Oleh : Ade Aisyah
Ibu rumah tangga, pemerhati generasi dan Kepala PAUD Siti Aisyah di Samarang Garut  

Mediaoposisi.com-Alkisah kaum Nabi Luth menetap  di sebuah daerah bernama Sadum (Sodom) yang masih berada di kawasan Yordania.  Kaum Sodom merupakan masyarakat dengan kerusakan moral parah. 

Mereka  senantiasa melakukan maksiat, yang paling parah yakni berhubungan sesama jenis . Laki-laki dengan laki-laki alias gayl  dan perempuan dengan perempuan alias lesbian. 

Nabi Luth pun diutus Allah di tengah-tengah kaumnya.  Beliau mengajak mereka beriman dan beribadah kepada Allah meninggalkan kebiasaan maksiat yang senantiasa mereka lakukan termasuk adat kebiasaan keji mereka yaitu melakukan homoseksual dan lesbian. 

Namun kaum Sodom tidak mengikuti ajakan Nabi Luth (Merdeka.com, 20 Juni 2017). Akhirnya Allah SWT menimpakan azab yang sangat berat.

Bumi di bawah kaki masyarakat Sadum bergetar dengan dahsyat.  Getaran itu lebih hebat dan kuat dari pada gempa bumi dan juga diiringi dengan angin kencang serta hujan batu yang menghancurkan kota Sadum dan masyarakatnya yang sesat. (ceritaislami.net, 16 April 2013)

Begitulah kisah kaum Nabi Luth berakhir dengan azab Allah yang sangat pedih.  Kini Perbuatan kotor lagi keji itu semakin banyak diikuti oleh generasi milenial yang mengkalim diri sebagai manusia modern.

Garut sebuah kota dengan julukan kota intan, kilaunya sekarang ternoda dengan perbuatan  serupa kaum nabi Luth. Adanya grup gay siswa SMP/SMA Garut di Facebook yang beranggotakan 2600 orang lebih, sampai 8 Oktober 2018 grup ini masih aktif. 

Soni MS, ketua Garut Education Watch mengaku prihatin atas fenomena ini. (kompas.com, 5 Oktober 2108)

Semua orang sepakat bahwa LGBT adalah prilaku rusak. Tak ada satu agama pun di dunia ini yang membolehkan LGBT. Prilaku rusak ini tidak begitu saja merebak di tengah-tengah masyarakat.

Apalagi masyarakat Garut yang terkenal cukup taat kepada agamanya. Prilaku rusak ini dihasilkan dari sistem sekuler (sistem yang memisahkan agama dari kehidupan) atas nama Hak Asasi Manusia (HAM).

Berlindung dibalik HAM dengan jargon kebebasan berprilaku dan berekspresi kaum LGBT ini terus mengeksiskan diri dan menyebarkan prilaku bejatnya di tengah-tengah masyarakat.

Penyebaran prilaku LGBT ini semakin luas dan menggurita karena mendapat dukungan global, badan-badan dan perusahaan-perusahaan besar dunia. 

Ditemukan di halaman  64 laporan “Hidup sebagai LGBT di Asia : Laporan Nasional Indonesia, yang merupakan hasil dialog  dan dokumentasi Komunitas LGBT Nasional Indonesia pada tanggal 13-14 Juni 2013 di Bali sebagai bagian dari prakarsa “Being LGBT in Asia” oleh UNDP dan USAID.
 
Dalam data tersebut diungkap bahwa sebagian besar organisasi LGBT mendapatkan pendanaan dari AusAID, UNAIDS dan UNFPA. Hivos, sebuah organisasi Belanda juga mendanai program jangka pendek terutama yang berkaitan dengan HAM LGBT. 

Anggaran ”Being LGBT in Asia” hingga September 2017 mencapai US$8 juta. Pada 5 Oktober 2015, Sekjen PBB Ban Ki Moon mengaku akan menggencarkan perjuangan persamaan hak-hak LGBT. 

Amerika Serikat juga menjadikan LGBT sebagai agenda penting negara adidaya tersebut. (Republika.co.id. 23 Desember 2017)

Sangatlah naïf jika kita berharap bisa menghadapi dan mengalahkan konspirasi global  tersebut hanya dengan seruan moral atau akhlaq saja yang sayup-sayup didengar atau bahkan malah malas didengar oleh generasi jaman now yang sangat jarang hadir di pengajian-pengajian remaja. 

Bahkan mereka alergi dengan kata pengajian.  Dengan demikian dibutuhkan kekuatan yang sebanding dengan kekuatan global tersebut berupa negara yang menerapkan sistem Islam Kaffah.

Negara dengan sistem Islam mampu menjauhkan generasi muda dari perbuatan-perbuatan keji dengan menerapkan sistem pergaulan Islam dan memberi sanksi yang membuat jera terhadap siapa saja yang nekad melakukan perbuatan kaum Nabi Luth tersebut.

Solusi teknis yang dipersembahkan oleh Islam untuk menjauhkan masyarakat dari LGBT tidak lain adalah dengan menguatkan keimanan dan menerapkan sistem pergaulan Islam dalam kehidupan secara praktis baik oleh individu, masyarakat dan negara.

Iman yang kuat akan mendorong seseorang untuk senantiasa mengikatkan segala aktifitasnya  dengan aturan dari Sang Pencipta. 

Sistem pergaulan Islam yang diterapkan negara pun tak berat lagi ditaati mulai dari haramya ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan), larangan khalwat (berdua-duan dengan bukan mahram).

Perintah menundukkan pandangan dan kewajiban mengenakan pakaina syar’i yakni yang menutup aurat dan berjilbab ketika beraktifitas di luar rumah.  Semua aturan itu dipatuhi baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Negara dengan sistem Islam Kaffah terdepan dalam menjaga ketakwaan masyarakatnya.  Negara hadir dengan menerapkan langsung sistem pendidikan Islam dan mencegah penyebaran konten-konten yang bertentangan dengan Islam.

Baik di media cetak maupun media digital seperti konten pornografi, LGBT dsb. Negara pun akan menjatuhkan sanksi yang tegas berupa 100 kali cambukan.

Bagi para pelaku zina “ghairu muhson” (yang belum menikah)  dan dirajam hingga menemui ajalnya bagi pezina “muhson” (yang sudah menikah).

Bagi para pelaku liwath atau LGBT akan dijatuhi hukuman mati. Tentu hal ini akan menimbulkan efek jera dan masyarakat yang bersih pun akan tercipta.

Itulah negara yang kita dambakan kehadirannya sehingga turunlah keberkahan dari langit  dan bumi kepada seluruh penduduknya.[MO/gr]

Posting Komentar