Oleh: Choirin Fitri
 (Redaktur VOMM-Voice of Muslimah Malang) 

Mediaoposisi.com-Ahad, 28 Oktober 2018 adalah hari bersejarah bagi warga Malang. Pasalnya hari itu geliat warga Malang masih belum nampak riuh. Namun, di kawasan Masjid Jami' dan alun-alun Kota Malang nampak ribuan warga Malang dan sekitarnya padat merayap.

Sejak dini hari mereka berkumpul untuk melakukan aksi nyata bela tauhid. Membela bendera tauhid yang telah dinista oleh oknum yang tidak bertanggung jawab beberapa hari yang lalu. Berbagai atribut telah dikenakan. Al Liwa dan Ar Royah berkibar. Topi tauhid bertengger di kepala.

Namun sayang seribu sayang, niat suci mereka ternoda. Sekelompok orang tak bertanggung jawab melakukan profokasi. Mereka merampas bendera, meminta paksa topi tauhid ditanggalkan, menarik balon udara yang akan diterbangkan, hingga melakukan pemukulan.

Dan terlihat aparat penegak hukum yang sedianya menjadi pengayom dan pelindung diam seribu bahasa.

Aksi damai bela tauhid bukanlah aksi yang akan merugikan finansial negara. Sebagaimana para koruptor yang mencuri paksa uang rakyat. Atau para pemalak pajak yang tak tahu rakyatnya sekarat.

Aksi damai bela tauhid ini adalah aksi solidaritas seorang muslim sejati yang menjunjung tinggi agamanya. Mereka tak rela simbol agama mereka terhina. Mereka pun tak ikhlas para pelakunya melenggang tanpa mendapatkan hukuman yang setimpal.

Rezim anti Islam merasa takut jika aksi ini membongkar kedok mereka yang melindungi penista. Hingga, aksi damai yang sedianya berlangsung damai di Kota Malang diricuhi dengan berbagai provokasi.

Untungnya, kaum muslimin para pecinta tauhid ingat bahwa Islam yang mereka peluk adalah agama keselamatan. Mereka tak sedikitpun terprovokasi hingga akhirnya dengan raut kecewa mereka kembali pulang.

Sungguh, mereka bukanlah orang yang kalah. Karena, kalah menang tak ditentukan dengan berhasil terlaksana atau tidaknya aksi damai. Tapi, mereka tahu Allah telah menjadi saksi bahwa mereka tidak bungkam ketika rezim dzalim membungkam Islam.

Duka yang diterima saat aksi itu bukanlah luka yang terus menganga. Tapi, luka yang hanya menggores sedikit rasa lali mereka akan sembuh dan kembali ke medan laga.

Para pembela tauhid itu takkan diam seribu bahasa. Mereka akan mencari cara hingga Al Liwa dan Ar Royah bisa membumbung tinggi di ibu kota Daulah Khilafah dan berbagai penjuru negeri yang dikuasainya.

Mereka takkan menyurutkan langkah untuk menyeru seluruh umat agar bersatu menumbangkan rezim sekuler dan menjadikan Islam berjaya.[MO/gr]

Posting Komentar