Oleh; Cici Aprisa. S.Pd
(Muslimah Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com-Rentetan bencana alam terjadi silih berganti,belum kering luka dan pilu yang dialami saudara kita di Lombok, gempa alam dan tsunami kembali menguji saudara kita di Palu dan Donggala.

Melihat begitu banyaknya bencana yang terjadi, sampai hari ini kondisi dilombok belum pulih akibatnya banyaknya bangunan yang hancur akibat gempa ditambah lagi dengan korban bencana palu yang tentu akan membutuhkan banyaknya biaya untuk memulihkan kondisi yang ada.

Ditengah krisis ekonomi yang melanda negeri ini, dan anjloknya nilai rupiah terhadap nilai dollar As.
Bencana merupakan salah satu tanggung jawab negara, yang mana negara wajib membantu mereka yang sedang ditimpa bencana, namun karena tidak adanya biaya dari negara.

Akhirnya pemerintah membuka kran kepada asing seperti World Bank dan masyarakat internasional lainnya untuk memberikan bantuan kepada korban bencana Lombok,  Palu dan Donggala.

Nusa Dua-Bank dunia  (word Bank) berkomitmen untuk memberikan pembiayaan atau pinjaman kepada pemerintah Indonesia untuk mendukung proses rehalibitasi dan rekonstruksi bencana di Lombok dan Sulteng.

Chief Executif Bank Dunia, Kristalina Georgieva menyebutkan pembiayaan tersebut sebesar U$$ 1 milliar atau sekitar dengan Rp. 15 Triliun (Kurs Rp. 15.000). (Detik.com minggu 14 oktober 2014)

Menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia mengapresiasi perhatian dan dukungan seluruh kalangan terhadap bencana yang terjadi di Indonesia termasuk dari Masyarakat Internasional dan World Bank Grup ujar Sri Mulyani.(14/10)

Yang menjadi pertanyaannya, Indonesia yang kaya akan sumber daya Alam, namun mengapa tidak bisa membantu rakyat yang terkena bencana?Mengapa hal itu bisa terjadi? Dan Benarkah barat dan sekutunya benar-benar prihatin dan peduli  dengan kondisi Indonesia?

Tidak ada prinsip gratis bagi masyarakat barat, takkan mungkin mereka rugi kalau tidak ada manfaatnya. Karena sistem yang dianut barat berbasis kapitalisme yang mana mereka adalah berasaskan manfaat.

Begitupun dengan bantuan yang diberikan kepada Indonesia bukan hanya sekedar atas rasa iba dan prihatin semata,  namun ada keuntungan besar yang akan mereka raih disana yang disebut dengan kapitalisasi bencana, yang mana mereka memberikan bantuan.

Bukan semata atau dasar ibadan atas dasar kemanusiaan belaka tetapi karena ada keuntungan besar yang akan mereka dapatkan dari Indonesia, pinjaman dengan sistem bunga yang semakin tahun akan semakin menambah  hutang, dan mengurangi tingkat kesejahteraan rakyat.

Seharusnya Indonesia tak perlu bangga dengan banyaknya asing yang memberikan pinjaman kepada Indonesiakarena itu merupakan pertanda minusnya kemandirian pemerintah dalam mengurus negara dan abainya pemerintah dalam mengurus kepentingan umatnya.

Selain itu banyaknya pinjaman yang diberikan asing dalam penanggulan bencana, karena peminjaman tersebut adalah hutang yang menggunakan sistem bunga berbasis ribawi dan justru akan menjerumuskan negara ini dalam kubangan hutang.

Bahkan hutang tersebut pada beberapa negara berkembang justru menjadi beban yang seolah tak terlepaskan dan menyebabkan berkurangnya tingkat kesejahteraan rakyat..

Imf dan WB sudah sejak keduanya didirikan, telah menjadi alat ampu negara adidaya untuk mengekploitasi sumber daya negara-negara dunia ketiga dengan menunjukkan belasungkawa dan bantuan saat sebuah negara dilanda krisis.

Namun hakikatnya merampas sumber daya alam dan menghancurkan kedaulatan politik dengan hutang luar negeri dan akomodasi investasi hakikatnya, IMF dan WB merupakan alat untuk menancapkan hemogeni kapitalisme di negara ketiga.

Pemimpin adalah seseorang yang diamanahi tanggung jawab untuk mengurus urusan umatnya, maka ketika suatu negeri ditimpa bencana maka dalam membantu korban yang terkena bencana seharusnya pemerintah peduli danmengelola sumber daya alam yang dimiliki dengan sebaiknya.

Agar tidak  mencari bantuan kepada negara lain, apalagi dalam berbentuk sistem bunga.
Seharusnya kita memiliki lembaga keuangan tersendiri, dan pemerintah mengelola sumber daya alam yang kita miliki dengan sebaiknya.

Dan tidakmembiarkan asing dalam pengelolaan sumber daya alam, karena dengan itulah rakyat bisa sejahtera. Selagi sumber daya alam kita masih digeruk asing, maka kita akan terus dijajah danrakyat akan jauh dari kesejahteraan.

Selain itu pemberian kepercayaan oleh kepala negara kepada seseorang atau beberapa orang untuk mengelola kekayaan negara. Pengelolaan berhak atas sebagian keuntungan dari usaha yang dilakukan dan sebagai keuntungan lain diserahkan kepada negara.

Utang hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan negara yang betul-betul mendesak. Walau demikian utang merupakan jalan terakhir, setelah jalan lain tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Karenanya utang harus dilaksanakan secara selektif tanpa menetapkan sistem bunga.Utang luar negeri tidak bisa dijadikan prioritas, selama masih bisa dilaksanakan utang dalam negeri.

Begitulah seharusnya  negara tidak akan melakukan pinjaman luar negeri sebagai solusi dalam membantu korban yang tertimpa bencana, apalagi hutang yang berbasis bunga dan jika berhutang pun itu merupakan jalan terakhir dan bukan menjadi prioritas dalam membantu keuangan negara.

Namun itu.tidak akan bisa dilakukan dalamkapilisme hari ini, Maka sudah sepatutnya kita kembali kepada Sistem Islam, pengaturan hidup yang berasal dari sang pencipta, mari kita perjuangkan Sitstem yang mulia ini. [MO/gr]

Posting Komentar