Oleh : Sera Alfi Hayunda, S.Pd

Mediaoposisi.com-Penistaan lagi, penistaan lagi. Seolah tak ada habisnya, kasus penistaan agama kembali terulang. Beberapa hari lalu, Jagad dunia maya kembali dihebohkan dengan beredarnya video penistaan agama oleh dua orang komika,

Tretan Muslim dan Coki Pardede namanya. Video singkat yang berisi konten lawakannya yang mengolok-olok aturan Allah. Sesuatu yang biasa mungkin buat mereka.

Mulai dari adegan masak daging babi dengan sari kurma. Salah satu dari mereka berkata,”Jadi gimana ceritanya sari-sari kurma masuk ke pori-pori (daging babi). Apakah cacing pitanya akan mualaf? HAHAHA”

Bahkan video klarifikasinya pun masih diisi dengan candaan tak bermutu yang mengolok-olok permintaan maaf itu sendiri, “Kami meminta maaf atas video kami sebelumnya. Tapi bo’ong. HAHAHA”.

Yang semakin menyakitkan hati umat Islam kasus pelecehan terhadap Islam sebenarnya bukan pertama kali ini terjadi. Tentunya kita ingat yang dilakukan putri proklamator RI Sukmawati Soekarno Putri, bukan ?? 

Sukmawati membawakan puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakan di acara 29 tahun Anne Avantie Berkaya di gelaran Indonesian Fashion Week 2018 Senin (2/4) yang mana dalam bait syairnya ada larik yang melecehkan Islam.

Sukmawati menyebut syariat islam, cadar dan juga adzan. bait syairnya yang dianggap melecehkan yaitu menilai konde lebih elok dari cadar, dan suara kidung ibu lebih merdu dari suara adzan.

Lebih dulu lagi mantan gubernur DKI Ahok juga melakukan hal yang sama pada 2016 lalu yaitu dengan melecehkan Al Quran yang berkaitan dengan surat Al-Maidah ayat 51.

Perkataan mantan gubernur DKI ini memantik emosi umat islam sehingga memaksa jutaan umat islam tumpah di monas yang dikenal sebagai aksi 411 dan 212 hingga berujung pada penangkapan Ahok untuk dipenjara.

Maraknya fenomena penistaan agama akhir-akhir ini dan gencarnya serangan terhadap Islam dengan penuh kelancangan dan keberanian ini pertanda hilangnya kekuatan kaum muslimin saat ini, persis seperti yg disabdakan Rasul dalam haditsnya bahwa kondisi umat akhir zaman seperti buih di lautan.

Jumlahnya banyak tapi tidak mempunyai kekuatan apa-apa.  Meneurut Ketua Bidang Advokasi DPP PBB, Ismar Syafruddin menegaskan bahwa fenomena agama menjadi bahan candaan terus terjadi karena penegakan hukum yang tidak tegas.

Ya coba kita berfikir sederhana saja, ketika orang yang melanggar hukum namun tidak ditangani, maka pasti hal itu akan mengundang orang lain untuk melakukan penghinaan terhadap Islam. Entah dengan alasan popularitas, uang atau lainnya bukan ??

Istihza’ (mengolok-ngolok) Allah, Nabi-Nya, Kitab-Nya, dan atau agama-Nya bukanlah masalah yang sepele, melainkan masalah besar yang sangat berbahaya karena bisa membatalkan keislaman seorang hamba.

Allah berfirman:“Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. [At-Taubah/9 : 64].

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”.

Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?”. [At Taubah/9 : 65].

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [At- Taubah/9 : 66].

Mari kita merenung sejenak, begitu jelas dan tegas ayat-ayat Al-Qur’an menerangkan bahwa orang yang menghina, melecehkan dan mencaci maki Allah Ta’ala, atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam atau agama Islam adalah orang yang kafir murtad jika sebelumnya ia adalah seorang muslim.

Kekafiran orang tersebut adalah kekafiran yang berat, bahkan lebih berat dari kekafiran orang kafir asli seperti Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik.

Apakah cukup dengan marah masalah selesai? Tentu tidak, jawabnya tidak ada lain kecuali kembali kepada aturan Allah dan menerapkan secara totalitas sebagai solusi jangka panjang.

Lalu adakah solusi tuntas dalam menyingkapi penistaan agama suoaya tidak terulang lagi ? Tentu ada, dimana solusi tuntasnya adalah kembali kepada aturan Allah Swt.

Dengan sistem sanksinya yang tegas akan membuat orang berpikir ribuan kali untuk melakukannya karena terbukti dengan sistem yang ada sekarang tidak membuat pelaku kejahatan jera.

Dan setelah ini, kita tidak tahu bentuk pelecehan apalagi yang akan terjadi. Jawabannya kembali kepada diri kita masing-masing sebagai umat islam.

Apakah masih rela diatur dengan sistem rusak buatan manusia atau rindu dengan aturan Allah Swt diterapkan secara total sebagaimana sejarah mencatat kecemerlangan sistem hidup yang bersumber dari zat yg Maha Sempurna yakni Khilafah Islamiah.

Dan selalu ingatlah, bercandalah sekedarnya, jangan berlebihan. Perbanyaklah menangis daripada tertawa. [MO/gr]

Posting Komentar