Oleh : Cici Aprisa. S.Pd
(Aktivis muslimah pemerhati perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com-Naluri seksual merupakan fitrah yang memang  ada pada diri   manusia, namun bukan berarti untuk memenuhi tidak memiliki pengaturan,  fitrah tersebut diciptakan memiliki tujuan, yang mana tujuan diberikan naluri tersebut adalah melestarikan keturunan umat manusia.

Namun pada faktanya, naluri tersebut sudah melenceng dari fitrah manusia yang bagaimana pengaturan dalam memenuhinya, yang seharusnya pemenuhan manusia itu adalah kepada lawan jenisnya namun  sekarang justru  kebanyakan mereka tertarik dengan sesama jenis.

Ribuan pemuda di kabupaten Garut berunjuk rasa menolak LGBT  (Lesbian, Gay, Biseksual,  dan Transgender) yang kian merebak. Aksi yang digelar jumat  (12/10) sejak  pukul 13.00 WIB  itu menuntut  pemkab dan DPRD Garut  Perda anti LGBT.

Tak hanya itu Ratusan siswa SMP Negeri 2 Tarogong kidul. Kabupaten Garut, juga ikut menggelar deklarasi menolak keberadaan LGBT.

Aksi tersebut merupakan reaksi keresahan mereka terhadap adanya grup gay di media sosial facebook yang anggotanya juga sesame pelajar. (Media Umat, 19 Oktober 2018).

Selain itu Polisi  juga  meringkus pasangan gay di Bandung, IS dan IW, dan keduanya membuat grup khusus kaum gay di facebook, dan anggota grup tersebut mencapai 4.093 orang (Kompas.com, 20/10/2018)

Indonesia negara yang mayoritas Islam? Mengapa hal itu terjadi? Kenapa LGBT tumbuh begitu pesat Di Indonesia?

Berkembang pesatnya kasus LGBT ini bukan semata-mata banyaknya orang yang setuju dengan ide tersebut, namun sejak adanya HAM ( Hak Azazi Manusia) yang sesungguhnya salah satu intsrumen barat dalam menyebarkan ideologi kapitalismenya.

Paham ini lahir dari sekulerisme barat yang memisahkan agama dalam urusan kehidupan yang sarat dengan ide kebebasan atau liberalisme.

Berkembangnya ide HAM ini ditengah-tengah kehidupan jelas atas kepentingan barat  baratlah yang selama ini paling getol mengkampanyekan HAM. Program utama Duta Besar As di Indonesia adalah HAM.

Dengan HAM barat juga terus berupaya menyerang dan memojokkan kaum muslim dan hokum-hukum Islam. Aturan- aturan islam yang agung sering digerogoti oleh isu-isu HAM.

Karena ide dasar HAM, nilai-nilai liberal  (hak alamaiah) maka liberalisasi politik, liberalisasi sosial, liberalisasi  dalam berkeyakinan, liberalisasi ekonomi dan lain sebagainya pada akhirnya akan menjadi suatu kenisayaan.

Adapun dampak dari HAM terhadap kehidupan sosial masyarakat atas nama HAM. Liberalisasi kehidupan sosial telah menghasilkan pola kehidupan tanpa aturan. 

Perilaku pornoaksi dan pornografi  serta LGBT, begitu menyeruak akibat buruk  yang bisa dirasakan bebasnya  tata nilai kehidupan ini adalah tercabutnya rasa malu dan hilangnya perasaan dosa ketika generasi muslim melakukan tindakan diluar batas pemikiran.

Selain itu penyebab maraknya LGBT adalah karena rapuhnya keimanan dan nilai pertahanan keislaman orang tua dan anak, anak tidak dipahamkan nilai-nilai keislaman sejak dini, dan memberikan gawai kepada anak tanpa pengawasan,

tidak memantau siapa kawan mereka, dan tidak peka terhadap pergaulan remaja. Selain itu juga karena budaya hidup yang hedonis, dan kurangnya control dari masyarakat dan abainya negara dalam mengatur urusan umatnya,

beredarnya berbagai informasi karena kecanggihan teknologi yang kadang sulit untuk kita filter, sehingga informasi diterima tanpa adanya saringan terlebih dahulu kebenarannya.

Bagaimana solusinya?

Peran Individu dan keluarga

Langkah paling sederhana untuk melindungi anak dari tindakan LGBT bisa dilakukan oleh individu dan keluarga. Orangtua mepunyai peranan penting dalam menjaga anak-anak dari ancaman ini.

Orangtua juga harus meningkatkan pengawasan terhadap anak. Orangtua juga memegang peranan penting untuk mendidik anak-anak dengan hukum Islam,

dan tak kalah pentingnya upaya orangtua untuk selalu meningkatakan komunikasi dengan anak dan memastikan bahwa anak berada pada lingkungan yang aman.

Peran Masyarakat

Masyarakat juga harus berperan aktif dalam mewujudkan sistem yang aman bagi anak. Ketika LGBT diharamkan maka seharusnya masyarakat juga satu pemikiran, satu perasaan dan peraturan dalam masalah ini.

Pemberantasan masyarakat tak akan efektif jika sebagian masyarakat menyerukan STOP LGBT, tetapi masyarakat yang lainnya justru memfalisitasi. Oleh karena itu masyarakat tak boleh memberikan celah sedikitpun bagi munculnya gejolak seksual.

Peran Negara

Peran negara tentu paling besar. Sebab pada hakikatnya negara memiliki kemampuan untuk membentuk kesiapan individu, keluarga, serta masyarakat.

Selain itu solusi yang bisa diberikan oleh negara adalam memberikan sanksi tegas terhadap para pelaku LGBT yaitu dihukum mati, harus dicari dulu bangunan tertinggi di suatu tempat,

lalu dijatuhkan gay dengan kepala dibawah, dan setelah sampai di tanah di lempari dengan batu. Hal ini didasarkan pada hadits:

“Siapa saja yang menjumpai satu kaum yang mengerjakan perbuatan Nabi Luth maka bunuhlah pelaku dan teman  (kencan)nya,  (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)”.

Tujuan memberikan hukuman mati kepada pelaku Gay bukan sekedar untuk menyakiti, tapi itu adalah memberikan efek jera agar tidak lagi ada orang yang berani untuk melakukan tindakan LGBT, dan juga sebagai tebusan dosa di akhirat. 

Selagi sistem sekuler ini diterapkan, maka LGBT akan terus dilindungi, maka sudah sepatutnya kita campakkan sistem sekuler ini dengan sistem yang mulia, sistem yang meletakkan manusia sesuai fitahnya.[MO/gr]

Posting Komentar