Oleh : Winda Sari 
(Mahasiswa)

Mediaoposisi.com- Pembakaran bendera tauhid kapan hari membuat umat islam bangkit untuk membela islam. Sejumlah aksipun gencar dilakukan untuk membela kebenaran, yakni tauhid. Hal ini tentu akan menimbulkan kontra dari pihak yang tidak senang terhadap aksi bela islam. Segenap aksi dilakukan dilakukan diberbagai belahan Indonesia. Tapi, lagi-lagi banyak aksi yang dihadang oleh aparat. Sikap ini tentu membuat umat islam semakin bangkit ghirohnya dalam membela kebenaran.

Sikap dari aparat ini tidak sesuai dan melanggar kebebasan berpendapat yang katanya Negara demokrasi. Penghadangan merupakan bentuk melanggar hak berpendapat termasuk dalam rangka membela islam. Umat turun ke jalan melakukan aksi, bukan untuk memberontak, tapi justru ingin negeri ini menjadi baldatun thayyibatun warabbun ghafur dengan diterapkannya islam sebagai pedoman dan pandangan hidup dalam sebuah Negara.

Negara pun harus benar-benar menjalankan syariat islam secara total karena isla tidak hanya mengatur hubungan kepada Allah, tapi juga sesame manusia dan dirinya sendiri, ini semua tidak akan berjalan sempurna apabila tidak ada Negara yang menaunginya. Dan Negara itu tidak lain tidak bukan adalah Negara islam atau daulah islam, khilafah alaa manhaj an nubuwwah.

Berkaitan dengan peristiwa di atas, jelas itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mudah untuk diadu domba. Mereka mudah terpancing emosinya dan polos. Maksudnya polos adalah mereka dengan lugunya mau saja dibohongi oleh rezim dengan mengatakan bahwa gerakan bela islam adalah maker hanya demi uang dan jabatan. Jika demikian, mereka merupakan orang yang tidak bisa membuka mata dan telinga mereka bahwa yang mereka lakukan salah.

Mereka menunjukkan bahwa mereka itu keluar dari koridor muslim yang harus saling mencintai bukan membenci dengan mempersekusi ulama, membubarkan kajian, penghadangan aksi bela islam termasuk di dalamnya kasi bela tauhid. Secara halus, hati mereka perlahan-lahan membeku dan pada akhirnya mati. Rezim telah sukses mebuat orang-orang di bawahnya terpengaruh oleh tipu daya mereka. Sikap yang demikian tidak diajarkan dalam islam.

Jadi, cinta atau benci?
Cinta itu digambarkan dengan perasaan senang dan berbunga-bunga dan benci itu digambarkan apa yang dilakukan oleh orang yang kita benci semuanya serba salah. Demikianlah situasi saat ini di Negara yang katanya paling toleransi. Toleransi boleh, tapi toleransi di negeri ini sangat kebablasan. Negeri yang mayoritas muslim, sama sekali tidak menunjukkan rasa kecintaan terhadap saudara sesame muslim. Cinta mereka telah hilang, seiring dengan membeku dan matinya hati mereka.

Di mata rezim, apa yang dilakukan oleh segenap umat islam yang menyuarakan kebenaran dengan kembali pada syariat islam adalah salah dan makear. Perasaan cinta mereka telah hilang, sehingga dalam diri mereka hanya diliputi rasa benci dan anehnya itu tidak wajar. Tidak wajarnya itu hanya karena ingin menegakkan kembali syariat islam, lantas mereka yang turut serta menperjuangkan kembali syaruat islam dipersekusi.

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

"Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang zhalim (agar mendapat kejahatan) dari orang zhalim lainnya, keluarkanlah kami dari kejahatan mereka dalam keselamatan dan berikanlah sholawat kepada seluruh keluarga Nabi serta para sahabat beliau."[MO/sr]

Posting Komentar