Oleh: Utha Mariska, S.Pd.
(Pemerhati Sosial, tinggal di Tangerang) 

Mediaoposisi.com- Jagad Nusantara sedang ramai memperbincangkan kasus pembohongan. Hampir seluruh elemen masyarakat, media mainstream, hingga tokoh politik ikut andil dalam masalah ini. Hal ini dikarenakan kebohongan ini bukan saja dilakukan oleh tokoh publik kepada masyarakat publik melainkan juga sarat akan kepentingan politik, tentu saja.

Diunggah pertama kali lewat media sosial bernama Swary Utami Dewi. Unggahan ini disertai sebuah tangkapan layar yang berisi dari aplikasi pesan WhatsApp pada 2 Oktober 2018 serta foto Ratna. Namun unggahan tersebut kini telah dihapus. Unggahan penganiayaan yang diterima oleh Ratna Sarumpaet kemudian mendapat respon. Salah satunya dari politikus Partai Gerindra, Rachel Maryam melalui akun twitternya di @cumarachel.

Tak hanya Rachel, kabar penganiayaan tersebut juga dibenarkan oleh Juru Bicara Tim Prabowo-Sandiaga Dahnil Anzar Simanjuntak. Konfirmasi berikutnya juga datang dari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Melalui cuitan di akunnya yakni @fadlizon, Fadli menegaskan Ratna Sarumpaet mengalami penganiayaan dan dikeroyok dua sampai tiga orang.

Tak berhenti di situ, Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus calon presiden 2019 Prabowo Subianto turut memberikan pernyataan mengenai kabar dikeroyoknya Ratna Sarumpaet pada Rabu malam, 3 Oktober 2018.

Setelah ramai pemberitaan tersebut, hoax tersebut kemudian ditanggapi oleh pihak kepolisian. Kepolisian melakukan penyelidikan setelah mendapatkan tiga laporan mengenai dugaan hoax itu.

Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, Ratna diketahui tidak dirawat di 23 rumah sakit dan tidak melapor ke 28 Polsek di Bandung dalam kurun waktu 28 September sampai 2 Oktober 2018. Setelah kepolisian mengelar konferensi pers menjelaskan persoalan itu, beberapa jam kemudian Ratna Sarumpaet juga ikut mengelar konferensi pers. Di sana Ratna mengaku bahwa kabar itu tak benar.

Sehari setelah itu, tepatnya pada Kamis malam, 4 Oktober 2018 sekitar pukul 20.00 WIB, kepolisian melakukan penangkapan kepada Ratna Sarumpaet. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono mengatakan penangkapan tersebut terkait dengan statusnya sebagai tersangka dalam kasus penyebaran hoax atau berita bohong (http//: nasional.tempo.co)

Kebohongan oleh satu oknum kemudian menjadi bahan perdebatan sengit baru antara dua kubu. Kubu petahana mengatakan bahwa kubu oposisi adalah kumpulan orang penebar hoaks dan dibalas oleh kubu oposisi yang mengklaim bahwa rezim petahana sudah melakukan kebohongan lebih besar semenjak menjadi kepala negara.

Dalam KBBI, bohong adalah kata adjektiva (sifat) yang berarti tidak sesuai dengan hal (keadaan dsb.) yang sebenarnya; dusta. Sedangkan menurut Wikipedia Bahasa Indonesia bohong adalah pernyataan yang salah dibuat oleh seseorang dengan tujuan pendengar percaya. Orang yang berbicara bohong dan terutama orang yang mempunyai kebiasaan berbohong disebut pembohong. 

Dalam kacamata Islam terutama sudut pandang pahala-dosa, berbohong merupakan perbuatan tercela serta masuk dalam kategori munafik.

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, "Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat"(HR. Al- Bukhari).

Maka jelaslah seorang Muslim seharusnya pantang berkata bohong/ berdusta karena yang dipegang darinya adalah kata-kata.

Berkata jujur, menepati janji serta amanah adalah akhlak yang dijunjung tinggi oleh seorang Muslim. Islam sangat memperhatikan dan mengatur secara rinci tiap detil aspek kehidupan termasuk di dalamnya masalah akhlak.

Sedangkan akhlak hanyalah bagian kecil dari hukum syariah. Itulah mengapa setiap Muslim dituntut untuk berilmu sebelum berkata dan berbuat. Apabila pemikiran dan tsaqofah telah mendarah daging ke dalam dirinya, maka akan muncul rasa takut untuk berbuat yang dapat mencelupkan dirinya ke dalam kubangan dosa.

Hal ini berlaku secara umum. Dari kalangan proletar hingga bangsawan, dari awam sampai tingkat penguasa yang memimpin pemerintahan. Maka, bukan hanya individu bertaqwa yang dapat mewujudkannya tetapi juga diterapkannya Islam kaffah dalam institusi negara sudah pasti meniscayakan generasi yang amanah dan terpercaya. [MO/sr]

Posting Komentar