Oleh: Djumriah Lina Johan
(Penulis dan Pemerhati Sosial Masyarakat)

Mediaoposisi.com- Ahad pada tanggal 21 Oktober 2018 kemarin diperingati sebagai hari Santri Nasional. Namun, hari peringatan ini berujung pada kemarahan kaum Muslimin. Pasalnya pada hari Senin, tersebar video yang berisi anggota-anggota GP Ansor yang melakukan aksi pembakaran bendera tauhid disertai menyanyikan mars NU di Garut pada akhir apel peringatan hari Santri.

Dikutip dari TribunJabar.id, Ketua GP Ansor Jabar, oknum GP Ansor memiliki persepsi bahwa itu adalah bendera HTI dan ada kalimat tauhidnya, sehingga untuk menjaga kesuciannya daripada terinjak lebih baik dibakar. Namun, pernyataan ini tidak mampu meyakinkan ummat bahwa apa yang telah dilakukan GP Ansor adalah bentuk penjagaan.

Sedangkan menurut Wiranto selaku Menko Polhukam, melalui detik.com, pembakar (GP Ansor) meyakini bendera berkalimat tauhid itu adalah simbol Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dilarang. Perkataan tersebut alih-alih mendinginkan kemarahan ummat Islam justru semakin membuat amarah bergejolak.

Dikarenakan ummat yang berasal dari organisasi FPI, Aliansi Ummat Islam, dan lain-lain menyatakan bahwa bendera tersebut terbukti secara dalil hukum syara’ bukanlah bendera milik HTI seperti yang dituduhkan oleh Wiranto.

Kemarahan ummat telah mencapai ambang batas ketika dihadapkan pemberitaan viva.co.id, yang menyebutkan polisi membantah kabar bahwa dua oknum anggota Banser pembakar bendera berlafaz tauhid di Garut dibebaskan. Sebab, sejak dari awal pihak kepolisian memang tidak pernah melakukan penangkapan apalagi penahanan.

Dan anehnya dalam konferensi pers di Mabes Polri JakSel,  Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto mengatakan pembakaran tersebut tidak akan terjadi jika Uus Sukmana tidak datang ke hari Santri Nasional di Garut dan tidak mengibarkan bendera di lokasi kejadian. Dan drama tragis inipun diakhiri dengan penetapan Uus  Sukmana (34) sebagai tersangka.

Jika kita telaah dan kritisi permasalahan pembakaran bendera tauhid ini, masih ada anggapan bahwa bendera tauhid berwarna hitam tersebut adalah milik HTI. Padahal sudah banyak artikel yang menuliskan bahwa bendera tersebut adalah milik Rasulullah saw.

Milik kaum muslimin. Berdasarkan dalil-dalil hadits Rasulullah. Dan disadur dari nu.or.id, terkait tulisan kalimat tauhid, mayoritas informasi yang ada menjelaskan bahwa yang bertuliskan kalimat tauhid adalah bendera Nabi Muhammad saw seperti yang dinyatakan oleh ibnu Hajar al Asqalani, “Bendera Nabi saw bertuliskan kalimat tauhid”.

Kemudian timbullah pertanyaan, mengapa GP Ansor yang secara nyata adalah bagian dari NU tidak memahami hakikat kemuliaan bendera Rasulullah saw tersebut? Wallahu ‘alam.

Terlepas dari pertanyaan tersebut, ada hal yang jika bisa disebut sebagai “keuntungan” adalah efek positif dari pembakaran bendera tauhid ini, yaitu persatuan ummat yang sudah lama terpecah belah. Tatkala bendera ummat Islam dibakar, saat itulah panggilan keimanan hadir. Menanggalkan perbedaan fikih dan hal-hal yang bersifat khilafiyah.

Ummat Islam dari berbagai ormas bersatu menyuarakan kemarahan atas pembakaran bendera Rasulullah di berbagai daerah di Indonesia. Terhitung aksi #BelaKalimatTauhid dilakukan sejak hari kamis hingga ahad ini. Mulai dari Bogor, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Samarinda, Balikpapan, Gorontalo, Palopo, Pare-pare, dan kota-kota lainnya. Ummat bersatu meminta pembubaran Banser. Dan ummat menuntut aparat hukum untuk menghukum pelaku pembakaran seberat-beratnya bukan Uus si pembawa bendera.

Ummat harus tegas dan menolak untuk dibodohi dengan tipudaya yang terus dihembuskan melalui mulut-mulut orang-orang dzolim yang berkuasa. Yang demi mempertahankan kekuasaan memaksakan fitnah yang amat sangat keji kepada para pengemban dakwah Islam.

Dan berusaha untuk memutar balikkan fakta. Untuk itu tetaplah bersatu, berpegangan tangan, dan saling tolong menolong dalam ketaatan demi menuntaskan penghinaan terhadap simbol Islam berupa bendera tauhid. Dan demi tegaknya kemuliaan Islam dalam naungan Khilafah Islam. Karena tanpa Khilafah, Kemuliaan Islam tidak akan terjaga. Tanpa Kemuliaan Islam, ummat akan terhina. Allahu Akbar!

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang kokoh.” ( TQS. Ash Shaff : 4)[MO/sr]


Posting Komentar