Oleh: Ilma Kurnia P 
(Anggota Revowriter)

Mediaoposisi.com- Hampir satu pekan sudah bencana Gempa bumi dan Tsunami menimpa Provinsi Sulawesi Tengah tepatnya di Palu, Sigi dan Donggala. Sampai detik ini korban yang meninggal dunia tercatat sudah sekitar 1407 orang dari berbagai wilayah. Mereka kebanyakan tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa ataupun terseret arus tsunami. Selain itu jumlah korban luka berat bertambah menjadi 2.459 jiwa, sebanyak 113 orang dilaporkan hilang dan 152 orang tertimbun (Kompas, 3/10/2018).

Jumlah tersebut tentu masih ada kemungkinan untuk bertambah karena Tim SAR juga masih terus mencari dan melakukan proses evakuasi korban bencana gempa dan tsunami.

Ketika beredar berita musibah gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu banyak warga net memberitakan bahwa ni merupakan teguran dari Allah karena kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia di muka bumi ini.

Terlebih tepat pada tanggal 28-30 di daerah Palu akan dilaksanakan upacara Namomi dimana itu merupakan upaca Palu Nomoni dimana ini merupakan upacara adat untuk menolak bala dan meminta kesembuhan kepada sesuatu hal gaib dan bukan mengharap kepada Allah jelas ini bukanlah ajaran islam dan merupakan realita dari rusaknya aqidah manusia karena mempercayai selain Allah (musyrik). 

Selain itu disana juga sudah marak kalangan pelaku LGBT yang merajalela bahkan bebas melakukan pernikahan sesama jenis. Dimana padahal perbuatan ini merupakan perbuatan maksiat yang amat dibenci oleh Allah.  Kalau aqidah sudah rusak, maka perbuatan dosa dilakukan tanpa beban. Na’udzubilahimindzalik.....

Musibah merupakan ujian yang berasal dari kata al-baliyyah dan semua perkara yang dibenci oleh manusia. Dalam Lisan al Arab Imam Ibnu Mandzur menyatakan bahwa musibah adalah al-dahr (kemalangan, musibah, dan bencana). Sedangkan kaum muslimin yang beriman menempatkan musibah sebagai sebuah sunatullah. Dimana merupakan kemahakuasaan Allah di muka bumi.

Dari ujianlah Allah mengangkat kedudukan manusia bagi yang bersabar dalam menghadapinya hingga nantinya menjadi jalan bagi hambanya untuk masuk kedalam surga.

Namun, musibah juga bisa menjadi teguran tatkala terjadi kemaksiatan yang merajalela di kalangan manusia, enggan untuk melaksanakan dan patuh terhadap hukum Allah serta lebih mengutamanakan hawa nafsu tanpa memperdulikan halal haramya. Padahal Allah SWT berfirman didalam Alqur’an yang artinya:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka. Agar mereka kembali (kejalan yang benar)” (QS.Ar Rum: 41).

Saudariku dirahmati Allah, musibah yang terjadi ini sebaiknya menjadikan kita pembelajaran untuk diabil hikmahnya, dimana kita berusaha memperbaiki diri dari kesalahan ataupun kemaksiatan yang telah kita perbuatan hingga akhirnya Allah menegur kita di dunia.

Hal inilah yang menjadikan kita untuk bertaubat kembali mendekatkan diri kepada Allah dan berusaha untuk melaksanakan perintah Allah serta seraya memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Baik untuk diri sendiri ataupun kaum muslim seluruhnya. Manusia hidup dibumi Allah maka, janganlah melakukan perbuatan tercela dan kemaksiatan yang jelas-jelas dilarang oleh Allah.

Maka sudah selayaknya kita sebagai hambanya taat dan patuh terhadap perintah Allah dengan menerapkan kembali aturan Allah yakni islam secara kaffah. 

Karena dengan penerapan islam secara menyeluruh dapat meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita sehingga kita sadar bahwa seluruhnya yang ada dialam ini adalah milik Allah dan titipan Allah dan hanya kepada Allah lah semuanya ini akan kembali. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmatNya dari langit maupun dari bumi serta mengampuni segala dosa-dosa yang pernah kita perbuat.[MO/sr]

Posting Komentar