Oleh: Aishaa Rahma

Mediaoposisi.com- Kemajuan teknologi saat ini ternyata tidak berbanding lurus dengan kemajuan peradaban, semakin hari justru meningkat kian pesat saja dengan berbagai model masalah.  Kasus yang baru ini menghebohkan jagad maya adalah temuan dari direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung,  Dwi Hafsah Handayani, yang mengaku terkejut atas kondisi di sebuah SMP daerah Lampung. 

Dilansir TribunLampung.co.id, Selasa  (2/10/2018),  Hafsah mengatakan ada kejadian di salah satu SMP di Lampung terdapat 12 siswinya yang hamil. Siswi tersebut terdiri dari kelas VII, VIII, IX. Selain itu, Hafsah pun pernah melakukan survei ‘kecil’ ke apotek di sekitar kampus dan kos-kosan. Dari survei tersebut diketahui sekitar 100 kondom terjual dalam sebulan!

Kasus kenakalan remaja yang lain, terjadi di SMPN cikarang selatan yang membongkar jaringan mesum para pelajar yang tergabung dalam grup WhatsApp All Star, dimana grup tersebut beranggotakan 24 siswa-siswi dari berbagai kelas. Temuan tersebut terkuak ketika sekolah melakukan razia handphone milik para siswa. Berbagai konten porno, ajakan asusila hingga tawuran, menjadi topik dalam grup tersebut.

"Setidaknya ditemukan ada 42 video porno di grup WA itu. Kemudian ada ajakan mesum. Ajakan itu dikuatkan saat sang guru menelusuri lebih jauh dan ditemukan ada obrolan pribadi via WA yang mengajak berbuat mesum, siswa dan siswi yang masih satu sekolah," kata Komisioner KPAD Kabupaten Bekasi Muhammad Rozak, di Cikarang, Kamis (4/10).

Ditambah pula dengan maraknya komunitas LGBT di kalangan pelajar, semakin menambah deretan kebobrokan yang muncul.  Jika dulu masih tabu, kini sudah putus urat malu, seolah pilihan hidup yang patut diperjuangan.

Dilansir dari Tribunjabar.id (9/10/2018) ditemukan kelompok grup gay yang membuat warga dan orangtua resah. Berdasarkan hasil penelusuran tribun jabar, terdapat 4 grup gay di Facebook, bahkan satu diantara 4 grup tersebut di khususkan bagi siswa SMP dan SMA. Tak tanggung tanggung, jumlah 2 grup diantaranya beranggotakan lebih dari 2500 pengikut. 

Kondisi darurat akhlak ini sejatinya sudah ada sejak dulu dan belum mendapatkan penanganan yang tepat.   Beberapa berita di atas hanyalah contoh kecil, dan bukan tidak mungkin  ibarat gunung es yang nampak hanya puncaknya. Dan bisa jadi ada di lingkungan anak remaja di daerah yang dekat dengan sekitar  kita.

Persoalan yang semakin majemuk tak dapat dipungkiri karena pengaruh teknologi yang berkembang pesat, ditambah dengan kemudahan mengakses internet, para remaja sebagai penduduk digital saat ini begitu akrab dengan gadget, laptop, smartphone dan media lainnya. Sayangnya hal tersebut tidak menjadi perkara serius bagi para orangtua. 

Ortu dari generasi ini gagap menyikapi  perubahan jaman. Tanpa kesiapan menghadapi bahaya yang bersumber dari media digital yang mengancam anak anak mereka.  Bahkan –kadang- orangtua hadir sebagai racun dengan memfasilitasi tanpa diimbangi dengan pengetahuan akan bahaya di balik gadget dan media digital yang lain.

Munculnya generasi muda yang pemikirannya masih karbitan, dengan wujud fisik  yang dewasa tapi kejiwaan tak tumbuh sesuai usia.  Bisa jadi banyak disumbang oleh faktor keluarga yang salah asuh seperti di atas.  Mereka tak mendapat hadlanah (pengasuhan) yang benar dari orangtua, malah digantikan oleh perangkat digital sebagai nany.

 Lebih-lebih, pemikiran sekulerisme yang merebak di masyarakat, karena negara menerapkannya secara sistemik.  Inilah biang kerok paling layak ditunjuk sebagai penyebab lain dari kerusakan yang menggerus remaja era digital ini.   Karena telah memformat mereka agar jauh dari nilai spiritual dengan mengobrak abrik fitrah yang paling mendasar, yaitu pemenuhan biologis dengan alasan yang jauh dari logis!.

