yang kau lakukan

Sepenggal lirik lagu Drama Keadilan milik Saykoji ini menggambarkan betapa sulit mencari keadilan di negeri ini.

Aksi Gp Wilayah Sultra dengan tema : BBM dan Dolar Naik, Bukti Rezim Jokowi ingkar Janji. Tgl 18 Okt. 2018 pukul 08.05 WITA aksi dilakukan sesuai rute dalam surat pemberitahuan aksi, yaitu Perempatan Wua-Wua – Perempatan MTQ. Aksi di perempatan Wua-Wua berlangsung hingga pukul 09.15 WITA kemudian Long March menuju Perempatan MTQ.

 Di tengah aksi  pihak Intelkam mengambil paksa dan merampas pernyataan sikap yang disebar dengan alasan terdapat kata khilafah dalam pernyataan sikap yang di sebar, kemudian ditengah-tengah  orasi pihak Intelkam kemudian mempersoalkan baju kaos yang dipakai salah satu masa aksi yang terdapat kata khilafah.  Kemudian terjadi aksi kekerasan oleh aparat tersebut.

Dalam Undang-Undang setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapat, tapi fakta nya rezim saat ini seolah membungkam siapa saja yang berani bersuara mengkritisi semua kebijakan pemerintah yang sewenang-wenang.

Bangkit nya mahasiswa merupakan angin segar sebagai penyambung lidah rakyat. Setelah sekian lama mati suri, entah itu tidak adanya pemberitaan di media atau ada intervensi oleh pihak tertentu. Kini mulai ada riak - riak penolakan oleh mahasiswa atas kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat.

Mahasiswa itu agent of change atau agen pembawa perubahan, karena mahasiswa yang tahu seluk beluk dunia. Mereka yang memegang fungsi kontrol dunia. Kepada mereka rakyat mempercayakan tugas mengubah dan mengontrol negeri ini. Karena merekalah kaum terpelajar. Mereka calon pemimpin masa depan. Jika ruang gerak mereka dibatasi, kebebasan berpendapat mereka dikebiri lalu bagaimana mereka bisa melakukan perubahan?

Jika saat ini aparat saja tidak netral terhadap mahasiswa, lalu kepada siapa mereka meminta perlindungan, harus nya aparat tugas nya hanya mengamankan dan memastikan situasi kondusif tanpa kericuhan. Jika aparat keberatan dengan adanya materi tentang khilafah, bukan otoritas nya untuk merebut apalagi sampai memaksa melepas kaus yang bertulisan khilafah.

Perlu di luruskan bahwa ide Khilafah bukanlah suatu kesesatan dan bukan juga suatu ancaman. Khilafah itu ideologi islam. Jika Indonesia saja mengadopsi demokrasi yang turunan dari Ideologi kapitalis, lalu mengapa harus alegri dengan ideologi agama yang mayoritas?

Seperti nya pemerintah harus 'membayar' dengan harga yg mahal atas represifme yang dipertontonkan aparat. Betapa keberpihakan aparat begitu jelas. Hilang sudah kepercayaan rakyat pada rezim saat ini. Karena tidak ubah seperti tangan besi.[MO/sr]





.

Posting Komentar