Oleh: Linda Ariesta

Mediaoposisi.com- Generasi Millenial merupakan generasi yang melek teknologi. Dilihat dari sudut pandang gaya hidupnya, mereka lebih cenderung hedonis. Generasi Millenial tidak bisa lepas dari teknologi terutama internet (media sosial). Media sosial sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari mereka, sebab melalui media sosial mereka dapat melihat perkembangan fashion hingga informasi ter-update.

Berawal dari situlah generasi millenial mulai krisis jati diri, sebab mereka meniru apa yang dilihat dari media sosial. Sehingga berubahlah pandangan hidup mereka tentang tujuan hidup hingga terjerumus kedalam pergaulan bebas, salah satunya zina.

Pergaulan remaja saat ini sangat miris sekali. Batasan-batasannya pun sudah tidak ada lagi. Ditambah lagi dengan berbagai kemudahan akses, seperti melalui telepon, sms, chatting dan situs jejaring sosial. Tersedianya sarana tersebut, maka saat ini pergaulan remaja pada umumnya menjadi lebih dekat dan mudah. Namun sangat disayangkan sekali, kemudahan di bidang teknologi  justru tidak dimanfaatkannya untuk hal-hal kemaslahatan namun sebaliknya untuk kemudharatan.

Pergaulan bebas kerap sekali terjadi di kalangan para remaja. Hal ini sudah menjadi  biasa dan bukan tabu lagi. Baru-baru ini Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung menemukan 12 siswi SMP di satu sekolah Lampung diketahui hamil dan diantara mereka sudah ada yang dinikahkan oleh orang tuanya.

Tak hanya terjadi pada pelajar saja, namun pergaulan bebas juga riskan terjadi di lingkungan kampus maupun kosan. Sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh Direktur PKBI Lampung Dwi Hafsah Handayani, hasil dari survey yang dilakukan adalah telah ditemukan barang yang terlaris terjual di apotek sekitaran kampus dan kosan yaitu kondom dan testpack (alat kehamilan). Dalam waktu satu bulan telah terjual 100 kondom. Hal ini sangat miris sekali.

(Sumber:http://lampung.tribunnews.com). Hal serupa juga terjadi di Kota kita tercinta Mojokerto. Kasus pencabulan terhadap santriwati yang diduga dilakukan kiai berinisial SL (55) pengasuh salah satu Pondok Pesantren Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto terus bertambah. Naudzubillah mindzalik. (Sumber: Suara Mojokerto.com/13/10/2018).

Dalam pandangan Islam pergaulan bebas merupakan salah satu hal yang dilarang. Sebab hal demikian memiliki dampak yang sangat besar terhadap dirinya sendiri  maupun masyarakat. Allah tidak akan melarang sesuatu yang tidak memiliki dampak terhadap manusia. Apalagi jika dampak tersebut buruk atau menyesatkan, pasti diharamkan dan sangat dilarang dalam Islam.
Melakukannya berarti keji karena sudah diberi akal namun tidak digunakan untuk berpikir. Dalam Al – Quran Surah Al Isra’ (32), “wa laa taqrabuzz zinaa" (Dan janganlah kalian mendekati zina) larangan untuk melakukannya jelas lebih keras lagi (sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji) perbuatan yang buruk (dan seburuk-buruknya) sejelek-jelek (jalan) adalah perbuatan zina itu.

Pernikahan setelah zina bukanlah suatu solusi. Hal ini tidak membuat jera pelakunya malah merajalela. Namun dalam Islam telah diatur hukuman yang layak diterima oleh para pezina, hal ini dimaksudkan agar para pelakunya jera dan bagi masyarakat lainnya takut untuk melakukannya.  Sebagaimana Firman Allah SWT (Q.S An-Nur [2:24]),

Pezina perempuan dan Pezina laki-laki, derahlah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah SWT., jika kamu beriman kepada Allah SWT. Dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.”

Hukuman tersebut untuk laki-laki atau perempuan yang berzina dan belum menikah, sedangkan bagi pelaku yang sudah menikah maka harus dihukum rajam hingga mati.

Islam bukan hanya sekedar agama yang mengatur terkait spiritual. Namun Islam juga merupakan sebuah ideologi yang layak untuk diterapkan di kehidupan dunia. Sebab Islam, dalam hal ini hukum syara’ telah mengatur semua aspek kehidupan manusia, baik dalam pemerintahan, ekonomi, pendidikan, politik hingga pergaulan pun telah diatur. Adapun batasan-batasan dalam pergaulan yang telah diatur oleh Islam, sebagaimana HR. Bukhari dan Muslim,

Dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah SAW. bersabda, Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan (yang bukan mahramnya), dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya...

Sebagai generasi millenial yang cerdas, bermartabat dan bertaqwa hendaknya memperhatikan adab-adab dalam pergaulan, niscaya akan selamat di dunia-akhirat.

Adab yang pertama yaitu perlu adanya menjaga aurat, baik laki-laki maupun perempuan. Menjaga aurat merupakan bagian dari tubuh yang harus dilindungi dan ditutupi agar terjaga dari pandangan lawan jenis.

"Aurat perempuan yakni seluruh  bagian tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan, sedangkan aurat laki-laki yaitu bagian tubuh antara pusar sampai dengan lutut. Agar aurat perempuan tertutup, maka diwajibkan untuk menggunakan jilbab dan pakaian yang dapat menutupi seluruh tubuhnya, termasuk menutupi bagian dada. Allah SWT berfirman, Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (aurat), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudungnya ke dadamya.” (QS.An-Nur [24:31]).

Kedua, saling menjaga pandangan. Pandangan laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya termasuk celah bagi setan melancarkan strategi untuk menggodanya. Pandangan pertama yang tidak sengaja diperbolehkan, namun pandangan selanjutnya haram hukumnya. Rasulullah SAW. bersabda yang artimya,

Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, bahwa Rasulullah SAW. bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib, Hai Ali! Janganlah kau ikut pandangan pertama dengan pandangan selanjutnya, karena yang pertama dimaafkan, tapi yang selanjutnya tidak.” (HR. Ahmad).

Ketiga menjaga hawa nafsu, sebagaimana hadist Rasulullah SAW, “ Dari Abdurrahman bin Yazid dari Abdullah ia berkata, Rasulullah SAW. mengatakan kepada kami, “ Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu ba’ah maka menikahlah karena hal itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, barangsiapa yang tidak mampu, hendaklah berpuasa karena hal itu dapat menekan hawa nafsunya.” (HR.Ahmad).

Dengan taat beribadah dan rajin berpuasa, maka pikiran dan hati kita menjadi bersih dan jernih.[MO/sr]


Posting Komentar