Oleh
: Silpianah 
(Akademi Menulis Kreatif)

Bendera Tauhid
Bendera Umat Islam

Bendera Tauhid
Bendera ummat Islam

Mediaoposisi.com-Serang, 24/10/2018. Terdengar suara yang amat tegas dari gegap gempita peserta Aksi Bela Kalimat Tauhid siang ini.

Aksi bela kalimat tauhid dibuka dengan sholat dzuhur berjamaah di Masjid Agung Ats Tsauroh Kota Serang. Aksi ini diselenggarakan oleh Forum Persaudaraan Ummat Islam Banten (FPUIB).

Aksi ini dilakukan untuk mengecam atas pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh oknum anggota Banser.

selaku ummat Islam, sudah selayaknya kita merasa gerah bahkan marah dengan kejadian tersebut. Sebab pembakaran bendera tauhid adalah peristiwa menyakitkan yang menimpa Islam dan kaum muslimin.

Bendera tauhid adalah bendera ummat Islam. Bendera tauhid bukan bendera kelompok manapun. Bukan pula bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) seperti yang dituduhkan oleh Banser.

Tak cukupkah hadits Nabi Muhammad SAW sebagai rujukan?  bahwa bendera berwarna hitam (A-Rayah) berlafadz kalimat tauhid adalah panji Rasulullah SAW.

“Panjinya (râyah) Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam– berwarna hitam, dan benderanya (liwâ’) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh." (HR.Al-Thabrani).

“Bendera (liwâ’) Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam– berwarna putih, dan panjinya (râyah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim, al-Baghawi, al-Tirmidzi. Lafal al-Hakim).

Pembakar kalimat tauhid itu, tak ingatkah akan kisah para sahabat yang kisahnya tergores dengan tinta emas sejarah ketika mempertahankan A-Rayah dengan nyawanya?

Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah sebuah perang yang amat besar yang disebut perang Mu`tah. Mu`tah merupakan sebuah desa yang terletak sbelum masuk ke Syam.

Perang ini bermula ketika Rasulullah SAW mengutus Al-Harits bin Umair untuk menyampaikan surat kepada pemimpin Bushra. Ditengah perjalanan Al-Harits dihadang dan diringkus oleh Surahbil bin Amr Al-Ghasanny dan dipenggal kepalanya dihadapan Qaishar.

Rasulullah SAW sangat murka mendengar berita tersebut sebab membunuh seorang utusan adalah kejahatan yang teramat keji. Beliaupun menghimpun pasukan dengan jumlah mencapai tigaribu prajurit.

Pasukan tersebut merupakan pasukan yang jumlahnya paling besar yang sebelumnya belum pernah terhimpun sebesar itu.

Rasulullah menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan. Beliau bersabda, “Apabila Zaid gugur, yang menggantikannya adalah Ja`far. Jika Ja`far gugur maka yang menggantikannya adalah Abdullah bin Rawahah.”

Melihat jumlah musuh yang jauh lebih banyak, kaum muslimin sempat merasa gentar. Namun Abullah bin Rawahah bersikap optimis dan semangat hingga menularkan rasa percaya dirinya kepada pasukan muslim yang lain.

 “Berangkatlah! Dihadapan kita hanya ada dua kebaikan yang akan kita peroleh: menang atau syahid.” Teriak Abdullah bin Rawahah memberi motivasi.

Perangpun tak bisa dihindari. Dua pasukan bertemu. Zaid bin Haritsah memegang bendera yang pertama kali. Dia bertempur dengan gagah berani.

Dia terus bertempur hingga sebatang tombak musuh bersarang didadanya. Hingga akhirnya tersungkur di tanah dan gugur sebagai syahid.

Ja`far bin Abu Thalib dengan sigap meraih bendera dan bertempur mengerahkan segala kekuatannya hingga tangan kanannya putus terkena sabetan pedang musuh. Bendera dialihkan ke tangan kirinya.

Namun, tangan kirinya pun terputus terkena sabetan pedang. Perjuangannya tak sampai di situ saja, bendera Ia lilitkan pada lengannya yang masih tersisa, sehingga terus berkibar. Hingga akhirnya Ia pun gugur sebagai syahid.

Selanjutnya Abdullah bin Rawahah mengambil alih komando pasukan. Ia mempertahankan bendera untuk tetap berkibar dan maju dalam peperangan. Namun akhirnya Ia pun gugur sebagai syahid.

Setelah syahidnya ketiga pemimpin perang, komando digantikan oleh Khalid bin Walid Radhiyallâhu ‘anhu.

Khalid bin Walid menyusun strategi perang dengan mengubah formasi prajurit, dengan begitu pasukan Romawi mengira kaum muslimin mendapat bantuan sehingga rasa takut menyelimuti pasukan Romawi.

Jika kita melihat dengan logika, peperangan itu merupakan hal yang mustahil. Pasalnya pasukan Romawi yang menjadi lawan kaum muslimin berjumlah jauh lebih besar yaitu sebanyak 200 ribu prajurit.

Namun karena keberanian dan ketangguhan yang dimiliki kaum muslimin, menjadikan perang itu seolah tempat bermain hingga akhirnya kemenangan berada di tangan kaum muslimin.

Kisah yang tertulis dalam tinta sejarah ini sudah tentu menjadi pelajaran bagi kita. Betapa para sahabat sangat mencintai panji Rasulullah (Ar-Rayah). Ar-Rayah yang disana tertulis kalimat tauhid. Kalimat yang dengannya kami semua kaum muslimin ingin hidup dan mati dengan nya.

Sejak dulu kalimat ini (kalimat tauhid) ada dalam hati dan jiwa umat muslim. Apa jadinya jika tak ada kalimat tauhid? Apa jadinya jika tak ada syahadatain?

Tauhid kita “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh."
Iman kita  “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh."

Islam kita “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh."
Hidup “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh."
Mati “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh."

Maka sudah sewajarnya kaum muslimin merasa gerah dan marah atas pembakaran bendera tauhid. Bendera tauhid adalah milik kami, ummat Islam.[MO/gr]

Posting Komentar