Oleh: Devi Yunita Sari, A.Md. 
(Alumnus Vokasi Unair Surabaya)

Mediaoposisi.com-Kasus kekerasan perempuan dalam rumah tangga masih menjadi kasus yang masif terjadi ditengah masyarakat. Menurut Komisioner Komnas Perempuan Adriana Venny dalam catatan tahunan Komnas Perempuan, kekerasan terhadap perempuan terus naik setiap tahun. Tahun 2017 tercatat 348.446 kasus, melonjak jauh dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 259.150 kasus (idntimes.com).

Kasus terbaru (3/10) di Samarinda terdapat seorang pria yang hendak membakar istrinya sendiri ketika terjadi pertengkaran dalam keluarga. Kejadian ini diawali dengan sang suami yang meminta uang kepada anaknya, namun anaknya enggan memberikan. Kemudian terjadilah pertengkaran dan sang istri hendak melerai dan membela anaknya, sehingga suaminya merasa kesal dan hendak membakar istrinya(tribunnews.com).

Sejatinya kasus yang semacam ini bukanlah kasus baru, namun kasus yang sudah pernah terjadi bahkan sering terjadi. Pemerintah sendiri juga telah menetapkan hukuman pidana bagi pelaku tindak kekerasan dalam rumah tangga dalam UU no.23 tahun 2004. Akan tetapi kasusnya masih saja terjadi bahkan semakin meningkat. Kasus ini juga tidak hanya terjadi di negeri ini. Negara-negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, Swedia, selain juga Afrika Selatan menjadi negara tertinggi kasus pemerkosaan terhadap perempuan (liputan6.com).

Memang wajar bila kekerasan terhadap perempuan terus berulang. Karena akar masalahnya justru tidak disentuh. Tidak bisa jika hanya memberikan solusi-solusi praktis yang  hanya menyelesaikan permukaannya saja, tanpa meneliti kedalamnya beserta hal-hal yang melingkupinya.

Kasus kekerasan perempuan dalam rumah tangga ini sejatinya muncul karena adanya sistem yang berkembang saat ini yaitu kapitalisme dimana segala sesuatu dinilai hanya berdasarkan materi (baca:uang)semata tanpa memperhatikan nilai-nilai yang lain seperti nilai akhlak, nilai kemanusian dan nilai ibadah.

Juga disebabkan adanya sekulerisme liberal yang menjadikan setiap orang bisa mengatur dirinya masing-masing bahkan tanpa mengindahkan apakah itu baik atau buruk, benar atau salah. Inilah yang mendegradasi peran-peran penting dari keluarga, masyarakat dan pemerintah yang berfungsi sebagai pilar terwujudnya keamanan dan kesejahteraan di tengah masyarakat.

Keluarga yang seharusnya memiliki peran untuk memberikan pengajaran terbaik kepada anaknya sehingga terbentuk kepribadian yang baik dan luhur malah memberikan contoh buruk terhadap anak. Keluarga juga yang seharusnya memberikan perlindungan dan rasa aman malah menjadi tempat tindak kekerasan.

Masyarakat memiliki peran membangun kesadaran publik akan kepeduliaan terhadap masalah yang terjadi di sekitarnya dan sebagai pengontrol sosial. Namun saat ini masyarakat bersikap acuh terhadap masalah yang terjadi disekitarnya sehingga kesadaran untuk peduli tidak terbangun. Ketika masyarakat tidak menjalankan perannya dengan baik, wajar kasus kejahatan sosial di tengah masyarakat terus meningkat.

Pemerintah merupakan pihak yang memiliki peran terbesar di dalam memberikan pengaturan dan pengurusan masalah yang terjadi di tengah masyarakat. Untuk itu sudah sepantasnya pemerintah memberikan kebijakan hukum dan pengaturan yang terbaik untuk permasalahan yang ada di tengah masyarakat, jeli dalam melihat masalah dan tegas melaksanakan aturan.

Kasus kekerasan perempuan dalam keluarga tidak hanya bergantung pada hukuman pidana terhadap pelakunya saja. Perlu diselesaikan juga perkara-perkara yang menjadi penyebab kasus ini. Seperti masalah ekonomi, pendidikan, degradasi iman, semua harus menjadi perhatian pemerintah.

Dengan terwujudnya peran sempurna dari tiga pihak yaitu keluarga, masyarakat dan pemerintah inilah yang bisa menjadi solusi terhadap kasus kekerasan seksual pada anak. Lalu bagaimanakah cara untuk mewujudkannya?   Mustahil terwujud ketika berada di sistem saat ini, karena setiap aturan yang diterapkan belum menjadi solusi yang hakiki.

Untuk itulah kita harus kembali pada sistem pengaturan yang mampu mewujudkan peran penting dari keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Sistem mana lagi yang mampu mewujudkan hal tersebut bila bukan sistem dari Rabbul Izzati, Allah SWT. Sistem Islam, sistem kehidupan terbaik untuk manusia seluruhnya. Maka, menghentikan kasus kekerasan terhadap perempuan mewajibkan kita untuk kembali kepada iman, bertaubat dengan takwa.

Pemerintah menerapkan aturan Islam secara keseluruhan, mulai dari ibadah hingga sanksi yang membuat jera. Masyarakat menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, tak diam ketika maksiat ditemukan. Keluarga dibangun dengan iman, anak-anak dididik untuk takut dosa dan mengejar ridho-Nya.

Itulah solusi sejati dan hakiki dari kekerasan perempuan, dalam rumah tangga maupun di tempat lainnya. Marilah menuju ke ampunan-Nya, Wahai manusia beriman![MO/sr]




Posting Komentar