Oleh: Santuso
(pendidik dan pemerhati sosial)

Mediaoposisi.com-Semenjak 2015 silam, tanggal 25 Oktober menjadi momen khusus bagi umat Islam. Selama empat tahun terakhir, kaum muslim memperingatinya sebagai hari Santri Nasional. Namun, peringatan hari Santri Nasional yang baru-baru ini menyisakan sebuah catatan yang layak dijadikan pelajaran bersama.

Sebagaimana video yang viral di jejaring sosial, oknum berseragam banser terekam kamera melakukan aksi pembakaran bendera tauhid (viva.co.id, 22/10/2018).

Peristiwa yang terjadi saat perayaan hari Santri Nasional di Alun-alun Limbangan, Garut itu kemudian mendapat respon spontan dari umat muslim. Sejumlah umat muslim dari berbagai kalangan menyatakan sikap ketidaksetujuannya terhadap aksi pembakaran bendera berlafad Lailaha illallah, Muhammadar rasulullah itu. Mereka mengecam dan mengutuk lantaran aksi tersebut diduga telah melecehkan simbol Islam.

Mengetahui besarnya animo umat yang mengecam, sehari setelah aksi itu, oknum banser Garut akhirnya menyampaikan permohonan maaf (news.detik.com, 23/10/2018). Hal senada juga disampaikan oleh LBM PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta (news.detik.com, 23/10/2018).

Di samping itu, ketua umum PP GP Ansor turut memberikan klarifikasi terkait rekaman video pembakaran bendera tauhid (news.detik.com, 22/10/2018). Terlepas jujur tidaknya pernyataan Yaqut, umat sangat menyayangkan ulah sembrono mereka.

Berdasarkan pernyataan klarifikasi yang disampaikan Yaqut, setidaknya terdapat tiga hal yang perlu disikapi dari peristiwa itu.

Pertama, tidak benar jika bendera yang mereka bakar itu merupakan bendera HTI. Dalam klarifikasinya, Yaqut menjelaskan, oknum banser Garut membakar bendera tauhid karena disangka bendera HTI. Bendera tauhid tersebut sejatinya merupakan bendera rasulullah dan kaum muslim. Bendera tauhid terbagi menjadi dua jenis, yaitu al-Liwa dan ar-Rayah. Terdapat banyak dalil yang menjelaskan bahwa bendera tauhid merupakan bendera milik kaum muslim. Salah satu dalil tersebut ialah sebagai berikut.

Sungguh, besok aku akan menyerahkan ar-rayah ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai Allah dan Rasul-Nya.” Lalu Beliau menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib (HR Muttafaq ‘alaih).

Sebagai seorang yang belajar ilmu agama, santri sejati harus mengenal simbol-simbol Islam yang salah satunya ialah bendera tauhid. Jangan karena telah di-stigma oleh musuh-musuh Islam, menjadikan santri anti terhadap simbol Islam yang satu ini.

Kedua, tidak benar jika HTI merupakan ormas terlarang sebagaimana yang disampaikan LBM PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta. Fakta yang sebenarnya ialah Badan Hukum Perkumpulan (BHP) Hizbut Tahrir Indonesia yang dicabut oleh pemerintah. Pencabutan status tersebut tidak berarti HTI menjadi ormas terlarang.

Sebagai seorang intelektual, santri sejati dalam berpendapat tentu harus mengedepankan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tersebut tentu yang benar dan berdasarkan fakta, bukan asumsi yang salah kaprah yang menjurus kepada fitnahan belaka.

Ketiga, tidak benar jika HTI dianggap mempunyai paham anti-Pancasila sebagaimana yang dinyatakan Yaqut dalam klarifikasinya. Sesungguhnya yang dilakukan oleh HTI hanyalah dakwah. Dakwah HTI ialah menyampaikan ajaran Islam kepada umat, termasuk di dalamnya tentang khilafah. Telah banyak dibahas oleh ulama-ulama shalafus sholih bahwa khilafah merupakan ajaran Islam.

Sebagai seorang cendekiawan muslim, santri sejati seharusnya memahami tentang wajibnya menegakkan khilafah. Terlebih bagi santri yang menempuh pendidikan di madrasah aliyah, mereka tentunya akrab dengan kata khilafah karena dipelajari di mata pelajaran fiqih.

Alhasil, semoga peringatan hari Santri Nasional ini menjadi momentum untuk menjadi santri sejati yang mendukung terhadap Islam kaffah beserta simbol-simbol Islam.[MO/sr]

Posting Komentar