Oleh: Fathina Hikam

Mediaoposisi.com- Bersumber dari Infodatin Kementerian Kesehatan RI, masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik secara fisik, psikologis, maupun intelektual. Sifat khas remaja mempunyai rasa keingintahuan yang besar, menyukai petualangan dan tantangan, serta cenderung berani menanggung risiko atas perbuatannya tanpa didahului oleh pertimbangan yang matang.

Dengan sifat khasnya, remaja bisa menjadi potensi bagi kemajuan bangsa, namun di sisi lain juga bisa menjadi salah satu persoalan serius bagi negeri ini. Awal bulan lalu ditemukan sebanyak 12 siswi SMP di suatu sekolah di Lampung tengah hamil. Koordinator Pencegahan HIV PKBI Lampung, Rachmat Cahya Aji menyatakan bahwa para pelajar tersebut umumnya dihamili oleh pacarnya  (tribunlampung.co.id, 02/10/18).

Fakta miris juga terjadi di Kabupaten Bekasi. Tindak asusila melalui grup aplikasi mengobrol, Whatsapp (WA) berhasil ditemukan oleh Komisi Perlindungan Anak Kabupaten Bekasi. Grup yang beranggotakan 24 siswa SMP itu berisi pembagian video porno, bahkan dari video tersebut para anggota saling mengajak untuk berhubungan badan (pikiran-rakyat.com, 03/10/18).

Lain halnya di Garut, warganya dihebohkan dengan terungkapnya keberadaan grup Facebook gay siswa SMP dan SMA. Dandim 0611 Garut, Letkol INF Asyraf Aziz mengaku tengah memantau aktivitas grup tersebut. Menurut Dandim, isi dari postingan-postingan di grup tersebut sangat menjijikkan (Kompas.com, 06/10/18).

Meningkatnya perilaku merusak diri pada remaja seperti pergaulan bebas merupakan potret buram bagi bangsa ini. Perilaku tersebut disebabkan karena kurangnya penanaman nilai-nilai keagamaan dan moral terhadap generasi penerus bangsa, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun negara.

Dipisahkannya aspek agama dalam peraturan di negeri ini atau biasa dikenal dengan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) juga menjadi akar dari masalah ini. Maka tak heran jika sekularisme menyebabkan pelanggaran syariat agama tetap--bahkan semakin--menjamur di tengah masyarakat.

Islam merupakan rahmat bagi semesta alam, dengannya berbagai aspek kehidupan di dunia ini diatur berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Seperti kasus hubungan seks di luar nikah atau hubungan sesama jenis misalnya, Islam memiliki aturan dan sanksi terkait hal tersebut, yang jika aturan dan sanksi tersebut diterapkan akan membuat jera sang pelaku dan mencegah orang lain melakukan pelanggaran syariat yang sama.

Sebuah hadits mengatakan, “Mengenal Allah maknanya adalah seseorang memahami bahwa Allah adalah penciptanya dan pemberi rezeki kepadanya. Yang menghidupkan dan yang mematikan dirinya. Karena itulah dia lalu menaati Allah dengan cara menuruti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.” (HR. Imam An-Nawawi).

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 57 yang berarti "Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik”.

Sebagai makhluk Allah yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya, tidakkah cukup Al-quran dan As-sunnah sebagai aturan dan pedoman dalam kehidupan ini?

Jelas sudah bahwa kehidupan ini tidak bisa dipisahkan dari agama. Sudah seharusnya kita menerapkan aturan Islam yang telah tercantum dalam Al-quran dan As-sunnah semata-mata untuk mencari ridha Allah. Insya Allah, penerapan syariah Islam akan menimbulkan kemaslahatan umat baik di dunia maupun di akhirat.[MO/sr]

Posting Komentar