Oleh : Irah Wati Murni, S.Pd

Mediaoposisi.com-Kalimat tauhid yang bertuliskan Bahasa Arab “Laa ilaha illallah” merupakan kalimat mulia bagi seseorang yang mengaku dirinya muslim.

Karena dengan kalimat itu ia hidup, dengan kalimat itu ia mati dan dengan kalimat itu ia kelak akan dihidupkan kembali. Saking agungnya kalimat ini, Rasulullah pernah bersabda dalam hadits qudsi dari Abu Sa’id Al Khudri:

“Wahai Musa, seandainya tujuh lapis langit bumi digabungkan dengan tujuh lapis langit dengan seluruh semestanya dan diletakan di sebelah timbangan kalimat Laa ilaha illallah, niscaya kalimat itu lebih berat melebihi semua itu.”

Kalimat tauhid juga merupakan salah satu kunci dari 8 pintu surga. Orang yang mengucapkannya bisa masuk surga lewat pintu mana saja yang dia sukai.

Dari ‘Ubadah bin Shomit ra, Nabi Saw. bersabda,”Barangsiapa mengucapkan ‘saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dnegan benar kecuali Allah semata,

tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan anak dari hambaNya dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dariNya dan (bersaksi pula)

bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya. Maka Allah pasti akan memasukannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim).

Masya Allah, sungguh betapa mulianya kalimat tauhid ini bukan? Tak heran, jika panji Rasulullah pun bertuliskan dengan kalimat mulia ini. Ada terdapat banyak hadits shahih atau minimal hasan yang menyebutkan bahwa al-Rayah (panji) Rasul berwarna hitam dan al-Liwa (bendera)nya berwarna putih.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku akan memberikan al-Rayah kepada seseorang yang, ditaklukkan (benteng) melalui kedua tangannya, ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menuturkan,” Al-Rayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam dan al-Liwa’ beliau berwarna putih.”  (HR. Al-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Thabarani dan Abu Ya’la).

Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu juga menuturkan,”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Makkah pada hari Fathu Makkah dan al-Liwa’ beliau berwarna putih.” (HR. Al-Tirmidzi, Al-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Ibnu Hajar al-Asqalani juga mengatakan dalam Kitab Fathul Bari,”Bendera Nabi bertuliskan kalimat tauhid.”

Dengan demikian, tidak bisa ditampik lagi akan kemuliaan bendera tauhid ini. Karena bendera tauhid mulia, maka orang yang membawanya pun turut merasa akan kemuliannya.

Mari kita lihat bagaimana peristiwa sejarah merekam tentang bangganya para sahabat ketika mereka memegang bendera mulia ini.

Rasakan dengan hati nurani betapa syahdunya perjuangan para sahabat dalam memegang bendera mulia ini. Bersikaplah jujur terhadap apa yang kau rasakan setelah membaca kisah mulia ini. Bayangkan kita melihat peristiwa itu di sana.

Kisah pertama dimulai dari sahabat Mus’ab bin Umair dalam peperangan Uhud. Pada Perang Uhud, Mush’ab bin Umair bertugas memegang bendera mulia ini.

Ia bertempur dengan sangat gagah berani dan sangat gencar melindungi Rasulullah Saw., dari serbuan Ibnu Qami’ah dan orang-orang kafir quraisy lainnya. Ia tak hanya melindungi Nabi Saw. dengan tubuhnya, tapi juga mempertahankan bendera perang itu di salah satu tangannya.

Saat bendera perang ada di tangan kanannya, orang kafir quraisy menyabetkan pedang ke tangan kanan Mush’ab hingga tangannya terputus.

Tak habis semangat, Mush’ab pun langsung memindahkan bendera itu ke tangan kirinya. Ia terus bertahan tak pantang menyerah membawa bendera mulia itu dengan menggunakan tangan kirinya sembari menghadapi serangan orang-orang kafir quraisy,

hingga orang kafir quraisy itu menyabet tangan kirinya hingga putus. Enggan untuk menyerah bendera mulia itu jatuh, kemudian Mush’ab membawa bendera mulia itu dengan cara ditelungkupkan di dada dan lehernya.

Ia melindungi bendera mulia ini jatuh ke tangan musuh islam, ia terus berusaha sampai titik terakhir hidupnya hingga ia pun terbunuh dan syahid. Adapun orang yang membunuhnya adalah Ibnu Qami’ah.

Kisah kedua, terjadi pada saat malam menjelang penyerbuan benteng Khaibar pada Perang Khaibar. Pada saat itu, Rasulullah Saw. bersabda,”Besok aku benar-benar akan menyerahkan bendera kepada seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya, juga dicintai Allah dan RasulNya.”

