Oleh: Annisa ‘Amalia Farouq
(Mahasiswi Manajemen Dakwah UIN SGD Bandung)

Mediaoposisi.com-Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Telah terjadi pembakaran bendera berlafadzkan kalimat Tauhid (Laa Ilaaha illallaah Muhammadur-rasuulullaah) yang dilakukan oleh beberapa oknum Banser (Barisan Anshor Serbaguna) pada perayaan Hari Santri Nasional di Garut, Jawa Barat pada hari Minggu, tanggal 21 Oktober 2018. Satu hari kemudian, tepatnya pada hari Senin, tanggal 22 Oktober 2018 berita ini viral di berbagai media sosial yang membuat seluruh umat Islam merasa geram atas tindakan yang dilakukan oknum-oknum Banser berseragam.

Sungguh, apa yang dilakukan oknum-oknum Banser tersebut benar-benar kelewatan! Pasalnya, mereka beragama Islam, tak sepatutnya murka terhadap kalimat Tauhid yang seharusnya mereka agungkan. Dengan alasan memerangi ormas radikal, mereka membakar bendera Tauhid dengan ekspresi kegirangan, seolah-olah bendera itu menjijikan, sehingga harus mereka musnahkan. Na’uudzubillaahi min dzalik!

Tak lama kemudian, Ketua Umum GP Anshor, H. Yaqut Cholil Qoumas menaggapi video yang tengah viral tersebut dengan mengatakan bahwa anggota Banser Garut bukan membakar bendera Tauhid, tetapi membakar bendera ormas terlarang, yaitu bendera HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Padahal, sudah banyak masyarakat yang tahu, bahwa bendera berlafadzkan kalimat Tauhid bukanlah bendera milik ormas tertentu, tetapi bendera tersebut merupakan bendera Rasulullaah SAW. benderanya umat Islam secara keseluruhan yang tertera dalam sebuah hadits, “Panjinya (Rayah) Rasuulullaah SAW. berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis didalamnya; ‘Laa ilaaha illallaahMuhammadur-Rasuulullaah’ (HR. Ath-Thabrani)

Selain itu, Yaqut Cholil juga berdalih bahwa pembakaran bendera Tauhid sebagai upaya untuk menjaga kalimat Tauhid agar tidak terinjak-injak. Padahal, dalam video tersebut sudah sangat jelas bahwa para oknum Banser sengaja membakar bendera Tauhid secara membabi buta sambil bernyanyi-nyanyi dan bersorak-sorai riang gembira. Apakah ini yang disebut menjaga?! Alih-alih menjaga, hal tersebut justru membuat ‘singa’ bangun dari tidurnya.

Berbagai kecaman pun kemudian datang dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari para kiayi di Pondok Pesantren, para ulama dan tokoh agama, para remaja, anak-anak, hingga masyarakat biasa. Mereka merasakan hal yang sama, tak terima bendera Rasulnya dibakar oleh oknum Banser yang terhina. Alhasil, satu bendera dibakar, ribuan bendera berkibar. Pada hari Selasa, tanggal 23 Oktober 2018 Aliansi Umat Islam Pembela Tauhid Garut mengadakan aksi damai yang bertitik kumpul di kawasan Simpang Lima, Tarogong Kidul, kemudian longmarc dengan melewati Jalan Cimanuk hingga ke jalan Ahmad Yani dengan membawa bendera Tauhid yang dikibarkan sepanjang jalan (m.detik.com, 23/10). Aksi damai ini dihadiri oleh ribuan umat Islam yang menuntut pemerintah untuk mengusut tuntas kejadian ini dengan menangkap serta menghukum pelaku pembakar bendera Tauhid karena dengan sengaja telah melakukan tindak penistaan agama Islam. 

Namun, hingga detik ini, belum ada tanggapan yang serius dari pemerintah. Padahal, pemerintah lah yang seharusnya bertindak tegas terhadap orang-orang yang merusak aqidah. Hal ini sungguh bertolak belakang dengan sistem Islam. Ketika sistem Islam ditegakkan, Islam akan menjamin aqidah umat tetap terpelihara, dengan menghilangkan segala hegemoni kafir Barat yang hingga saat ini terus saja merongrong dan berupaya memecah belah umat Islam, serta membuat penguasa diam ketika simbol agamanya dinistakan. Oleh karena itu, berhentilah berharap pada sistem yang semu, sudah saatnya umat Islam bersatu, menerapkan syari’at Islam yang mampu memecahkan berbagai macam problematika kehidupan, demi terciptanya kehidupan dunia dan akhirat yang membahagiakan. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin Allaahu a’alam bi ash-shawab.[MO/dr]

Posting Komentar