Oleh : Safa Marwa
Ibu Rumah tangga dan anggota Komunitas Revowriter
Lampung

Mediaoposisi.com- Ramainya topik tentang Emansipasi wanita disetiap kesempatan. Seperti setiap tanggal 1 April tak pernah basi untuk dibahas. Berbicara tentang emansipasi semua tertuju pada sosok RA Kartini.

Wanita kraton istri pejabat bupati dimasanya. beliau ditetapkan menjadi salah satu pahlawan nasioanal.

berawal dari keprihatinannya melihat perempuan dimasanya yang terkungkung dirumah, tidak boleh mengeyam pendidikan tinggi istilahnya wanita zaman dahulu harus dipingit, segala aktifitasnya terbatas.

Kemudian Segala keluh kesahnya tentang ketidak adilan  itu, dia curahkan kepada sahabatnya nan jauh dinegeri belanda melalui surat. Setelah dia wafat kumpulan suratnya dibukukan dan menjadi inspirasi wanita masa kini, sebagai salah bentuk perjuangan beliau akan nasib para perempuan.

Merujuk pada kamus bebas bahasa Indonesia, Emansipasi bermakna kesamaan hak dan kedudukan. Atau bermakna siapapun boleh berkiprah dalam segala bidang tanpa melihat gendernya atau tepatnya kesetaraan gender.

Alasan feminisme ini begitu gencar dikumandangkan. Karena sampai saat ini masih banyak kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada kaum hawa. Perempuan masih dianggap sebelah mata ketika berkiprah di ruang publik. 

Sehingga munculah undang-undang yang tujuannya membantu para perempuan agar mudah untuk mencapai cita-citanya.

Salah satunya adalah undang-undang no 31 tahun 2002 tentang partai politik dan Undang-undang no. 12 tahun 2003 tentang pemilihan umum. Undang undang ini mendorong kaum wanita ikut berpolitik agar dapat memperjuangkan segala haknya diparlemen.

Menurut para pejuang feminis, wanita harus memiliki hak yang sama seperti laki-laki. Perempuan tidak boleh hanya ada dirumah, mengurus dapur dan sumur saja.

Aturan yang membatasi ruang gerak wanita didepan umum harus disingkirkan.wanita harus di berberdayakan dan produktif agar membantu menopang ekonomi keluarga.

Emansipasi adalah sihir para kapitalis, di sistem sekarang ini perempuan berdiam diri dirumah adalah sebuah bentuk kemunduran.

Hanya  akan menjadi beban suami dan keluarganya, maka upaya yang harus dilakukan adalah mengeluarkan perempuan dari rumah dan bersaing dengan kaum laki-laki.

Maka jadilah perempuan menjadi peran ganda dalam kehidupannya. Sebagai tulang punggung juga mengurusi keluarganya. Kewajibannya mengurusi rumah dan keluarga digantikan oleh pembantu dan babysister. maka menjamurlah tempat penitipan anak bagi ibu-ibu yang sibuk bekerja.

Sekilas ibu bekerja adalah salah satu solusi. Karena tuntutan kehidupan di sistem kapitalis ini amatlah sulit. Gaji suami kadangkala tidak mencukupi untuk membayar sandang dan pangan yang terus naik.

Namun,solusi yang diambil oleh wanita bekerja banyak memuncul kan problematika dalam kehidupan berkeluarga. Rumah tangga yang tidak terurus dengan baik. Anak-anak kurang kasih sayang.

Bahkan tingkat stress yang semakin tinggi terhadap perempuan bekerja menyebabkan hubungan suami isteri tidak harmonis.

Menyoal mengapa begitu semangatnya kaum perempuan memperjuangkan haknya, sejak dulu wanita selalu berada diposisi yang paling rendah di banding laki-laki.

Sejarah kelam mencatat wanita adalah sosok makhluk yang tidak berguna. Diarab mengubur bayi perempuan adalah kebiasaan bangsa arab jahiliah, karena bagi mereka bayi perempuan adalah pembawa sial.

Bahkan bangsa eropa dimasa kegelapannya menjadikan wanita hanya sebagai objek seksualitas saja. Begitu buruknya perlakuan wanita dimasa itu.

Hingga saat inipun, cara pandang itu tidak berubah. Dialam sistem kapitalis seperti saat ini, emansipasi sebuah keharusan. cara pandang para perempuan telah berubah.

Sistem kapitalis telah berhasil mengubah cara pandang perempuan , terhadap dirinya sendiri. Kemuliaan seorang perempuan hanya pada ukuran materi. Dalam sistem kapitalis perempuan mulia jika dirinya juga menghasilkan materi layaknya laki-laki. 

Emansipasi adalah bukti sebuah kegagalan sistem kehidupan yang diterapkan saat ini.  sistem yang gagal mengatur kehidupan laki-laki dan perempuan. Tuntutan emansipasi membuktikan ketimpangan yang muncul ditengah kehidupan bermasyarakat.

Paradigma yang di hembuskan bahwa perempuan yang tidak produkti adalah perempuan yang bodoh. Sehingga berkembang ditengah masyarakat perempuan harus berpendidikan tinggi agar mendapat posisi yang baik layaknya kaum pria.

Berbeda halnya Dalam sistem islam, kemuliaan seorang perempuan tidak pada pencapaian materi. Perempuan diciptakan   diciptakan sebagai pelengkap bukan pesaing. Laki-laki diciptakan dengan fisik yang lebih kokoh dari perempuan, jadilah dia pemimpin.

Perempuan dengan fisik yang lemah lembut jadilah dia pelengkap. Keduanya saling melengkapi. Karena masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan.  perempuan diciptakan sebagai pengurus rumah tangga dan anak-anaknya. Seorang ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya.

Mengajarkan ilmu dan budi pekerti pada buah hatinya. Apa jadinya jika anak-anak ditinggal ibu bekerja, dan waktunya habis bersama baby sister dan pembantu.

Islam menempatkan perempuan pada posisi yang mulia. Tanpa harus memiliki posisi yang sama dengan pria dalam pencapaian materi. Islam memandang seseorang bukan pada keberhasilannya didunia. Karena dalam islam semua makhluk sama dimata Allah.

Namun yang membedakannya hanya pada amal ibadahnya saja. Karena masing masing telah mendapatkan hak dan kewajibannya. Tinggal bagaimana mereka menjalaninya selama didunia.

Islam bukan membatasi ruang gerak perempuan, seperti halnya yang dikemukakan para pejuang feminisme. Mereka mengatakan agama hanya membatasi ruang gerak perempuan. Seperti halnya dalam menuntut ilmu, hukumnya adalah fardhu ain.

Maka tidak ada larangan perempuan didalam islam sekolah setinggi-tingginya. Namun kewajibannya yang utama adalah ummu warobatulbait. Maka tanpa emansipasi kedudukan perempuan tanpa menuntut posisi yang sama atas mereka.[MO/gr]




















Posting Komentar