oleh : Ani Herlina 
(seorang pendidik dan anggota di komunitas  Akedemi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com-Bencana terus-menerus datang menimpa negri tercinta ini. Dimulai dari bencana yang menimpa NTB yang di guncang gempa berkekuatan 7.0 SR.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  terdapat 560 0rang meninggal dunia akibat gempa di Lombok. 1649 Orang luka-luka, dan 396.032 orang mengugsi. Kerusakan fisik meliputi 8392 unit rumah rusak, dan 3.540 fasilitas umum dan fasilitas sosial rusak.

Belum usai bencana Lombok, kita kembali di kejutkan dengan bencana Palu yang lebih dasyat dari NTB. Palu – Sigi dan Donggala rusak berat akibat bencana gempa bumi berkekuatan 7,4 SR di barengi dengan Tsunami dan lumpur.

Terdapat 2.091 orang meninggal dunia,jumlah korban hilang mencapai 680 orang, dan korban tertimbun 152 orang demikian keterangan  data terbaru Satuan Tugas gabungan Paduan (Satgasgabpad) yang dalam siaran persnya di Jakarta Senin, 15 Oktober 2018.

Rumah yang rusak akibat gempa sekitar 68.451 rumah.  Sedang jumlah pengungsi tercatat sebanyak 78.994 orang.

Air mata Palu belum mengering. Indonesia kembali harus di timpa bencana dengan meletusnya gunung Sipo Soputan di Sulawesi Utara yang terjadi pada tanggal 3/10/2018. Tidak ada korban jiwa dan masyarakat  belum perlu mengungsi karena di nilai masih aman.

Dan di dalam radius 4 KM  tidak ada pemukiman warga. Begitu penuturan kepala humas BNPB,  Sutopo Purwo Nugroho.

Bencana juga  menerjang Sumbar. Sejumlah  kabupaten dilanda banjir seiring hujan lebat yang terjadi kamis(11/10) 6 orang di kabarkan tewas. Hujan yang cukup deras ini selain menyebabkan  banjir juga menimbulkan longsor.

Begitupun banjir dan longsor menimpa provinsi Sumatera Utara. Sembilan kecamatan di kabupaten Mandailing Natal terendam banjir. Dikabarkan 13 0rang meningal dunia dan 10 orang hilang.

Indonesia menjadi negri yang paling rawan terhadap bencana di dunia berdasarkan data yang di keluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strstegi Internasional Pengurangan Risiko
Bencana (UN-ISDR).

Dan menurut Kepala Pusat Data Informasi dan HUMAS BNPB kepada wartawan BBC Indonesia, Yusuf Arifin, pada tahun 2011. Indonesia menduduki peringkat tertinggi untuk ancaman bahaya Tsunami, tanah longsor, dan gunung berapi.

Sutopo juga mengatakan Indonesia  juga menduduki peringkat ke tiga untuk ancaman gempa serta peringkat enam untuk ancaman banjir. Namun di bandingkan negara-negara lain, Tsunamilah yang menjadi ancaman yang paling mengkhawatirkan.

Dan ancaman yang paling besar adalah bencana gempa bumi, karena Indonesia berada dengan posisi geografis yang terletak di ujung pergerakan tiga lempeng dunia: Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik.

Bagi sebagian orang bencana yang terus-menerus menimpa negri ini ada kaitan erat dengan maraknya kemusyrikan yang terjadi di negri ini.

Di perparah dengan komunitas LGBT yang semakin berani meunjukan siapa dirinya,bahkan mereka sudah tidak malu menunjukan kemesraannnya di tempat umum. Dan juga, maraknya kemaksiatan yang merajalela di negri ini.

Di mulai dari  perjinahan,minuman keras dan narkoba, berjudi, pembunuhan, kasus aborsi, korupsi yang tumbuh subur, sistem perekonomian ribawi. Dan semua ini buah  dari penerapan sistem yang rusak.

Hingga akhirnya, memicu datangnya bencana yang di kaitkan dengan azab, seperti halnya yang sudah di timpakan kepada kaum-kaum terdahulu  yang dikisahkan dalam Al- Qur’an.

Namun bagi sebagian  orang berkata, bahwa tak layak bencana ini di kaitkan dengan kerusakan moral yang terjadi di negri ini. Ini adalah murni musibah bencana alam.

Setiap orang berhak mengemukakan asumsinya masing-masing. Tapi mari kita lihat ,bencana yang tak kunjung reda menimpa negri ini dengan kaca mata keimanan.

Agar kita bisa mengambil Ibroh dari setiap bencana yang terjadi, sehingga kita layak bermusabah diri dan Taqurub Illaloh menjadi bagian dari solusi.

Bencana yang terjadi pada negri ini bisa jadi adalah bagian dari peringatan-Nya. Agar  manusia tak lalai untuk mengingat-Nya. Fatamorgana dunia yang melenakan mata, kerap kali manusia terlupa pada Sang Pencipta.

Dan akhirnya manusia berbuat kerusakan di muka bumi, melampaui batas dengan melanggar aturan-aturan Allah SWT.

Manusia sebagai Kholifah Fil Ardhi sangat berperan besar untuk menjaga kelestarian lingkunagn hidup. Mengubah pola kehidupan sederhana menuju kehidupan modern, tidak hanya memikirkan kehidupan yang di jalani saat ini saja.

Tapi harus memikirkan keberlangsungan generasi yang ada di masa depan. Itu artinya kita harus bersahabat dengan alam dengan menjaganya agar tetap lestari. Dan manusia juga di tugaskan untuk terus berdakwah mengajak manusia pada kebaikan.

Dalam surat A- Imron ayat 110 ,kita di perintahkan untuk ber’amar ma’ruf nahi munkar sebagai salah satu syarat menjadi umat terbaik.

Namun sudahkah, hal itu kita lakukan? Karena Amar ma’ruf  nahi munkar bagian terpenting dari terjaganya keberlangsungan umat manusia, hingga mereka tetap menapak di jalan kebaikan.

Bukan keluar dari relnya sebagai manusia, sehingga sulit membedakan prilaku manusia dengan binatang yang tak mengenal norma. Dalam surat Al-Qasas Allah juga berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهۡلِكَ ٱلۡقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبۡعَثَ فِيٓ أُمِّهَا رَسُولٗا يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِنَاۚ وَمَا كُنَّا مُهۡلِكِي ٱلۡقُرَىٰٓ إِلَّا وَأَهۡلُهَا ظَٰلِمُونَ

Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasa-kan kota - kota ; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.

Bencana tidak akan datang begitu saja  menimpa negri ini, jika penduduk bumi beriman. Karena Janji Allah dalam surat Al-Araf ayat 96 yaitu:

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Sebuah penduduk negri apabila melakukan kemaksiatan dan kemungkaran tidak akan bebas dari siksa Allah. Maka sudah selayaknya, umat ini sadar dari kesombongannya yang melampaui batas dengan kembali menegakan hukum syariat.

Karena hanya islam yang hanya mampu menjadi solusi. Dan kita tak boleh lelah untuk terus berdakwah beramar ma’ruf nahi munkar. Agar kehidupan generasi di masa depan bisa menjadi lebih baik.[MO/gl]



Posting Komentar