Bahkan maraknya kampanye kesehatan imbas dari pola kebebasan ternyata bukan membuat efek jera, malah menambah deretan sosialisasi yang salah kaprah.  Dengan mengenalkan alat kontrasepsi pada belia, atau seminar seminar tentang pacaran sehat. Gila bener! 

Walaupun telah nyata cacat moral yang menjamur pada generasi millennial ini, namun secara faktual masih banyak yang tidak peduli dan menolak upaya perluasan makna zina dan upaya kriminalisasi L6BT.   Dengan keras kepala mereka pun membela bentuk pornografi dan pornoaksi dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM). Seolah perawan di era sekarang termasuk manusia yang jadul alias ketinggalan jaman.

Perlu Komitmen Keluarga
Sudah tak dapat dipungkiri, kecanggihan teknologi telah menimbulkan problem serius bagi keluarga muslim. Menjauhkan dari pornografi begitu susah apalagi memberantasnya. Dibutuhkan komitmen yang kuat untuk membentengi keluarga dari ancaman multilateral. Meskipun negara memiliki undang undang ITE (Informasi Teknologi dan Elektronika) maupun KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), bahkan keberadaan LSF (Lembaga Sensor Film), ternyata belum sanggup menghentikan pornografi masuk kedalam celah celah keluarga.

Persoalan teknologi sendiri sudah menyulitkan pemerintah dalam melakukan pengawasan internet. Meskipun sebenarnya persoalan mendasar dari pornografi yang tak ada habisnya hingga kini, tak lain karena kesalahan pada ideologi yang  diterapkan di tengah masyarakat. Sebab batasan-batasan yang ditentukan oleh pemerintah jelas disusupi ide sekulerisme dengan hasil rancangan yang memiliki berbagai kepentingan (profit). Lihat saja tayangan film, iklan dan fashion, seolah menjadi kultur budaya ketimbang menganggap pornografi maupun pornoaksi sebagai aib yang meremukkan sendi peradaban.

Sungguh saat ini keluarga adalah benteng terakhir, menjaga generasi.  Allah telah berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (TQS. At-Tahrim: 6).

Perlu komitmen di keluarga muslim untuk menjauhkan diri dari bahaya yang mengintai. Tidak hanya media, tapi seluruh pemikiran dan peradaban rusak yang dibawanya. Untuk itu mereka perlu mewujudkan 8 (delapan) fungsi keluarga muslim ideal yaitu fungsi reproduksi, ekonomi, sosialisasi, protektif, rekreatif, efektif, edukatif,  relijius (Islam kaffah). 

Dari keluarga ideal yang selalu mengkaitkan dan mengupayakan amalnya sesuai Islam maka akan lahir generasi unggul yang tak mudah silau oleh gaya hidup dan kemajuan teknologi jaman now.  Malah akan menjadi anak muda yang bijak menyikapi kemajuan.

Namun ketika kesadaran akan pentingnya peran keluarga pun tergerus oleh keadaan,  bahkan dipaksa terabaikan oleh sistem Kapitalis demi alasan pertumbuhan ekonomi. Di mana para ibu dan ayah sama-sama didorong keluar mencari nafkah, di sinilah mengapa selalu dipahami bahwa tak pernah cukup berharap pertahanan itu di keluarga saja. Merubah sistem yang rusak ini harus menjadi agenda keluarga muslim berikutnya, agar generasi keturunan kita terselamatkan dari peradaban jahiliyah yang diselimuti istilah modern kini.

Sistem Islam (Khilafah) dengan seperangkat sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem persanksian, juga sistem pergaulan (sosial) antara laki-laki dan perempuan yang menjaga marwah (kehormatan) keduanya. Sistem ini adalah sebuah perlindungan ideal bagi generasi, agar tumbuh menjadi generasi yang tak gagap terhadap kemajuan teknologi. Sekaligus cerdas, dewasa dan bijak mengendalikan prilakunya. Patokannya ideologi Islam.

Maka tunggu apalagi, kita harus bersegera mencampakkan sistem dan peradaban sampah yang merusak dari Barat Imprealis.  Karena merancang solusi dengan tetap mepertahankan biang kerok masalahnya, bagaikan pungguk merindukan bulan. Hanya dengan Islam akan dituai solusi paripurna.  Insha Allah.[MO/sr]


Posting Komentar