Maka para sahabat bergembira dengan kabar ini dan semua berharap agar bendera tersebut akan diserahkan kepadanya, hingga Umar bin Khattab berkata, “Aku tidak pernah menginginkan kebesaran, kecuali pada Perang Khaibar.”

Pada pagi hari itu para sahabat bergegas untuk berkumpul di hadapan Rasulullah Saw., masing-masing berharap akan diserahi bendera mulia itu. Namun, beliau bertanya,”Mana Ali bin Abu Thalib?”

“Wahai Rasulullah. Kedua matanya sakit, jawab mereka.

“Suruh dia kemari.!”.

Akhirnya Ali pun datang dalam keadaan sakit mata (trahom), lalu Rasulullah meludahi matanya dan sembuh seketika, seakan-akan tidak pernah merasakan sakit.

Beliau menyerahkan bendera perang dan berwasiat kepadanya, “Ajaklah mereka kepada Islam sebelum engkau memerangi mereka. Sebab, demi Allah,

seandainya Allah memberi hidayah seorang di antara mereka lewat tanganmu maka sungguh itu lebih baik bagimu dari pada onta merah (harta bangsa Arab yang paling mewah ketika itu).”

Kisah ketiga, tentang tiga sahabat yang gagah berani pada Perang Mu’tah. Dalam perang ini, Rasulullah Saw., menunjuk Zain bin Haritsah sebagai komandan pasukan. Beliau bersabda,”Apabila Zaid gugur, penggantinya adalah Ja’far. Apabila Ja’far gugur penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah.”

Sahabat yang memegang bendera perang pertama kali adalah Zain bin Haritsah. Ia bertempur dengan gagah berani dan heroik, hampir tak ada seorang pahlawan islam pun yang menandinginya.

Zaid terus-menerus bertemur dan bertempur hingga akhirnya ia terkena tombak musuh dan akhirnya terjerembab di tanah. Zaid pun mati syahid.

Kemudian bendera diambil alih oleh Ja’far bin Abu Thalib. Beliau juga bertempur dengan gagah berani, jarang ada bandingannya. Ketika pertempuran semakin seru, beliau terlempar dari atas kudanya dan kudanya terkena senjata.

Kemudian Ja’far terus bertempur hingga tangan kanannya putus terkena senjata lawan. Bendera ia alihkan ke tangan kiri dan terus bertempur hingga tangan kirinya pun putus terkena senjata lawan.

Kemudian bendera itu ia lilitkan di lengan bagian atas yang masih menyisa dan terus berusaha mengibarkan bendera hingga ia pun gugur di tangan musuh.

Setelah Ja’far bin Abu Thalib gugur, bendera diambil oleh Abdulullah bin Rawahah. Ia maju ke depan sambil menaiki kudanya. Awalnya ia terlihat seperti ragu-ragu, namun saat itu pula ia menguatkan diri.

Akhirnya Abdulullah bin Rawahah benar-benar turun dari punggung kudanya. Pada saat itu, sepupunya menghampiri dirinya sambil menyerahkan sepotong tulang yang masih menyisakan sedikit daging seraya berkata,

”Makanlah ini agar punggungmu bisa tegak, karena pada beberapa hai ini engkau menghadapi keadaan seperti yang engkau hadapi.”

Abdulullah bin Rawahah mengambil dan menggigitnya sedikit. Tetapi kemudian ia memuntahkannya lagi. Kemudian ia mengambil pedangnya lalu maju ke depan untuk bertempur hingga ia gugur.

Setelah ketiga komandan perang yang telah diwasiatkan Rasulullah gugur, akhirnya pasukan muslim menunjuk Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan. Maka setelah Khalid mengambil bendera, ia bertempur dengan hebat dan gagah berani.

 Akhirnya Khalid pun berhasil memimpin pasukan muslim memenangkan peperangan yang sengit tersebut.

Dari ketiga kisah di atas, maka benarlah bahwa bendera tauhid adalah kehormatan dan kemuliaan islam. Para sahabat pun berebutan ingin mendapatkan amanah untuk memegang bendera mulia itu saat perang bersama Rasulullah.

Bendera tauhid adalah izzah umat islam ini. Sebuah harga diri yang mulia dan agung yang menghiasai setiap relung jiwa seorang muslim. Banggalah terhadap bendera mulia ini!

Maka, janganlah takut atau antipati terhadap bendera tauhid yang mulia ini. Jangan merasa phobia melihatnya, apalagi menganggap bahwa bendera tauhid ini bendera teroris.

Sambutlah kemuliaan umat dengan mencintai bendera tauhid ini. Karena sesungguhnya, izzah islam ada di dalam bendera tauhid ini. 

Referensi bacaan: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuri[MO/gr]

Posting Komentar