Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Aku adalah salah satu ormas Islam yang mulai ada di hati umat walapun tidak disenangi oleh aparat dan penguasa. Terdorong oleh perintah Allah, surat Ali-Imron 104, banyak ormas Islam terbentuk untuk beramar ma'ruf nahi munkar.

Bagitu juga aku, ingin menjadikan Islam bisa diterapkan secara kaffah dan juga pemikiran Islam sungguh menjadi pemikiran umat. Tujuan yang lurus dan mulia sering terbelokkan karena kepen-tingan politik sesaat.

Ajaran Islam yang kaffah, tidak jarang berbenturan dengan kepentingan penguasa dan juga orang-orang dzalim  yang tidak ingin Islam mengatur kehidupan secara nyata.

Saat surat al-Maidah dinistakan banyak ormas Islam terdiam. Tidak berani menyampaikan kebenaran yang terkandung di dalam surat ini karena berbenturan dengan kepentingan politik penguasa. Namun aku tidak boleh diam.

Aku harus sampaikan pada umat yang mayoritas mempunyai perasaan dan keyakinan yang sama denganku yakni Islam. Aku hanya menginginkan umat menyadari untuk berislam secara kaffah.

Ternyata umat masih memiliki perasaan yang sama, tidak rela agamanya dinistakan walaupun banyak pemikiran asing yang tidak sejalan dengan Islam masih bercokol pada pemahaman mereka.

Saya hanya ingin menyadarkan umat untuk membuang semua pemikiran asing yang tidak sejalan dengan ajaran Islam dan hanya menjadikan islam sebagai satu satunya rujukan dalam mengatur kehidupan.

Saya hanya ingin menyadarkan umat bahwa Islam adalah aturan hidup yang lengkap. Jadi tidak perlu study-banding ke negara kafir dalam merancang undang-undang, cukup ambil dari sumber hukum Islam.

Banyak kebijakan penguasa yang tidak sejalan dengan Islam menjadi perhatianku untuk dikritisi. Banyak umat mulai simpati dengan perjuanganku. Namun, penguasa dan aparat tidak tinggal diam dan selalu memusuhiku. Berbagai cara dicari agar aku berbenturan dengan umat.

Namun, lebih banyak umat yang menaruh simpati pada perjuanganku. Walaupun, penguasa mencoba menghentikaku dengan mencabut izinku untuk tinggal di negeri yang aku ikut serta memperjuangkan keutuhannya, aku tidak akan berhenti menyampaikan Islam secara kaffah.

Jangan sampai ada ajaran Islam yang disembunyikan karena takut dengan penguasa.Pada insiden pembakaran  bendera tauhid di Garut, namaku disebut-sebut padahal aku tidak ada disana, karena aku sudah dibunuh dan dianggap mati oleh penguasa.

Mereka masih tidak puas menyakitiku. Namun umat membelaku dan merindukanku untuk terus memperjuangkan ajaran Islam yang kaffah sebagai pedoman hidup yang lengkap mengatur seluruh aspek kehidupan.

Walaupun aku sudah dibunuh oleh penguasa namun ajaran Islam yang aku perjuangkan tidak pernah mati.

Aku tidak mempunyai senjata untuk berbuat makar, tetapi aku dituduh makar. Senjataku hanya kata-kata yang masuk menghunjam ke dalam hati sanubari umat menyentuh perasaan umat dan menggugah kesadaran mereka untuk berislam secara kaffah.

Islam tidak hanya agama ritual tetapi aturan hidup lengkap yang akan membawa negeri ini menuju kehidupan yang pasti akan lebih baik.

Lalu apa salahku menyampaikan Islam kaffah? Bukankan dalam agama Islam kita diperintahkan untuk memasuki Islam secara kaffah. Bukankah negara ini masih mengakui Islam sebagai agama yang diakui dan boleh tumbuh.

Lalu apa salahku menyampaikan Islam secara kaffah. Sungguh, negeri yang membuatku bingung karena menyampaikan ajaran Islam secara sempurna, tidak hanya mengambil hal yang disukai saja dari Islam tapi semuanya tanpa ada yang disembunyikan, disebut makar.

Lalu apa salahku sampai aku dituduh makar dan anarki. Siapa yang lebih anarki dari pada orang yang berani membakar bendera tauhid yang merupakan simbol pemersatu umat Islam? Anda pasti tahu jawabannya.

Karena pertanyaan ini tidak perlu dijawab tapi direnungkan dan kemudian dengan hati yang jernih menyadari sebuah kesalahan dengan menuduh seseorang makar tanpa bukti namun hanya didasarkan atas asumsi dan kebencian saja.

Sungguh orang-orang yang melampaui batas yang akan mendapatkan balasan siksa yang amat pedih tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat nanti.[MO/gr]

Posting Komentar