Oleh : Umi Munib

Mediaoposisi.com- Generasi muda saat ini nampaknya tengah terjangkit penyakit krisis moral.  Indonesia yang notabene mayoritas muslim, nyatanya sedang mengalami degradasi moral yang cukup memprihatinkan, terbukti beberapa pekan lalu Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung, Dwi Hafsah Handayani, mengungkapkan temuan mengejutkan. Ia menemukan satu SMP di Lampung yang 12 siswinya hamil. Hafsah pun menyampaikan, ia pernah melakukan survei ke apotek di sekitar kampus dan daerah kos-kosan.

Dari survei tersebut diketahui, ada sekitar 100 kondom terjual dalam satu bulan.Kemudian di Cikarang, pihak sekolah di satu SMPN Cikarang Selatan berhasil membongkar jaringan mesum siswa-siswi mereka yang tergabung dalam satu grup aplikasi percakapan Whatsapp. Grup itu beranggotakan 24 siswa-siswi kelas IX dari berbagai kelas. Kasus itu terbongkar saat pihak sekolah merazia handphone milik siswa.

Berbagai percakapan tidak senonoh, berbagai video porno hingga ajakan berbuat asusila dan tawuran, beredar di grup tersebut.Tidak mau kalah kasus  LGBT  baru-baru ini juga terungkap adanya grup gay pelajar SMP di Garut. Menurut Wakil  Bupati Garut, sebagaimana dikutip Detik.com baru-baru ini, jumlah mereka ribuan.
       
 Selain rawan kehamilan di luar pernikahan, seks bebas di kalangan remaja juga berpotensi menimbulkan ancaman penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS. Ketua Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K) dalam seminar media Pekan Kesehatan Remaja di kantor IDAI, Jakarta, Jumat, 16 Maret 2018, menyebutkan ada 150 ribuan remaja Indonesia terpapar HIV/AIDS.
         
Berbagai  faktor yang menyebabkan remaja terjerumus dalam budaya seks bebas. Pertama: Peran keluarga sebagai tempat pendidikan dan pembinaan bagi setiap anggotanya, terutama anak-anak, tidak berjalan. Banyak orangtua lalai mendidik anak-anak mereka. Banyak orangtua malah menanamkan nilai-nilai sekular-liberal dalam keluarga.

Mereka memberikan kebebasan berperilaku bagi anak-anaknya. Keluarga macam inilah yang rentan terpapar pergaulan bebas, termasuk LGBT. Kedua: Masyarakat semakin kurang peduli. Sifat individualis telah mencengkram  corak kehidupan masyarakat. Banyak pemilik rumah kos, juga tetangga kanan-kiri, yang tidak lagi peduli dengan apa yang dilakukan penghuninya.

Akibatnya, perilaku seks bebas di lingkungan masyarakat seperti kos-kosan makin menjamur. Masyarakat pun seperti sudah menutup mata melihat remaja putra-putri berpacaran, bahkan pulang larut malam. Belakangan, masyarakat juga sudah seperti menerima bila ada pasangan yang menikah dalam keadaan hamil. Ini membuat kalangan muda tidak merasa takut lagi melakukan perzinaan.Ketiga: Negara abai terhadap pembinaan moralitas remaja.

Persoalan moral dipandang sebagai urusan personal, bukan menjadi tanggung jawab negara. Negara lebih banyak mengambil kebijakan kuratif, menangani korban pergaulan bebas, ketimbang mengambil tindakan preventif (pencegahan). Misalnya negara lebih sibuk menangani korban aborsi ataupun penularan penyakit kelamin, termasuk HIV/AIDS di kalangan remaja.
         
Penyebab utama  rusaknya moral remaja dan maraknya perzinaan ini adalah karena negara memberlakukan sistem kehidupan sekular-liberal. dimana setiap individu diperbolehkan untuk melakukan apa saja, termasuk dalam perilaku seksual, termasuk LGBT dan berbagai perilaku menyimpang lainnya . Nilai-nilai sekular-liberal itu sudah masuk ke tengah-tengah masyarakat lewat bacaan, tontonan, lagu-lagu, penyuluhan, dsb.

Dalam Islam zina adalah  dosa besar, bahkan sekadar mendekati zina pun dilarang, seperti ber-khalwat (berdua-duaan laki-laki dan wanita dewasa tanpa mahram), bercumbu, merayu, dsb.

Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

"Janganlah kalian mendekati zina. Sungguh zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk" (TQS al-Isra’ [17]: 32).
           
Islam mempunyai solusi tuntas terhadap permasalahan  rusaknya moral remaja termasuk perzinaan.

Pertama: Pencegahan pergaulan bebas pada remaja harus dimulai dari keluarga. Orangtua harus menjalankan fungsinya sebagai pendidik dan pembina anak. Nilai-nilai keislaman harus menjadi pedoman dalam pendidikan keluarga. Nilai-nilai sekular-liberal harus dicampakkan. Orangtua patut mewaspadai tontonan, bacaan dan orangtua wajib menanamkan pemahaman pada anak remaja mereka bahwa kedudukan mereka sudah menjadi mukallaf di hadapan Allah SWT. Artinya, amal perbuatan mereka kelak akan dipertangunggjawabkan di hadapan-Nya. Karena itu mereka wajib menjaga diri dari perkara yang telah Allah SWT haramkan.

Kedua: Masyarakat tak boleh membiarkan lingkungan tercemari seks bebas, khususnya oleh kawula muda. Sikap cuek terhadap kerusakan akhlak hanya akan menambah persoalan sosial dan mengundang murka Allah SWT. Nabi saw. bersabda:
إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

"Jika zina dan riba telah tersebar luas di satu negeri, sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan bagi diri mereka sendiri azab Allah" (HR Hakim).
           
Karena itu masyarakat tidak sepantasnya membiarkan seks bebas apalagi menerima itu sebagai kewajaran perilaku anak muda. Padahal itu adalah kemungkaran yang seharusnya dihentikan.Ketiga: Negara harus berperan dalam menjaga akhlak masyarakat, termasuk mencegah berbagai perbuatan yang mendekati zina.

Sekolah-sekolah harus mendidik dan memperingatkan para pelajar agar tidak melakukan aktivitas pacaran baik di lingkungan sekolah maupun di luar. Sanksi pun harus diberikan kepada para remaja dan pelajar yang melanggar aturan tersebut.Syariah Islam telah memperingatkan akan kerasnya sanksi untuk para pezina. Allah SWT berfirman:
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ...

"Pezina wanita dan pezina laki-laki, cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali cambukan"(TQS an-Nur [24]: 2).
           
Dengan demikian Tak ada lagi jalan keluar yang dapat menyelamatkan generasi muda dan masyarakat melainkan syariah Islam. Sudah saatnya kita kembali pada aturan-aturan Allah SWT yang telah menjamin kebaikan dan keberkahan hidup. Sungguh hanya dengan menerapkan syariah Islam secara kâffah, kehidupan dan kehormatan umat manusia akan terlindungi.[MO/sr]

Posting Komentar