Oleh :Oktavia Nurul Hikmah, S.E. 
"Alumni Unair, Anggota Komunitas Menulis Revowriter"

Mediaoposisi.com-Disini nunduk, disana nunduk. Dimana-mana remaja nunduk. Pemandangan remaja yang menunduk berasyik masyuk dengan telepon genggamnya bukanlah pemandangan aneh di era kini. Perkembangan teknologi yang berujung efisiensi menyebabkan penggunaan gadget semakin mudah dan murah. Penggunanya pun berkembang ke semua kalangan, bahkan termasuk anak-anak dan remaja.

Tak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi informasi telah memberikan kemudahan bagi aktivitas manusia. Informasi dapat diperoleh dengan mudah dan cepat. Komunikasi pun tak lagi terbatas ruang dan waktu. Namun, perkembangan teknologi tanpa pengawasan akan memberikan ekses negatif terutama bagi generasi muda.

Komisi Perlindungan Anak Kabupaten Tangerang mendapatkan temuan terkait tindak asusila melalui grup aplikasi mengobrol, whatsapp. Ironisnya, grup tersebut berisikan para siswa di satu sekolah menengah pertama di Cikarang Selatan. Selain tindak asusila, di grup yang berisikan 24 siswa dan siswi itu, para anggota saling mengajak untuk berhubungan badan (pikiran-rakyat.com, 3/10).

Miris. Tak sekedar mengakses konten porno, kini generasi muda pun tak segan mempraktekkannya. Adanya komunitas yang mewadahi dan memfasilitasi memberikan ancaman yang lebih mengerikan. Betapa ancaman kerusakan moral yang menimpa generasi muda telah berkembang di sekitar mereka. Berawal dari percakapan sesama teman sebaya, mengusik rasa ingin tahu dan berakhir mempraktekkan.

Tentu tak bisa menuding jari pada teknologi informasi sebagai biang kerok tunggal kerusakan generasi. Sebagai produk peradaban, teknologi informasi merupakan sesuatu yang netral. Secara syariat, hukumnya boleh menggunakan dan memanfaatkan.

Persoalan utamanya adalah sistem kehidupan sekuler kapitalistik yang berasaskan kebebasan. Terpisahkannya persoalan agama dan kehidupan menjadikan pembahasan agama terbatas pada ranah ibadah semata. Maka sistem pendidikan hari ini tak dibangun dengan landasan keimanan dan ketaqwaan. Padahal, iman dan taqwa pada Rabb Pencipta Alam adalah pencegah utama keburukan. Para siswa mengetahui nilai moral, tapi abai dari penerapannya karena tak terbangun keimanan dalam diri mereka.

Tak jauh berbeda dengan pengaturan sistem informasi. Masyarakat mengapresiasi kinerja Menkominfo yang berupaya keras memberantas pornografi. Namun, era kebebasan menjadikan kinerja tersebut tak pernah tuntas. Diberantas satu, tumbuh seribu. Sebagaimana prinsip permintaan ekonomi kapitalistik. Selama permintaan konten maksiat ada, selama itu pula ia akan diproduksi. 

Menyelesaikan problem kerusakan generasi tak cukup hanya dengan menyita paksa ponsel dari para siswa. Perlu mewujudkan sistem kehidupan alternatif untuk menggantikan sistem kehidupan sekuler kapitalis yang rusak. Dan sungguh, telah Allah sediakan sistem kehidupan paripurna yang akan membawa rahmat bagi semua. Itulah sistem Islam yang menyediakan pengaturan kehidupan secara lengkap berbasis keimanan kepada Allah.

Sistem pendidikan Islam akan melahirkan generasi yang takut kepada Allah dalam kondisi sendiri maupun berjamaah. Kemaksiatan tercegah di level individu maupun masyarakat karena masyarakat pun menggalakkan dakwah untuk mencegah kemaksiatan menyebar di tengah-tengah mereka. Negara pun menjalankan fungsinya untuk memelihara ketaqwaan warga negara. Sistem informasi diatur berlandaskan halal haram. Konten yang haram tidak mungkin diloloskan.

Gambaran kehidupan yang diatur sepenuhnya oleh syariat Islam telah dicontohkan oleh Rasulullah sejak hijrah beliau ke Madinah hingga runtuhnya Khilafah Islam pada 1342 H. Berpuluh tahun telah berlalu sejak runtuhnya institusi penerap syariat kaffah itu. Tak ada jalan lain untuk mewujudkan kebarakahan hidup kecuali dengan berjuang mewujudkan kembali sistem kehidupan yang akan menerapkan syariat Islam  secara sempurna dalam naungan khilafah Islamiyah. [MO/an]


Posting Komentar