Oleh :Ani Herlina 
pendidik dan anggota di komunitas  Akedemi Menulis Kreatif.

Mediaoposisi.com- Di satu  sisi ada rasa syukur dengan di peringati hari santri nasional, itu artinya pemerintah sangat menghargai peran santri yang turut andil dalam  perjuangan merebut kemerdekaan bangsa ini.

Yang tentunya semangat para kaum santri dalam merebut kemerdekaan ini,mereka di motori oleh para ulama. Kita turut meng-apreasi dengan dirayakannya hari santri ini.  Para santri adalah agent perubahan dari masa kolonial menuju masa revolusi.

Perjuangan mereka yang di landaskan dengan tauhid yang mengkristal,maka sampailah Indonesia pada gerbang kemerdekaan. Tanpa perjuangan mereka Indonesia bukan apa-apa.

Sejarah memang kurang berperan menonjolkan para santri yang punya titik sentral dalam merebut kemerdekaan ini. Hanya sebagian kecil yang di ceritakan dalam sejarah perjuangan bangsa ini. Karena sejarah selalu di tulis oleh para pemenang.

Ketika sejarah di menangkan oleh para kaum nasionalis, maka kaum agamis terpinggirkan. Namun para pendahulu kita,tak lelah mengingatkan lewat cerita, menceritakan sepak terjang mereka dalam mengusir penjajah.

Hari ini di era milenial, hari santri jatuh pada tanggal 22 Otober, sebagian orang menyambutnya dengan gegap gempita. Tapi perlu di garis bawahi perayaan santri ini penuh dengan muatan politis. Jangan-jangan perayaan ini hanya sebatas seremonial.

Kita tahu menjelang pemilu suara santri selalu di manfaatkan oleh para pencari kekuasaan. Mereka sibuk memasuki pesantren meminta restu dan dukungan para ulama. Para simpul umat ini memiliki masa yang sangat luar biasa.

Hingga wajar jika pesantren termasuk ulama dan santrinya selalu menjadi target. Mereka ibarat kue lapis legit yang layak untuk diperebutkan.

Masyrakat Indonesia hari ini di buat terkejut dengan perbuatan kurang etis salah satu ormas yang mengaku paling cinta NKRI. Dengan dibakarnya bendera tauhid, membuat sebagian umat yang masih berada dalam kewarasannya bereaksi.

Hanya kebenciannya pada salah satu ormas yang di bubarkan oleh pemerintah membuat mereka berani membakar kalimat tauhid. Sungguh ini perbuatan yang sangat miris.

Ini salah satu ciri dimana umat sudah kehilangan Izzahnya. Sehingga simbol-simbol islam dengan mudahnya di hinakan, di injak-injak padahal mereka mengaku umat yang beriman.

Mengusung ormas besar Islam. Lantas dimana   adab dan ilmu mereka? Sikap mereka yang kasar dan anarkis tidak jauh beda dengan para preman bayaran, yang selalu memancing di air keruh agar umat bereaksi, hingga munculah politik adu domba.

Inilah bukti negara tanpa kontrol agama hingga melahirkan manusia-manusia beringas,kasar dan anarkis. Mereka lebih suka bermain kekerasan dari pada diskusi.

Mengedepankan emosi adalah cara menyelesaikan masalah. Dan bagi para penguasa orang-orang seperti ini di bela demi keutuhan NKRI. Padahal sejatinya mereka sedang memelihara ular berbisa yang sewaktu-waktu dengan racunnya akan memusnahkan mereka.

Hal yang paling menyedihkan ketika santri milenial tidak mengenal benderanya sendiri. Dalam khasanah Tsaqofah islam bendera tauhid ini sudah terlupakan. Padahal di masa Rasulullah bendera tersebut memiliki kedudukan yang sangat penting.

Dan Rasulullah pernah menyerahkan bendera tersebut kepada beberapa sahabat yang sangat pemberani, seperti Jafar Ath-Thiyaar, Ali Bin Abi Thalib, dan Mush’ab bin Umair.

Para sahabat ini benar –benar menjaga bendera tersebut dengan sempurna, bahkan menjaganya sampai titik darah penghabisan. Mereka menjaganya dengan penuh keimanan.

Karena panji tersebut memiliki kedudukan yang sangat mulia, di dalamnya bertuliskan kalimah tauhid, ‘La ilaha illa al-Aallah’ dan para sahabat sangat menantikan detik-detik rasulullah menyerahkan bendera tauhid yang penuh kemuliaan ini.

Tapi hari ini, karena kedunguan manusia-manusia yang sangat sombong, bendera tersebut dirobek, dibakar, dan di injak-injak.

Bendera tauhid di masa lalu adalah bukti kewibaan umat di mata musuh. Sehingga dengan berkibarnya Liwaa dan arroya membuat musuh menjadi gentar.

Berbeda dengan hari ini di mana umat yang sudah kehilangan perisai hingga kewibaan umat luntur, yang terjadi simbol-simbol agama berusaha untuk di berangus.

Perayaan hari santri ini harusnya bisa membawa perubahan bangsa menuju arah yang lebih baik. Bangsa yang sakit ini sangat membutuhkan penawar.

Kerusakan moral yang terjadi dimana-mana dengan merajalelanya kemaksiatan, harusnya peran pesantren, santri dan ulama memiliki peran yang signifikan untuk perubahan generasi. Sebagaimana mereka dahulu memiliki arti penting dalam sejarah kemerdekaan bangsa.

Tak sepantasnya para oknum menodai hari santri ini dengan tingkah polah mereka yang sangat jauh sekali dari ciri kaum beradab. Para santri dan ulama yang sudah berjuang untuk negri ini selayaknya memang di hargai.

Bukan di peringati dengan hal-hal yang mencoreng kaum santri. Semoga dengan kejadian ini mata umat semakin terbuka. Dan berjuang menumpas kedzaliman yang kian merajalela.Meminta pertolongan Allah untuk menolong agama-Nya yang terus di nista.

Hingga  kepongahan yang di gencarkan para kaum durjana bisa di redam dengan dakwah yang tak mengenal lelah. [MO/gr]




Posting Komentar