Oleh :Rusdah 
(Mahasisiwi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat)

Mediaoposisi.com- Masih terasa duka dibenak kita akan bencana yang menimpa Lombok yang mengakibatkan ratusan rumah rusak, korban jiwa dan trauma. Namun tak berselang lama saudara di Palu, Donggala, dan sekitarnya mendapat musibah yang lebih dahsyat. Dimana, mereka ditimpa tiga bencana dalam waktu bersamaan yaitu gempa, tsunami dan likuifaksi. Nampaknya bumi ini telah murka, dalam beberapa pekan kemudian Situbondo dan sekitarnya juga mengalami gempa yang berkekuatan 6,3 SR.

Banyaknya bencana yang menimpa negeri ini nampaknya tak menghalangi pemerintah untuk tetap menjadi tuan rumah perhelatan ASIAN PARA GAMES serta Annual Meeting International Monetery Fund (IMF) dan World Bank pada 12-18 Oktober 2018 di Nusa Dua Bali. Tak tanggung-tanggung, dana yang disiapkan pemerintah untuk menyukseskan agenda Annual Meeting International Monetery Fund (IMF) dan World Bank tersebut mencapai Rp 868 miliar. (detik.com)

Annual Meeting IMF dan WB ini menjadi agenda penting bagi pemerintah yang dianggap relevan dengan program pembangunan yang dijalankan rezim ini. Pertemuan tersebut menghadirkan Gubernur Bank Sentral, Menteri Keuangan dari 189 negara anggota serta sektor privat, akademisi, NGO dan media. Dimana, dalam pertemuan ini akan mendiskusikan perkembangan ekonomi, keuangan global serta isu-isu mengenai pengurangan kemiskinan.

Manfaat jangka pendek dan panjang yang akan dirasakan oleh Indonesia dari Annual Meeting IMF dan WB terus digembar-gemborkan pemerintah kepada masyarakat terutama bagi mereka yang kontra akan pelaksanaan ini karena dianggap kurang tepatnya penggunaan dana, sedangkan dalam waktu yang bersamaan masih banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan pemerintah.

Mulai dari adanya promosi gratis kepada turis mengenai tempat-tempat pariwisata di Bali, memperkenalkan kebudayaan Indonesia, semakin membuka peluang investasi warga asing di Indonesia, diperkirakan akan ada sekitar 15.000 WNA yang membelanjakan uangnya di Bali dengan begitu, pemasukan negara pun akan bertambah, hingga banyaknya media asing yang akan meliput segala hal yang telah Indonesia sajikan dalam pertemuan tersebut. Hal ini dianggap akan memberikan keuntungan bagi Indonesia di dalam mendukung pembangunan ekonomi.

Akankan iming-iming dari pemerintah tersebut akan dirasakan masyarakat Indonesia?
Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah dalam pertemuan tahunan IMF dan World Bank tahun ini bukan tanpa alasan.

Seringnya Indonesia meminjam dana kepada IMF dan World Bank membuat negeri ini menjadi sasaran empuk untuk mudah dikendalikan. Adanya syarat-syarat yang nyatanya menyengsarakan masyarakat, seperti halnya memaksa negeri debitur agar mempercapat perampasan sumber daya dengan cara yang halus, kebijakan ekonomi neoliberalisme yang mempercepat liberalisme dan privatisasi.

Di sistem kapitalis ini, segala sesuatu tentu ada timbal baliknya, sebab tolak ukur perbuatan mereka berdasarkan materi. Begitu pula dengan pinjaman yang diberikan oleh lembaga keuangan yang tujuannya meminjamkan dana ke negara berkembang ini.

Apalagi ketika kita tahu bahwa IMF dan WB adalah bentukan Amerika Serikat. Menguasai sumber daya suatu negeri dan mengikat kedaulatan negeri sasaran dengan memberikan kemudahan utang serta investasi adalah strategi mereka, yang kita sebut dengan neoimperalisme.

Sejak tahun 1967, dibawah kepemimpinan Jenderal Soeharto, negeri ini sudah berhadapan dengan kebijakan pengaturan Bank Dunia dan IMF yaitu kebijakan ekspor kapital ke berbagai negeri salah satunya Indonesia. Dampaknya adalah, sumber daya alam milik Indonesia dapat dikuasai oleh perusahaan asing melalui investasi, seperti Freeport Mc Moran, Chevron, dan perusahaan lainnya. Akibatnya, kita tidak bisa menikmati kekayaan alam sendiri, sulitnya mendapatkan pekerjaan, tingkat pengangguran dan kemiskinan yang tak pernah turun.

Utang disertai bunga tidak akan pernah menyejahterakan rakyatnya sekalipun kaum kapitalis menganggap aktivitas ribawi sangat menguntungkan. Indonesia akan terus terikat pihak asing-aseng melalui utang dan investasi, harga barang dan kondisi ekonomi juga akan bergantung pada kondisi perekonomian dunia. Di dalam Q.S Al-Baqarah : 275 Allah Swt telah menjelaskan bahwa :

 “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…

Allah telah berikan seperangkat aturan yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dari kita bangun tidur hingga bangun negara. Pemimpin yang adil tentu senantiasa memaksimalkan amanahnya agar sesuai dengan syariat Islam, termasuk dalam pengelolaan dana. Menjadi sebenar-benarnya amirul mukminin, bukan menjadi pemimpin boneka yang mudah disetir pemilik modal.

Seperti halnya yang dialami oleh Indonesia sekarang, dalam waktu yang bersamaan harus mengeluarkan dana yang banyak, baik untuk membantu korban bencana alam, penyelenggaraan ASIAN PARA GAMES maupun pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia. Ketika banyak masyarakat di luar sana yang mengharapkan uluran tangan pemerintah untuk membantu mereka yang kelaparan, kedinginan, sulit mendapatkan air bersih, dan penderitaan lainnya. Pemerintah justru teralihkan fokusnya pada agenda besar tahunan WB dan IMF.

Bukankah aturan buatan manusia nyatanya tidak memberikan solusi tuntas atas berbagai persoalan yang ada? Manusia yang sering mengedepankan nafsunya bisa saja membuat aturan yang berpihak pada siapapun yang dia kehendaki, termasuk membuat keputusan sesuai kehendaknya, tanpa pikir panjang bagaimana nasib rakyat diluar sana. Islam yang rahmatan lil’alamin hanya dapat dirasakan ditengah-tengah masyarakat yang menjalankan aturan Allah secara sempurna.

Pemimpin yang berlandaskan pada aturan Allah tentu akan mengambil keputusan yang menyejahterakan rakyatnya. Dana yang dimiliki negara harus jelas sumber dan penggunaannya. Sebab ingatlah, bahwa segala tindakan kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya termasuk penguasa yang dzolim terhadap rakyatnya.[MO/sr]

Posting Komentar