Oleh: Ummu Hanif 

Mediaoposisi.com- Gempa berkekuatan 7,4 SR telah menggucang palu dan Donggala, tidak lama kemudian disusul oleh Tsunami yang memporak porandakan daerah sekitar pantai. Akibat gempa ini ribuan orang dilaporkan meninggal dunia, kebanyakan karena tertimpa reruntuhan bangunan dan hantaman Tsunami.

Musibah kali ini benar-benar dahsyat karena ada wilayah yang hilang karena ditelan bumi. Video amatir banyak merekam kondisi mencekam saat gempa dan tsunami. Tanah terbelah, rumah berjalan, air dan lumpur datang bak banjir bandang.

Menurut analis  ilmiah sementara dari para ahli tsunami Institut Teknologi Bandung (ITB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan badan Pengkajian dan penerapan Teknologi (BPPT) yang dikutip oleh Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), tsunami disebabkan dua hal. Pertama, di bagian Teluk Palu, Tsunami disebabkan adanya longsoran sedimen dasar laut di kedalaman 200-300 meter.

Sedimen dari sungai-sungai yang bermuara di Teluk Palu belum terkonsolidasi kuat sehingga runtuh dan longsor saat gempa, dan memicu terjadinya tsunami. Kedua, di bagian luar dari Teluk Palu, tsunami disebabkan oleh gempa lokal. Pada tsunami di bagian luar Teluk Palu tersebut, gelombang tidak setinggi tsunami yang disebabkan longsoran sedimen dasar laut.

Sementara itu, fenomena Likuikfaksi  menjadi hal yang sangat mencengangkan bagi masyarakat.  Menurut Kepala Bagian Humas BMKG, Harry Tirto Djatmiko, Minggu (30/9/2018), likuifaksi merupakan kondisi di mana tanah kehilangan kekuatan akibat diguncang gempa, yang mengakibatkan tanah tidak memiliki daya ikat.

Guncangan gempa meningkatkan tekanan air sementara daya ikat tanah melemah, hal ini menyebabkan sifat tanah berubah dari padat menjadi cair. Sehingga tanahpun Berubah menjadi kubangan lumpur raksasa  kemudian membuat ambles apapun yang berada di atasnya. Fenomena inilah yang membenamkan perumahan beserta isinya di Petobo dalam kubangan lumpur kemudian amblem ke dalam tanah.

Bencana alam membawa berbagai pesan. Pesan bagi para penguasa untuk menakar sejauh mana membuat jarak dengan syariat-Nya. Pesan bagi penduduk negeri, apakah selama ini maksiyat dilakukan dan tak mau berhenti. Pesan bagi kita semua untuk tunduk, pasrah, dan menyadari bahwa kita ini lemah dan tak memiliki kuasa atas alam.

Imam Ibnu Qayyim berkata; “Kadang-kadang dalam satu kesempatan, Allah SWT mengizinkan bumi untuk menghembuskan nafasnya, maka terjadilah gempa dahsyat. Lalu muncullah rasa takut dan tunduk pada diri hamba-hamba-Nya, pasrah dan meninggalkan maksiyat menggantikannya dengan khusyu’ kepada Allah dan penuh rasa penyesalan”

Sebenarnya, sudah cukup kiranya berbagai bencana yang ada menyadarkan kita sebagai seorang hamba. Sebagaimanapun hebat kekuatan manusia, ada Sang Penguasa Alam yang Maha menguasai segala dan mampu menghancurkan segalanya dalam kedipan mata. Inilah yang nampak dalam duka gempa Palu. Bagaimana kemudian seseorang menyaksikan keluarganya tertimbun tanah dalam hituhan detik di depan matanya tanpa bisa melakukan apa-apa. Bagiamana harta, rumah keluarga yang sangat dicintai bisa menghilang tanpa kuasa.

Maka, masihkah kita sebagai individu dan masyarakat sebuah bangsa, enggan untuk menundukan ego kita. Belum saatnyakah kita memahami bahwa sungguh, alam beserta isinya tidaklah punya apa – apa, kecuali ikut aturan yang maha kuasa. Dialah Allah yang telah menurunkan aturan dari kita membuka mata sampai tata cara mengatur sebuah negara.[MO/sr]

Posting Komentar