Oleh : Nurul Hikmah, S.E. 
(Revowriter Gresik)

Mediaoposisi.com-Kepolisian akhirnya berhasil menemukan pria yang membawa bendera mirip organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) saat peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Lapangan Limbangan, Garut, Jawa Barat, Senin 22 Oktober 2018 lalu.

Bendera tersebut kemudian dibakar anggota Banser dan viral. Sementara tiga orang oknum anggota Banser pembakar bendera yang sempat diamankan telah dibebaskan.

"Tindakan pembakaran tadi dilakukan oleh subyek tanpa adanya niat apapun kecuali yang ia tahu ini bendera HTI," kata Umar, Direktur Reskrimum Polda Jawa Barat Kombes Umar Surya Fana saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis (25/10).

Kepolisian menilai tidak ada unsur pidana di dalam tindakan pembakaran tersebut. Selain mengamankan pembawa bendera, polisi juga memburu perekam dan pengunggah video aksi pembakaran lantaran diduga ada niat membuat kegaduhan di tengah masyarakat.

Komjen Pol Ari Dono mengatakan pelaku penyebaran dapat terjerat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronika. Ringkasnya, pelaku pembakaran melenggang kangkung. Sementara pembawa bendera dan penyebar video kini jadi buruan utama.

Video viral tersebut jelas menuai kemarahan umat Islam dari berbagai kalangan. Bahkan respon juga muncul dari umat Islam di Suriah, Turki dan Palestina.

Apalagi pembakaran dilakukan dengan iringan mars dan yel-yel organisasi. Banser pada akhirnya melakukan konferensi pers untuk menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi di tengah masyarakat.

Namun, Banser menolak meminta maaf atas pembakaran dan bersikeras bahwa bendera yang dibakar tersebut adalah bendera HTI, bukan bendera tauhid. 

Bendera tauhid mamang kerap muncul dalam berbagai agenda yang diadakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia sebelum dicabut badan hukumnya.

Tak heran, publik tanpa sadar mengasosiasikan bendera tersebut dengan HTI. Padahal eks jubir HTI, Ismail Yusanto telah memberikan pernyataan di berbagai kesempatan yang menjelaskan bahwa bendera bertuliskan kalimat tauhid tersebut bukanlah bendera HTI.

Hal ini pun diperkuat dengan pernyataan resmi dari MUI. Sebagaimana dilansir okezone.com Sekjen MUI menyatakan jika bendera yang dibakar bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia melainkan bendera umat muslim sedunia (24/10).

Sejak awal masuk ke Indonesia, Hizbut Tahrir secara konsisten menyampaikan visi mengembalikan kehidupan Islam di tengah masyarakat. Hizbut Tahrir pun tak henti menguak kebobrokan ideologi selain Islam yaitu kapitalisme dan sosialisme komunisme.

Hizbut Tahrir senantiasa menyerukan wajibnya penerapan syariat secara kaffah dalam khilafah yang akan menyatukan umat muslim di seluruh dunia. Hingga kini, berbagai pemikiran Islam yang diserukannya mulai menjadi opini umum di tengah masyarakat.

Sebagai sebuah gerakan pemikiran, Hizbut Tahrir menjauhkan dirinya dari pertentangan fisik. Sekalipun berbagai tekanan ditujukan pada aktivisnya, namun Hizbut Tahrir tetap tsiqah di jalan dakwahnya.

Hal ini nampak jelas saat sidang PTUN menolak gugatan HTI terkait pencabutan badan hukumnya. HTI merespon putusan tersebut dengan tenang meskipun persidangan sesungguhnya tak bisa membuktikan kesalahan HTI yang menyebabkannya layak dicabut badan hukumnya.

Alih-alih mengamuk dan protes, massa yang berkumpul di luar ruang sidang justru melakukan sujud syukur. Begitupun ketika berbagai agendanya mendapatkan persekusi, HTI memilih menghindari konfrontasi.

HTI fokus menyampaikan berbagai ajaran Islam serta mengkampanyekan persatuan umat Islam.  Berkaitan dengan bendera tauhid, Hizbut Tahrir senantiasa mengkampanyekan bendera dan panji warisan Rasulullah tanpa pernah mengklaimnya sebagai benderanya. 

Ibn ‘Abbas berkata, “Rayah Rasulullah saw. itu berwarna hitam dan Liwa’-nya berwarna putih.” (HR at-Tirmidizi). 

Kampanye tanpa henti itu mulai membuahkan hasil. Umat Islam kian akrab dengan bendera hitam dan putih bertuliskan kalimat tauhid. Terbukti, saat bendera tauhid dibakar, respon umat meluas lintas gerakan.

Persatuan umat yang kian menguat adalah kabar buruk bagi kapitalisme yang sedang menguasai dunia. Apalagi jika persatuan umat tersebut tidak sekedar berbasis perasaan.

Perasaan Islami berlandaskan pemikiran Islam yang kuat pada diri umat adalah kekuatan besar yang ditakutkan oleh kapitalis.

Inilah tanda-tanda kebangkitan umat semakin dekat. Keistiqamahan para pengemban dakwah akan membawa cita-cita persatuan umat dalam naungan khilafah semakin cepat terwujud.

Inilah kesalahan Hizbut Tahrir. Ia begitu berani menantang kedigdayaan kapitalisme. Cita-citanya begitu tinggi untuk mempersatukan umat Islam sedunia.

Kesabaran dan ketenangannya menakutkan mereka yang masih berbekal emosi dan tuntutan dunia. Pancingan amarah yang meleset, berbalik arah pada si pembuatnya. Allah pembuat makar terbaik.

Sesungguhnya Islam dan persatuan umat adalah fitrah manusia. Takkan lama lagi hingga umat berkerumun menuntut persatuan umat Islam sedunia dalam naungan khilafah.

Bersabaralah wahai pejuang, kemenangan itu kian dekat, in sya Allah. [MO/gr]

Posting Komentar