Oleh: Anisa Rahmi Tania, S.Pd 
"Aktivis Muslimah Jakarta Utara"

Mediaoposisi.com-Anak muda hari mungkin memang tidak bisa membayangkan, bahwa dulu orang-orang seusia mereka memiliki segudang prestasi mendunia yang hari ini tengah mereka nikmati jejaknya.

Mari tengok kisah Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Rasulullah menjadi komandan pasukan kaum muslimin dalam penaklukan Syam padahal baru berusia 18 tahun. Atau kisah Imam Syafi’i yang telah hafal Al-Qur’an diusia 9 tahun yang hari ini keilmuannya menjadi rujukan banyak umat islam dunia. Serta Ibnu Sina yang telah hafal Al-Quran diusia 5 tahun bahkan kemudian mampu menjadi bapak kedokteran dunia.

Tentu kita belum lupa kisah heroik Muhammad Al Fatih Sang Penakluk Konstatinopel dan mampu menjadi Sultan di usia muda. Juga kisah Zaid bin Tsabit yang dengan gagah berani mendaftar jihad di usianya yang baru 13 tahun, kemudian diperintahkan untuk menghimpun wahyu di usia 21 tahun. Itulah generasi-generasi Muda militan Islam yang gaungnya masih terdengar bahkan setelah ratusan tahun berlalu.

Masih banyak deretan para cendekiawan muslim yang di usia belia mereka mampu eksis di dunia dengan eksistensi yang luar biasa. Bermanfaat untuk umat. Jika dibandingkan dengan generasi sekarang, kalah jauh. Eksistensinya sama, tapi apakah bermanfaat? Menjadi selebgram, vloger, youtuber, ikut-ikut kontes stand up komedi, dan yang lebih miris mereka terjebak dalamperkumpulan-perkumpulan yang menyimpang serta menyesatkan dan merusak diri mereka sendiri.

Mungkin masih hangat di pemberitaan bahwa di garut dan tasikmalaya ditemukan grup facebook penyuka sesama jenis kalangan SMP dan SMA. Yang semakin membuat miris, pengikut grup gay tersebut tak tanggung-tanggung, hingga mencapai 2.600 orang anggota. Bagaimana masa depan bangsa ini jika generasinya terjebak dalam perilaku menyimpang  seperti itu?.

Pola pikir macam apa yang bersarang dalam benak para anak muda tersebut sehingga bisa terperosok pada pergaulan menyimpang itu. Hal ini tentu tak lepas dari bentukan sistem pendidikan yang diterapkan di negara ini. Karena sebuah pemikiran cemerlanglah yang bisa mewujudkan generasi gemilang. Sementara cetakan pemikiran generasi berkualitas tersebut tiada lain adalah sistem pendidikan sendiri.

Amat disayangkan, sistem pendidikan saat ini nyatanya telah gagal mencetak generasi gemilang. Kita lebih banyak di hadapkan pada segunung permasalahan generasi bukan pada prestasinya.  Artinya sistem yang saat ini diterapkan telah gagal mengentaskan permasalahan generasi.
Hal ini diperparah lagi dengan pemahaman rusak yang diimport dari Barat. Gaya hidup hedonistik, hura-hura, pemuja cinta, individualistik, pergaulan bebas, termasuk penyakit LGBT yang telah disinggung di awal.

Di sinilah kita ketahui akar permasalahan yang terjadi pada generasi muda bangsa hari ini. Sistem kapitalisme-sekuler yang diterapkan merupakan akar masalahnya. Dalam sistem ini generasi muda kita dicekoki berbagai candu dunia, kesenangan fana, pergaulan bebas, dan berbagai fatamorgana dunia yang menyesatkan.

Oleh karena itu, sudah seharusnya sistem kapitalisme-sekuler tak lagi dipakai dalam kehidupan kita. Sudah seharusnya sistem islamlah yang diterapkan baik dalam aspek pendidikan maupun dalam aspek kehidupan lainnya.

Karena fakta sejarah sudah membuktikan dengan jelas. Hanya dengan sistem islamlah bisa terwujud pribadi-pribadi cemerlang. Hanya sistem islamlah yang mampu melahirkan generasi nomor satu yang tak tertandingi di dunia keunggulannya oleh generasi lain sepanjang sejarah peradaban manusia.

Hal ini salah satunya karena dalam sistem pendidikan islam tidak diterapkan sistem dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Islam memandang kualitas generasi tidak hanya terletak pada keunggulan ilmu dan teknologinya, tapi juga spiritualnya. Sehingga pemahaman agama dan ilmu umum lainnya harus seiring sejalan.

Apapun profesi dan jabatannya. Maka tak heran jika dalam sistem islam terbentuk sosok ilmuwan namun fasih dalam agamanya, seorang pejabat tapi kental pula ilmu agamanya, atau rakyat biasa namun mendalam spiritualnya. Karena ilmu agama dan ilmu umum telah bersatu dengan niat yang sama yakni ibadah kepada sang Khaliq.

Demikianlah sistem pendidikan islam mampu mencetak generasi terbaik. Satu predikat yang sedari awal memang telah Allah SWT sematkan dalam firman-Nya.

“Kalian semua adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah”. (TQS. Ali Imran 110).[MO/an]

Posting Komentar