Oleh: Kusmini A.Md
( Pemerhati masalah social dan keluarga )

Mediaoposisi.com- Lampu sen ke kanan tapi belok ke kiri …. Itu lah kata – kata yang sering diungkapkan untuk menggambarkan perempuan terutama ibu – ibu. Erat melekat seolah yang akan di lakukan seorang perempuan itu perbeda antara fikiran dan tindakanya. Tetapi pada kenyataanya di sisi lain keberadaaan perempuan di cetuskan untuk membantu perdamaian dunia.

Perempuan adalah mahluk Allah yang lemah, memiliki peran yang sangat besar dalam keberlangsungan kehidupan. Entah seperti apa jadinya jika dalam kehidupan ini tidak ada sosok perempuan. Dia sebagai sekolah pertama bagi anak – anaknya sejak dalam kandungan sampai beranjak dewasa.

Maka dari itu tidak bisa diremehkan keberadaan perempuan,  sebagai pencetak generasi penerus keberadaan umat.Kenyataan pada masa sekarang persamaan gender banyak di kampanyekan  oleh  barat, perlahan tetapi pasti merasuk dalam pemikiran  wanita muslimah. Sehingga alih fungsi hak dan kewajiban perempuan menjadi bergeser. Jumlah perempuan di dunia ini sangat banyak di bandingkan dengan laki – laki, oleh karena itu keberadaanya sangat menentukan baik atau buruknya suatu bangsa.

Mentri Retno LP mashudi mengatakan bahwa dunia memerlukan lebih banyak perempuan peacekeeper  atau penjaga perdamaian, di daerah konflik dan pasca konflik. Secara tradisi mereka lebih nyaman jika berhubungan  dengan  perempuan ( m.republika.co.id 25/9/2018). Pada dasarnya korban terbanyak saat perang dan pasca perang adalah perempuan dan anak – anak oleh karena itu keberadaan Peacekeeper sangat diperlukan ( m.detik.com 25/9/2018).

System kapitalisme tidak hanya mengeklploitasi perempuan dari segi ekonomi saja, tetapi telah bertambah sebagai pembantu perdamaian dunia. Dengan alasan apapun program ini hanya akan manambah rumit dan mengalihkan fungsi perempuan. Dalam kondisi perang atau pasca perang sangat riskan jika perempuan dijadikan salah satu garda perdamaian.

Sungguh miris program ini diopinikan dengan alasan dilapangan meningkatnya  keberadaaan peacekeeper. Siapa yang berani menjamin keselamatan dan kehormatan perempuan penjaga pendamaian ini. Sementara kondisi daerah konplik rawan sekali dengan perkosaan dan tindakan asusila l.

Apakah ada jaminan secara nyata bahwa mereka akan terjaga keselamatan dan kehormatanya. Dan harus kita ketahui bersama juga apakah ada jaminan bahwa fungsi hak dan kewajiban mereka secara pribadi dan keluarganya sudah terpenuhi. Dalam islam perempuan adalah pihak yang sangat dijaga kehormatanya, bukan sebaliknya. Penjagaan terhadap perempuan sangat dijungjung tinggi, baik dalam lingkungan terkecil dalam keluarganya, sampai pada lingkungan luar rumah apalagi daerah konplik.

Perang pada masa sekarang adalah perebutan daerah yang sumber daya alamnya melimpah atau daerah yang tidak mau takluk terhadap aturan barat. Sehingga dalam kenyataanya anak - anak dan perempuan menjadi korban utama. Padahal dalam islam anak dan perempuan dilarang untuk di sakiti. Bahkan pohonpun dilarang untuk di rusak, begitulah islam mengatur sampai hal terkecil dalam peperangan.

Rasa rakus ingin menguasai dunia dengan jalan perang demi keuntungan dan kepuasaan hawa nafsu adalah kejahatan nyata. Tidak akan tercetus pemikiran perempuan adalah pembantu perdamaian  jika menggunakan aturan islam. Pemikiran itu hanya buah dari penerapan system kapitalis yang sangat merugikan kehormatan dan keselamatan perempuan.

Perdamaian di dunia ini akan tercipta dengan menggunakan system Islam, semua lini kehidupan diatur dengan aturan Allah. Alquran dan Sunnah sebagai tuntunanya menjadi tolak ukur dalam prilaku kehidupan manusia. Jauh dari menghamba terhadap hawa nafsu yang membabi buta.[MO/sr]









Posting Komentar