Oleh: Yeni Anggraeni

Mediaoposisi.com- Belum usai duka yang menimpa Indonesia akibat gempa di Lombok, terjadi lagi musibah bencana alam gempa bumi berkekuatan 7,4 magnitudo yang mengakibatkan tsunami di kota Palu Sulawesi Tengah, pada Jum'at , 28 September 2018. Hampir seluruh rumah dan bangunan hancur-lebur. Sebagian besar infrastruktur luluh-lantak. Lebih dari 1000 orang wafat.

Sebagian karena tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa bumi. Sebagian lagi diterjang tsunami. Sebagiannya lagi tertimbun lumpur. Banyak korban hilang. Belum ditemukan hingga saat ini. Karena itu jumlah korban meninggal kemungkinan akan terus bertambah.

Semua bencana ini tentu harus disikapi secara tepat oleh setiap Muslim. Dalam hal bencana karena faktor alam, seperti gempa bumi dan tsunami, sikap kita jelas. Semua itu merupakan bagian dari sunatullah atau merupakan qadha (ketentuan) dari Allah SWT. Tak mungkin ditolak atau dicegah. Di antara adab dalam menyikapi qadha ini adalah sikap ridha. Juga sabar. Baik bagi korban ataupun keluarga korban. Bagi kaum Mukmin, qadha ini merupakan ujian dari Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan. Juga dengan berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar" (TQS al-Baqarah [2]: 155).

Orang berakal akan menjadikan sikap sabar sebagai pilihannya dalam menyikapi bencana/musibah. Ia pun ridha terhadap qadha dan takdir Allah SWT yang menimpa dirinya tanpa berkeluh-kesah. Semua ini sudah merupakan ketentuan Allah SWT.

Selain sebagai ujian, bencana apapun yang menimpa seorang Mukmin, besar atau kecil, sesungguhnya bisa jadi peringatan dan menjadi wasilah bagi penghapusan dosa-dosanya.
Dalam kasus Gempa Palu khususnya, sebetulnya ada faktor di luar qadha yang memperparah bencana. Bahkan menimbulkan “bencana” baru.

Sayangnya hal itu tidak diantisipasi oleh Pemerintah sebagai pelayan, pengayom dan pelindung masyarakat. Akibatnya, korban gempa bumi maupun tsunami demikian banyak. Pasalnya, Pemerintah cenderung lalai bahkan abai. Pemerintah, misalnya, tak segera memperbaiki atau mengganti alat pendeteksi tsunami yang konon sudah sejak tahun 2012 tidak berfungsi. Pencabutan peringatan dini tsunami oleh BMKG juga cenderung terburu-buru.

Faktanya, tsunami benar-benar terjadi sesaat setelah Gempa Palu. Akibatnya, banyak orang tak sempat menyelamatkan diri dari terjangan tsunami sehingga mereka banyak yang jadi korban.
Yang juga mengakibatkan korban bertambah banyak adalah Pemerintah tak segera melakukan upaya tanggap darurat. Akibatnya, banyak korban gempa bumi dan tsunami yang masih hidup ditimpa kelaparan karena tidak segera mendapatkan bantuan makanan, obat-obatan dan logistik yang mereka butuhkan.

Penderitaan mereka makin bertambah saat mereka kesulitan mengakses air bersih, listrik dan transportasi yang juga tak segera dicarikan solusinya oleh Pemerintah.

Jelas, semua ini makin memperparah keadaan. Makin menambah jumlah korban. Semua ini seolah menjadi “bencana” baru yang sebetulnya tak seharusnya terjadi. Seharusnya bisa dihindari. Semua ini antara lain akibat kesalahan, dosa dan kemaksiatan para penguasa dan pejabat negara. Mereka tampak tidak amanah dalam mengurus rakyat. Tidak profesional. Bahkan cenderung bertindak zalim terhadap rakyat. Jelas, semua itu merupakan tindak kezaliman penguasa terhadap rakyat.

Semua bencana ini, sebagaimana dinyatakan Al-Quran, hanyalah akibat dosa dan kemaksiatan manusia. Akibat mereka tidak mengamalkan dan menerapkan syariah-Nya.

Karena itu satu-satunya cara untuk mengakhiri ragam bencana ini tidak lain dengan bersegera bertobat kepada Allah SWT. Tobat harus dilakukan oleh segenap komponen bangsa, khususnya para penguasa dan pejabat negara. Mereka harus segera bertobat dari dosa dan maksiat serta ragam kezaliman. Kezaliman terbesar adalah saat manusia, terutama penguasa, tidak berhukum dengan hukum Allah SWT.

Tobat terutama harus dibuktikan dengan kesediaan mereka untuk mengamalkan dan memberlakukan syariah-Nya secara kaffah dalam semua aspek kehidupan. Jika syariah Islam diterapkan secara kaffah, tentu keberkahan akan berlimpah memenuhi bumi ini.[MO/sr]




Posting Komentar