Oleh : Tuti Daryanti
Mahasiswa STKIP Kusuma Negara

Mediaoposisi.com-Lagi dan lagi, umat islam tersakiti dan dibuat geram oleh para komika. Kali ini dua komika Tretan Muslim dan Coki Pardede yang menjadikan agama sebagai bahan bercandaan. Berawal dari video yang diunggah di channel youtubenya,

yang menjadi viral karena terdapat adegan dan perkataan yang menyinggung umat islam dan melecehkan syariat islam.

Adegan yang dinilai menyinggung umat Islam, diantaranya pertanyaan apakah ketika daging babi direndam air kurma lalu sari-sari kurma masuk ke pori-pori daging itu lantas cacing pitanya

jadi mualaf dan adegan ketika daging itu didekatkan ke telinga Coki dan Coki mengeluarkan celetukan dengan nada bercanda “neraka… neraka…”.

Sontak ulah kedua komika tersebut menimbulkan reaksi keras dari umat Islam yang menganggap keduanya melecehkan syariat islam.

Bukan hanya kali ini saja para komika berulah, sebelumnya beberapa nama sempat dilaporkan ke pihak berwenang atas kasus yang sama yaitu pelecehan terhadap agama islam seperti Joshua, Uus dan Ge pamungkas.

Namun sampai sekarang masih belum jelas kelangsungan kasus tersebut dan para komika tersebut masih bebas melakukan stand up comedy.

Stand up comedy memang menjadi acara yang diminati kalangan remaja beberapa tahun terakhir ini karena bercandaan para komika mampu membuat perut sakit karena tertawa bahkan ada ajang penca-rian bakat mencari yang terbaik melakukan stand up comedy dan disiarkan oleh stasiun tv nasional.

Pada praktiknya, di kalangan Komika atau Stand Up Comedian di Indonesia, umumnya para komika mengarang cerita alias berbohong agar penonton tertawa. Kalaupun ada unsur kebenaran dalam cerita, maka mereka akan melebih-lebihkan atau menambahkan cerita agar lucu.

Namun semua seolah tutup mata pada unsur kebohongan tersebut, yang menjadi standar penilaiannya apakah lawakan tersebut lucu, pecah atau tidak. Anak muda sekarang sudah terjerumus pada pembiasan mana yang benar, mana yang salah.

Tak apa bohong asal lucu daripada jujur tapi garing. Dan mirisnya pembiasan ini terjadi hampir disemua aktivitas remaja, mereka terbiasa dengan tayangan di televisi yang mempertontonkan budaya pacaran, hedonisme, dan pergaulan bebas

menjadi hal biasa walaupun kita tahu bahwa itu tidak sesuai dengan fitrah sebagai manusia dan dilarang oleh agama. Namun dikalangan anak muda hal-hal tersebut sudah menjadi kebiasaan yang lumrah dilakukan.

Inilah hal-hal yang dilakukan oleh musuh Islam kepada anak muda jaman sekarang di Indonesia. Ghouzul Fikri (perang pemikiran) sudah sangat terasa pada saat ini. Melawan orang-orang muslim pada jaman sekarang tidak harus dengan peperangan fisik akan tetapi dengan perang pemikiran.

Karena sesunggunya hasil dari perang pemikiran bukan berapa orang yang terbunuh akan tetapi bera-pa orang yang mengikuti. Mereka terus mengopinikan bahwa islam adalah agama yang kaku.

Ghouzul Fikri ini membuat pemuda muslim kehilangan jati diri sebagai seorang muslim dan kesulitan membedakan mana yang baik, mana yang buruk, mana yang benar mana yang salah, mana yang harus kita lakukan mana yang tidak boleh dilakukan.

Terbukti dengan banyaknya kasus kriminalitas yang menjerat pemuda muslim saat ini. Dan pelaku pelecehan pada kasus ini adalah seorang muslim tapi dengan wajah tanpa dosa menjadikan agama sebagai materi yang mereka anggap lucu.

Tentu ini tamparan keras untuk kita semua karena generasi islam saat ini hanya sebagai kaum pembebek dan kurang akan tsaqofah islam.

Pada dasarnya Islam tidak melarang lawakan atau bercerita lucu. Rasulullah Saw pun dikenal sebagai seorang yang humoris atau suka melucu. Namun, jika materi stand up comedy atau isi lawakannya berupa cerita bohong, maka hukumnya haram.

Rasulullah bersabda “Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 2315).

Apalagi jika lawakannya atau materinya berisi pelecehan atau penghinaan terhadap Islam, jelas diharamkan dan pelakunya berdosa. “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu),

tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66).

Kejadian berulang ini tentu membuat umat prihatin dan mempertanyakan penegakan hukum dinegara ini yang cenderung membiarkan dan tutup mata terhadap kasus yang seperti ini. Dimana peran pemerintah dalam menjaga agama yang dianut oleh warganya?

Apa yang dilakukan pemerintah agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi?

Kalau kita perhatikan belum ada tindakan yang signifikan yang dilakukan pemerintah. Seharusnya pemerintah bertindak tegas terhadap kasus-kasus seperti ini

karena sangat meresahkan umat dan sudah sewajarnya umat menjunjung tinggi syariat islam secara kaffah bukan dijadikan bahan olok-olokan.[MO/gr]

Posting Komentar