Oleh : Trisnawaty A

Mediaoposisi.com-Bendera Tauhid  Bukan Sekedar Kain. Airmata tak terbendung, dada terasa sesak, detak jantung seakan mau berhenti berdenyut.

Ditengah peliknya persoalan umat yang melanda di negeri ini mulai lgbt, import, rupiah melemah dan sederetan persoalan yang menggunung serta  belum kering airmata tentang musibah gempa dan tsunami di Palu SULTENG, 

berita duka kembali menyelimuti tepatnya senin 22 oktober yang diperingati sebagai Hari Santri Nasional , terjadi aksi pembakaran bendera diiringi lagu dan teriakan sambil bersorak sorai.

Aksi tersebut dilakukan oleh oknum Banser di Garut, dan tersebar  ke sosial media. Berbagai dalih dilontarkan atas pembakaran tersebut diantaranya mereka mengatakan untuk menyelamatkan bendera tersebut,

identik dengan sebuah ormas yang telah dibubarkan oleh pemerintah yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan untuk menjaga NKRI. Pertanyaannya adalah  Apa yang salah dengan pembakaran bendera itu?.

Jawabannya, bendera itu bukan sekedar selembar kain, bendera itu bukan milik oknum ataupun organisasi tertentu  tapi bendera tersebut adalah Panji Rasulullaah SAW, panji kaum muslim  yang  tertulis lafaz Laa ilaaha illaa Muhammad Rasulullah saw.

Lafaz kesaksian bagi seorang muslim, Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya panji (Royah) Rasulullah berwarna hitam, dan benderanya (liwa) berwarna putih, tertulis didalamnya Laa Ilaaha Illallaah  Muhammad Rasulullah (HR. Tabrani).

Aksi Bela Kalimat Tauhid

Bagaikan api makan ilalang kering tiada dapat dipadamkan lagi, reaksi kaum muslim atas pembakaran tersebut spontan menjadikan kaum muslim ikut ‘terbakar’ tak bisa dihentikan dan tidak bisa dihindari,

berbagai aksi baik dalam bentuk protes (kecaman) di media sosial, maupun aksi damai turun ke jalan dilakukan diberbagai tempat, dengan membawa atribut mulai dari bendera, pengikat kepala, topi dan atribut lain yang bertuliskan lafaz kalimat tauhid.

Gelombang aksi yang dilakukan kaum muslim diberbagai tempat terus bergulir tak ada yang bisa membendungnya, mereka menuntut Banser minta maaf karena telah melakukan penghinaan terhadaap Panji Rasullullah bahkan menuntut pemerintah untuk membubarkan Banser.

Tak terkecuali  Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat suara, MUI dan umat islam mengutuk keras pembakaran bendera tauhid oleh oknum Banser usai peringatan hari santri.

Kami minta agar penegak hukum segera menangkap oknum tersebut dan diadili sesuai hukum yang berlaku, kata Kiai Muhyddin junaidi saat dihubungi senin (22/10) REPUBLIKA.CO.ID.

Panji Rasulullah : Panji Yang Harus Ditinggikan

Buya Hamka menuturkan : “Jika diam saat agamamu dihina, maka gantilah bajumu dengan kain kafan” begitulah sejatinya seorang muslim bersikap.

Bendera dan panji menempati posisi yang agung sebagai simbol suatu negara,begitu pula bagi Rasulullah saw.

Dalam kitab kepribadian Islam jilid II karya Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani tertulis sebagimana liwa dan royah digunakan oleh pasukan maka ia juga digunakan oleh perangkat-perangkat dan lembaga-lembaga negara lainnya.

Sebagaimana boleh bagi anggota masyarakat umum untuk memasang liwa diatas instansi, jalan dan rumah mereka. Panji tersebut sebagai pembeda antara islam dan kekufuran, pembeda antara yang hak dan bathil.

Panji tersebut harus dijunjung tinggi, harus dijaga meski harus menjemput maut. Rasulullah saw bersabda :

Royah dipegang oleh Zaid, lalu dia terbunuh,  kemudian dipegang oleh Ja’far, lalu dia pun terbunuh, kemudian dipegang oleh Ibnu Rawahah, lalu dia pun terbunuh juga (HR.Al-Bukhari).

Sejatinya, bagi yang mengaku muslim seharusnya meninggikan panji Rasulullah bukan justru membakarnya! [MO/gr]

Posting Komentar