Oleh : Masniati, S. Pd 
(Akademi Menulis Kreatif Bima)

Mediaoposisi.com-Munculnya berbagai macam acara untuk menghibur masyarakat saat ini adalah hal yang tak terelakan. Hiburan kekinian yang digemari sebagian masyarakat dan penikmatnya adalah stand up comedy.

Stand up comedy saat ini terbilang hiburan yang banyak diminati, terutama kalangan generasi muda. Bahkan, acara tersebut tayang di televisi. Dalam ajang tersebut, banyak tampil komika yang menjadi pesertanya.

Maka tidak sedikit para komika yang melejit namanya hingga naik daun sebab acara tersebut. Tapi, yang justru disayangkan adalah tatkala para komika menjadikan agama sebagai bahan guyonan mereka.

Jika sebelumnya, pelecehan agama Islam dengan kata-kata yang tidak pantas seperti kasus yang menyandung komika Ge Pamungkas dan Uus.

Tentunya guyonan mereka yang dinilai tersangkut isu agama mendapat kecaman dan protes keras dari kaum muslimin.

Namun sayangnya, kasus tersebut tak dijadikan pembelajaran bagi pencinta stand up komedi. Isu agamapun terus dijadikan sebagai bahan guyonan dalam materi stand up sebagian komika.

Sebagaimana dilansir gelora.co, Komika Tretan Muslim dan Coki Pardede yang pada akhirnya dipolisikan atas dugaan ujaran kebencian dan penistaan agama.

Dalam Surat Keterangan Penerimaan Pengaduan yang diterima Kiblat.net pada Senin (22/10/2018), pelapor menekankan bahwa Coki Pardede dan Tretan Muslim menyinggung kata "neraka" dan "cacing pita menjadi mualaf setelah daging babi disiram dengan kurma".

Sekilas, kata-kata mereka yang dianggap guyonan itu adalah hal sepele. Namun, kata-kata itu adalah bentuk pelecehan terhadap agama Islam yang agung.

Dalam tatanan kehidupan yang menjamin kebebasan bagi individu, seperti kebebasan berekspresi, menistakan dan melecehkan kesucian agama (baca: Islam) adalah hal yang biasa dan terus dibiarkan. Bahkan pelakunyapun tidak ditindak tegas.

Minta maaf selesai masalah. Jadi, sangat wajar jika pelecehan terhadap agama tumbuh subur. Kasus yang dilakukan oleh dua komika itu, hanyalah sebagian kecil dari penistaan terhadap agama.

Kita tidak boleh lupa, sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), telah menjauhkan manusia dari standar yang benar dalam berbuat. Standar perbuatan dalam sekulerisme adalah kemanfaatan. Sehingga, menghasilkan perbuatan yang salah jadi benar, yang benar jadi salah.

Acara hiburan "stand up comedy", yang akhir-akhir ini diminati kalangan generasi muda, dengan berbagai pernak-perniknya yang syarat dengan hal-hal yang melenakan.

Generasi muda ditarik dan dijadikan sasaran untuk dirusak. Mereka dibuat tertawa dengan guyonan-guyonan lucu, hingga generasi lupa dengan seabrek persoalan yang menimpa umat. Seakan kehidupan ini aman dan nyaman tanpa masalah.

Para komika yang sudah terlanjur diidolakan, terutama oleh generasi muda melalui materi-materi yang mereka buat, memframing bahwa Islam itu serius, kaku sehingga tidak mudah dan tidak menyenangkan khususnya kalangan generasi muda.

Pada akhirnya generasi semakin jumud dan tidak mau berpikir perubahan dengan Islam sebagai solusi.

Seolah Islam penuh dengan pengekangan terhadap kebebasan karena dianggap banyak peraturannya yang tegas. Hingga pada akhirnya, generasi muda anti dengan agama mereka dan tak serius mendalami agama.

Islam tak kaku sebagaimana anggapan sebagian orang. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa terikat dengan hukum-hukum yang bersumber dari Allah dan Rasulnya.

Islam tak melarang hiburan. Malah membolehkan hiburan itu selama tidak mendatangkan kemudharatan karena bertentangan dengan syari'at Islam. Bercanda dibolehkan, asalkan di dalamnya tidak ada kebohongan dan penghinaan atas agama.

Tauladan kita Rasulullah SAW, sebagai manusia biasa, kadang  beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bercanda.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri, dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau, untuk mengambil hati, dan membuat mereka gembira.

Namun canda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berlebih-lebihan, tetap ada batasannya. Bila tertawa, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula, meski dalam keadaan bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar.

Dituturkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:

"Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.

Islam agama yang sempurna dan paripurna, jika kita memahaminya dengan benar, makan akan tumbuh kecintaan kepadanya.

Namun kehidupan yang serba sekuler saat ini, justru menjauhkan Islam dari kehidupan manusia. Islam menakar perbuatan manusia berdasarkan hukum syara, yakni berdasarkan halal dan haram.
[MO/gr]

Posting Komentar