Mediaoposisi.com- di hari jadi santri yang bahagia, oknum banser berulah di tengah-tengah ramainya santri di upacara hari santri di Jawa Barat, oknum ini membakar bendera secara sadar dan jelas sesuai video yang mereka rekam dan sebar di jejaring sosial.

Bendera yang mereka bakar adalah Ar-Rayah, bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid atau lebih kita sapa dengan dua kalimat Syahadat.

Dalam aksi ini mereka tertawa, berteriak yel-yel "hubbul wathan minal iman" namun mereka entah lupa, bodoh atau tak bisa membaca di bendera tersebut bertuliskan asma Allah. Asma Allah yang seharusnya di rawat di lindungi malah mereka bakar dan lecehkan.

Kegilaan banser ini sebenarnya bukanlah sekali, dua kali, banser sangat agresif ketika ada kajian-kajian yang mereka pasti akan dengan paksa membubarkannya. Banser tidak mengajadi barisan yang seharusnya menjaga saudara muslimnya, malah di musuhinya.

Sedangkan mereka membenci kajian-kajian mereka sangat Bangga mengawal jalannya aktifitas kegiatan di hari minggu di gereja-gereja, betapa ironisnya Banser yang notabenya adalah pemuda yang mengatas namakan diri mereka beragama Islam.

Namun Banser malah memecah umat islam, mengganggu umat islam lain, apakah mereka pantas di beri nama BANSER(Barisan ANshor SERbaguna) kata Anshor adalah kaum Madinah atau yasrib yang menolong Rosulullah berhijrah, bukanlah seorang penghalang dakwah/kajian Rosul.

Banser meresahkan para ulama, menghadang dakwah proses transfer berbagi ilmu, seperti berkali-kali Ustad Felix Siauw, Ustad Abdul somad namun sudah berakhir netral.

Banser cinta kawal gereja, hingga lupa memakmurkan masjid betapa ironi, sangat mengenaskan Banser mengaku islam namun tidak mencerminkan bahwa mereka islam. Betapa tidak pantas Banser di pelihara tugas mereka tidak lagi mengayomi saudara islam mereka tapi meresahkan.

Bubarkan Banser adalah sebuah jalan terbaik, Banser telah lepas kendali bila mana Banser di biarkan mereka pasti akan memilih menggiring orang-orang menuju gereja dari pada ke Masjid. [MO/gr]

Posting Komentar