Oleh: Aulia Rahma (Gresik)


Mediaoposisi.com-Allah menciptakan perbendaharaan alam semesta, manusia, dan kehidupan, tunduk dan patuh pada perintah-Nya. Semua kenikmatan yang ada di bumi dan langit seluruhnya diperuntukkan bagi manusia yang diberi gelar kholifah, agar dikelola demi kemaslahatan bersama.

Untuk menjamin keharmonian dan keteraturan kehidupan di bumi, maka Allah memberikan rambu -rambu kepada manusia , mana yamg boleh diperbuat dan mana yang harus dihindari. Rambu - rambu ini tertuang dalam kitab - kitab ysng diwahyukan kepada para nabi dan rasul-Nya. Karena kita adalah umat Nabi Muhammad, maka Alquran lah kitab pegangan hidup kita.

Beriman dan bertaqwa bukan pilihan bagi manusia, tetapi keharusan. Inilah konsekwensi logis sebagai bukti rasa syukur manusia atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah. Bumi diciptakan-Nya tenang dengan gunung -gunung sebagai pasaknya. Angin bertiup santai sebagai tanda akan turun hujan. Terbentangnya lautan agar manusia dapat berlayar dan menikmati ikan segar. Awan berarak hitam menurunkan air hujan sebagai penyubur tanah hingga tumbuh berbagai macam tanaman. Banyak ayat -ayat Allah bertebaran di dalam Alquran yang menjelaskan tujuan diciptakannya langit, bumi dan segala isinya adalah sebagai rizki bagi manusia.

Lain ceritanya jika manusia mengkhianati fitrah penciptaannya. Meninggalkan pesan - pesan nabinya,
rakus terhadap harta dunia, melakukan kesyirikan, sombong, kufur nikmat, dan sifat buruk lainnya, maka secara otomatis langit dan bumi berusaha untuk mempertahankan eksistensi dirinya dengan membinasakan orang - orang yang ingkar kepada nikmat Allah.

Jadi, dapat dibenarkan jika ada seseorang bahkan sekelompok masyarakat, yang beranggapan bahwa
bumi menyimpan potensi gempa dan tsunami, pertanda ada yang salah dengan perilaku manusia. Sebagaimana yang difirmankan Allah didalam Alquran surat Arrum ayat 41, yang artinya:
"Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh tangan - tangan manusia"

Bencana bertubi - tubi terjadi, mungkin karena hati dan pikiran manusia banyak teracuni oleh ide - ide sesat yang bertentangan dengan Islam, seperti sekularisme, kapitalisme dan liberalisme. Atau akal
manusia telah rusak oleh zat - zat berbahaya seperti miras dan rokok. Atau tubuh manusia telah teraliri darah yang bersumber dari makanan haram, sehingga sudah tak mampu lagi membedakan baik, buruk, benar, dan salah. Baik dikata buruk dan yang benar disalahkan.

Patut disayangkan memang, jika seorang pemimpin enggan melakukan introspeksi diri dalam kinerjanya selama ini, seperti Walikota Palu, Hidayat misalnya. Dirinya membantah anggapan jika acara yang digelar dalam Festival Palu Nomoni ada unsur persembahan terhadap setan, sehingga menyebabkan bencana gempa bumi dan tsunami.

"Saya kira semua daerah punya ritual - ritual kan. Sebenarnya ini bukan ritual lagi, tetapi ini pertunjukan semacam seni budaya, sebenarnya begitu", ucap Hidayat sambil tertawa dalam jumpa pers di rumah dinas Wakil Walikota Palu, Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu di Palu, Sulteng, rabu (Nusanews 10/10 ).

Harusnya sebagai seorang pemimpin muslim, menjadikan jejak peradaban Islam dibawah kepemimpinan kholifah menjadi inspirasi dalam setiap geraknya. Bagaimana para kholifah menyikapi terjadinya bencana alam, dari upaya preventif hingga recoverinya. Dalam kurun sejarah panjang peradaban Islam ( -+ 13 abad ), sangat jarang sekali terjadi bencana alam.

Menerapkan Islam secara menyeluruh dalam bingkai khilafah adalah solusi yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Mengkonsolidasi kekuatan dengan berbagai pihak perlu diupayakan.. Hadirnya kholifah di
akhir jaman adalah janji Allah, jika ini ditunaikan maka jaminan kesejahteraan ada di depan mata, dan tentu bencana alam akan sirna. Allah berfirman, yang artinya :

"Jika sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, maka Kami akan bukakan keberkahan
dari langit dan bumi " ( TQS. Al a'raf : 96 ).
Namun sebaliknya jika tetap membangkang dan mempertahankan sekularisme, menolak penerapan Syariat Islam dan menghalang - halangi manusia dari jalan ketaqwaan, awas ! terperosok kali kedua pada lubang yang sama.[MO/dr]

Posting Komentar