Oleh: Nur Syamsiyah
"Mahasiswi Ekonomi Syari’ah UIN Malang"

Mediaoposisi.com-Ibu Pertiwi menangis. Bencana terjadi di beberapa titik di Indonesia. Setelah gempa yang terjadi di Lombok, kini tsunami di menimpa masyarakat Donggala, Palu. Di sisi lain, Gunung Gamalama meletus memuntahkan asap berwarna putijh setinggi 200 meter. Menyusul Gunung Soputan di Sulawesi Utara dan Krakatau di Banten, sejumlah gunung berapi dalam status waspada.

Akibat gempa Lombok yang terjadi pada bulan Juli dan Agustus kemarin, ada 204.449 unit rumah warga yang rusak. Di samping itu, pemerintah menjanjikan 50 Juta Rupiah pada korban gempa Lombok yang rumahnya rusak berat. Namun nyatanya tidak sesuai dengan realisasi.

Per 5 Oktober 2018, di 5 kab/kota terdapat 63.166 rekening tabungan yang sudah terbit; namun hanya 6.540 rekening yang telah terisi. Artinya baru 3,2% saja yang telah terisi. Itupun, belum ada 1 rekening pun yang bisa dicairkan.

Bencana di Palu pun demikian, di dalam sebuah video yang diunggah oleh dokter Hisbullah menyatakan bahwa banyak mayat yang bergelimpangan di depan IGD RSU Undata. Sudah 3 hari ada di sana dan ada beberapa mayat yang dibawa pulang oleh keluarganya. Sisanya, mayat tersebut tidak bisa dikenali karena banyak yang busuk dan bengkak. (Kumparan, 1/10)

Di tengah gempa-tsunami yang terjadi, ada bencana di balik bencana di negeri ini. Lagi-lagi, rupiah dikabarkan merosot di tengah kondisi Ibu Pertiwi yang sedang menangis. Dollar melangit dan menjatuhkan nilai rupiah menjadi Rp 15.413,90 per US Dollar.

Di sisi lain, Indonesia melakukan pertemuan dengan IMF-WB (International Monetary Fund dan World Bank) di Nusa Dua, Bali pada tanggal 8-14 Oktober 2018. Dengan kata lain, bencana gempa-tsunami tidak menghalangi agenda pertemuan tahunan internasional tersebut.

Pada pertemuan ini, dihadiri oleh 189 negara dengan 19.800 peserta yang hadir, terdiri atas 5.050 peserta delegasi dan 14.750 nondelegasi. Di dalamnya juga termasuk para investor dari berbagai dunia turut hadir pada pertemuan tersebut.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo memaparkan bahwa pada pertemuan IMF-WB 2018 memiliki pagu anggaran sekitar Rp 855 miliar dengan waktu pelaksanaan tujuh hari.

Prastowo menambahkan, dalam acara IMF-WB itu, biaya per negara sekitar Rp 4 miliar. Adapun biaya per hari sekitar Rp 142 miliar dan biaya per peserta per hari sebesar sekitar Rp 7 juta.

Sebelumnya, Koordinator Juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan pertemuan tahunan IMF-WB memprihatinkan dan memalukan. Alasannya, karena pertemuan itu diselenggarakan pemerintah Indonesia saat masyarakatnya tengah berduka akibat bencana di berbagai daerah.

Pemerintah harusnya memiliki tindakan yang cepat dalam menangani korban bencana di tengah kondisi dollar yang terus meroket tinggi. Pemerintah harus menjalankan fungsi utamanya sebagai pemelihara urusan rakyat. Bukan sebaliknya, justru memfasilitasi para kapitalis dan membiarkan korban bencana semakin menderita. Dengan kata lain, pemerintah perlu memiliki prioritas alokasi anggaran yang pas.[MO/an]


Posting Komentar