Oleh: Ayu Mela Yulianti, SPt
(Pemerhati Masalah Umat)

Mediaoposisi.com- Saat ini, Indonesia dan dunia mengalami krisis multidimensi. Kesenjangan sosial, kemiskinan, pengangguran, kasus-kasus asusila, korupsi, melanda hampir diseluruh negara, rata, sama, walaupun penampakan lahirnya berbeda.

Jika di Indonesia penampakan lahirnya berpeci, di Amerika dan negara Eropa lainnya berdasi, di Arab bersorban, namun kasus korupsi, rata hampir terjadi semua negara. Tersebab, adanya persamaan ideologi yang diemban yaitu saat ini semua negara diatur oleh aturan yang dibuat oleh hawa nafsu manusia belaka, menegasikan aturan agama dalam pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Akibatnya pastilah setiap aturan yang dibuat akan selalu berbenturan dengan aturan yang lain, selalu kurang tepat, dan menyisakan masalah bahkan  membuat masalah baru.

Ideologi yang membuat aturan kehidupan hanya berdasarkan hawa nafsu manusia belaka, seperti yang saat ini diemban oleh seluruh negara disebut idelogi sekuler kapitalis. Karenanya selalu ada istilah tambal sulam kapitalisme, sebagai akibat tidak sempurnanya ideologi ini dalam mencover dan menyelesaikan masalah.

Lihatlah di televisi, tiada hari pastilah memberitakan masalah masalah yang berujung pada krisis multidimensi ini, diseluruh dunia.

Jika kemiskinan dan kesenjangan sosial terjadi di Indonesia, maka hal yang sama juga terjadi di Amerika, Turki dan lain sebagainya. Jika diIndonesia terjadi kasus korupsi, maka hal yang sama pun terjadi di negara lainnya. Jika di Indonesia terjadi krisis ekonomi dan moneter, maka hal yang yang pun terjadi di Amerika dan negara lainnya. Jadi sangatlah naif, jika kita hanya mengatakan bahwa krisis multidimensi hanya terjadi di Indonesia, karena  dunia nyata dan dunia maya telah mengabarkan berita krisis multidimensi diseluruh negara.

Artinya, tidaklah bisa kita membenci seorang yang berpeci sebagai identitas muslim, yang terjerat kasus korupsi, misalkan. Tersebab kasus ini terjadi, bukan karena pecinya yang berakhir pada stigmatisasi negatif terhadap peci dan ajaran Islam.

Akan tetapi kasus korupsi ini terjadi karena adanya aturan yang tumpang tindih, aturan yang dibuat oleh hawa nafsu manusia belaka, yang memberi celah kepada manusia, apakah berpeci atau tidak untuk melakukan korupsi. Dengan kata lain sistem sekuler kapitalis telah membuat aturan yang memberikan celah kepada manusia untuk melakukan aksi korupsi, baik korupsi sendiri-sendiri ataupun korupsi berjamaah.

Karenanya, memang krisis multidimensi ini, tidak bisa tidak, harus diperbaharui dan diselesaikan dengan perombakan sistem. Dengan membuang sistem sekuler kapitalis yang nyata-nyata pencipta krisis multidimensi, dengan sistem yang mumpuni, yang tentu saja sebuah sistem yang tidak bermasalah, yang bukan berasal dari hawa nafsu manusia belaka. Sistem itu hanya ada didalam Islam.

Islam terlahir dan diciptakan oleh Allah SWT, sebagai pemberi solusi atas seluruh permasalahan hidup manusia.  Sistem Islam tidak bisa dicombain dengan sistem yang lain. Sistem islam sangat unik, mandiri dan sempurna, karenanya sistem Islam tidak bisa disisipi oleh sistem yang lain. Satu aturan dalam sistem Islam berkaitan dengan aturan yang lain.

Proses penggalian aturan dan hukum dalam sistem Islam disebut dengan proses ijtihad, dilakukan oleh seseorang yang sangat dan sungguh-sungguh paham dengan fakta yang terjadi dengan dalil-dalil syariat yang telah ditetapkan oleh Islam. Karenanya pemimpin dalam Islam afdholiahnya adalah seorang mujtahid.

Karenanya jika Indonesia ingin keluar dari krisis multidimensi yang melanda negeri ini, maka solusinya hanyalah dengan meninggalkan sumber pencipta krisis multidimensi ini yaitu sistem dan ideologi sekuler kapitalis. Biang kerok terjadinya krisis multidimensi.

Menggantinya dengan menerapkan aturan yang berasal dari tuntunan wahyu, yang terangkum dalam syariat Islam dalam sistem dan ideologi Islam. Karena hanya sistem dan ideologi Islam saja yang dapat menghilangkan seluruh krisis multidimensi ini. Hanya sistem dan ideologi Islam sajalah yang memiliki aturan dan peraturan hidup yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal manusia dan menentramkan jiwa manusia.

Karenanya hanya aturan Islam dalam ideologi Islam sajalah yang dapat menjaga kewarasan manusia, kehormatan manusia, kesucian dan kemuliaan seluruh umat manusia. Sebuah kewajaran karena sistem dan Ideologi Islam ini berasal dari tuntunan wahyu, dari Allah SWT.

Jikapun ada sebagian kalangan yang meragukan keampuhan sistem Islam dalam memberantas krisis multidimensi, maka sesungguhnya keraguan itu hanyalah berasal dari ketidaktahuan saja, berasal dari keberhasilan asing dan asing dalam menanamkan stigmatisasi negatif dan monsterisasi terhadap ajaran Islam, dibenak kaum muslimin,  sehingga kaum muslimin sendiri menjadi phobia terhadap ajaran agamanya sendiri dan antipati terhadap syariat Islam.

Karenanya, sungguh benarlah, sabda Rasulullah Muhammad SAW yang mengatakan tentang keutamaan ilmu dan menuntut ilmu.  Karena ilmu dapat mengikis dan menghilangkan ketidaktahuan manusia. Menyinari dan menuntun manusia dari jalan kegelapan menuju jalan terang benderang. Tentulah bukan sembarang ilmu. Namun ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang  berasal dari tuntunan wahyu bukan ilmu yang berasal dari hawa nafsu manusia belaka.[MO/sr]




Posting Komentar