Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com- Beberapa kali suara tuntutan ganti presiden terdengar lagi setelah gerakan reformasi yang melengserkan satu regime paling lama berkuasa di negeri ini yang dimotori mahasiswa. Namun,  setelah ganti presiden, ternyata permasalahan negeri ini tidak ujung selesai bahkan tambah rumit. Bahkan ada sebagian merindukan pemimpin yang telah dilengserkan.

"Jek Enak Zamanku to." sebuah slogan yang sering dibaca pada sticker yang di tempel dikendaraan umum yang maknanya kepemimpinan yang dulu ternyata dianggap lebih baik padahal dulu gerakan untuk mengganti preseiden sangatlah besar.

Lalu apakah 2019 ganti presiden akan bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah negeri yang tidak ada ujung penyelesaian? Atau ganti sistem yang diperlukan negeri ini agar bisa keluar dari permasalahan yang tidak ada ujung pangkalnya, hutang menumpuk, nilai rupiah anjlok dan harga kebutuhan pokok melonjak tinggi serta tidak terjaminnya rasa aman bagi setiap warga. Banyaknya persekusi, kriminalisasi pada pihak yang aktif mengkritisi kebijakan penguasa bukti tidak amannya rakyat.

Sementara,  kesejahteraan rakyat tidak terjamin padahal mereka hidup disuatu negeri dengan kekayaan alamnya yang begitu melimpah yang seharusnya bisa mensejahterkan rakyatnya. Oleh sebab itu saatnya kita menyuarakan ganti sistem yang bisa menjadi solusi terbaik negeri yang kita cintai bersama ini. Kenapa harus ganti sistem?

Pertama, ganti president ternyata tidak cukup mampu menyelesaikan permasalahan negeri ini. Ibarat keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya. Terbukti, siapapun presiden terpilih tidak memberikan perubahan yang berarti. Kenaikan harga BBM dan naiknya kebutuhan pokok lainnya seolah olah menjadi kebijakan sistem yang harus dijalankan siapapun presidennya.

Kedua, biaya politik yang tinggi memicu banyaknya korupsi. Dalam sistem demokrasi, tujuan dari aktifitas politik adalah kursi kekuasaan. Segala cara dilakukan agar kekuasaan ada ditangan. Dan bukan rahasia lagi jika untuk mencapai kursi kekuasaan butuh biaya yang besar, sehingga ketika sudah berkuasa mereka akan berusaha dengan berbagai cara untuk mengembalikan ongkos politik yang sudah dikeluarkan dalam rangka meraih kekuasaan.

Jika tunjangan dan gaji tidak bisa mengembalikan ongkos politik yang sudah terlanjur dibayar, korupsi jadi jalan keluar. Apalagi mereka sudah terbiasa menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan mereka. Sementara, orang baik yang tidak mau melakukan cara curang tidak akan mungkin bisa memimpin karena sistem tidak memberi kesempatan mereka untuk maju. Sehingga hanya orang-orang ambisious yang nampu menghalalkan tujuan politiknya yang akan memimpin negeri ini.

Ketiga, hutang luar negeri yang berbasis riba tidak mampu membawa keberkahan hidup. Dari sejak negeri ini merdeka dan bernama Indonesia, hutang luar negeri telah menjerat negeri ini. Dengan jeratan hutang luar negeri, negeri ini tidak lagi bisa mandiri mengatur dirinya sendiri. Banyak kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat harus diterapkan karena desakan asing. Negeri ini tidak benar-benar merdeka, selama hutang luar negeri yang berbasis riba masih menjerat negeri ini.


Keempat, menerapkan Islam secara kaffah akan menjadi solusi fundamental dan terbaik untuk masalah kehidupan. Fakta sejarah menunjukkan bahwa khilafah mampu menjamin keamanan dan kesejahteraan rakyatnya.

Sementara pada sistem kapitalisme demokrasi, tidak terpenuhinya dua kebutuhan dasar, rasa aman dan kesejahteraan, sering menjadi pemicu memunculnya tuntutan ganti presiden. Namun pergantian presiden tidak mampu menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar rakyatnya. Oleh karena itu, sudah saatnya ganti sistem adalah solusi alternatif yang akan mampu menyelesaikan masalah negeri ini yang semakin rumit.[MO/sr]


Posting Komentar