Oleh: Nenden Faridah
 (Pemerhati generasi dan pengisi MT. Al-Barokah Cicayur, Bayongbong Garut)

Mediaoposisi.com- Tidak bisa dipungkiri dalam aktifitas sehari-hari kita sangat membutuhkan yang namanya media sosial serta gadget. Dan memang pengguna media sosial dan gadget ini setiap harinya semakin bertambah karena sudah menjadi suatu kebutuhan.

Baik untuk membantu pekerjaan, Bisnis Online, mempermudah komunikasi, atau untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah, kuliah, dll.Akan tetapi apabila kurang bijak dalam menggunakannya, maka kita akan mendapati akibat buruk yang ditimbulkan dari konten yang terkandung di media sosial serta gadget ini.

Sebagai contoh beberapa kasus seperti maraknya kasus remaja di negeri ini.Dan bagi kita menjadi tambahan pekerjaan rumah yang tidak kunjung habisnya. Ditambah lagi remaja menggunakan sarana-sarana digital untuk melakukan tindakan asusila, transaksi narkoba, bullying dll.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa di era milenial yang sarat akan teknologi digital, akan membuat masyarakatnya memahami seluk beluk cara komunikasi lewat digital. Akan tetapi, haruskah komunikasi digital dijadikan alat perusak generasi kita? Haruskah sarana yang seharusnya memudahkan bagi kita, malah jadi mesin penghancur bagi generasi kita?

Mari kita ulas sedikit tentang fakta penggunaan gadget serta media sosial di negeri kita. Menurut penelitian yang dilakukan We Are Social, perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite, rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial. (kompas.com)

Masih dilansir dari kompas.com, dari laporan berjudul "Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World" yang diterbitkan tanggal 30 Januari 2018, dari total populasi Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 130 juta dengan penetrasi 49 persen.

Sebanyak 120 juta orang Indonesia menggunakan perangkat mobile, seperti smartphone atau tablet untuk mengakses media sosial, dengan penetrasi 45 persen. Dalam sepekan, aktivitas online di media sosial melalui smartphone mencapai 37 persen.

Luar biasa, ternyata masyarakat Indonesia pengguna aktif media sosial dan pengguna gadget. Dari aktivitas inilah dimungkinkan ada celah untuk merusak generasi kita. Kita ambil contoh kasus prostitusi online. Pada tanggal 9 Oktober 2018, Polres Metro Tangerang Kota menangkap komplotan penyedia jasa prostitusi online melalui percakapan telefon. Salah satu operator telepon merupakan warga negara Korea. Selain itu polisi juga mengamankan barang bukti di antaranya ponsel milik tersangka, rekaman percakapan, kuitansi cek in hotel, 23 unit laptop, 70 unit modem, 20 unit pesawat telepon, beberapa tanda pengenal dan 1 lembar foto copy surat. (detiknews.com)

Betapa profesionalnya kejahatan ini. Para penjahat ini tahu betul seluk-beluk komunikasi lewat online, sehingga komunikasi mereka begitu terstruktur. Inilah celah yang bisa membuka peluang akan terseretnya generasi muda, terhadap dunia asusila. Dunia digital memang sarat akan kebebasan pertemanan.

Tapi apakah benar bahwa media sosial menjadi 'tersangka utama' untuk dipersalahkan akan kerusakan generasi bangsa ini? Mengingat bahwa teknologi digital saat ini adalah produk barat.

Menurut Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Setyo Mulyadi, atau akrab disapa Kak Seto, dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa, masa remaja adalah masa yang penuh dinamika. Saat itu, energi mereka akan meledak-ledak. Sebab, masa remaja adalah fase mencari jati diri. Tapi ketika energi dan pelampiasan emosi ini tidak mendapatkan tempat yang layak, maka para remaja akan mencari ajang pelampiasan, seperti, gank motor dan bullying.

Ledakan emosional bermanifestasi dalam kenakalan remaja. Disini peran keluarga begitu minim sebab tidak adanya perhatian terhadap anak-anak mereka (republika.com). Jadi kesimpulannya, yang menjadi pemicu kasus kenakalan remaja adalah kurangnya kontrol orang tua terhadap anak-anaknya, serta minimnya perhatian akan kebutuhan emosi anak.

Minimnya pendidikan seks dalam keluarga juga menjadi pemicu remaja terjun ke dunia asusila. Jika keluarga tidak memberikan pendidikan seks terhadap anak-anak, maka yang terjadi adalah krisis identitas seksualitas anak. Tidak hanya itu mereka akan mengira bahwa pendidikan seks adalah menonton video porno.

Padahal menurut Kak Seto Mulyadi, video porno jelas merusak otak anak. Video porno bukanlah sarana untuk pendidikan seks, ini pembelajaran yang keliru serta miss komunikasi antara anak dan orang tua. Pendidikan seks itu ada di tangan orang tua.

Lemahnya kontrol negara atas perlindungan terhadap generasi muda, juga menjadi pemicu utama berbagai kasus remaja. Perlindungan terhadap generasi bisa diawali dari pendidikan agama. Sebab jika negara ingin melindungi generasi masyarakatnya dari tindak kejahatan, maka perlu ditekankan pentingnya pendidikan agama. Tapi sayangnya, negara telah menganut sistem sekuler, dimana agama disisihkan dari kehidupan sehari-hari. Sehingga masyarakat, terutama remaja, tidak memiliki sandaran akhlak serta kepribadian, yang didasari dari aqidah.

Tidak hanya itu, negara juga lengah dalam hal pengamanan dunia digital. Sebab negara tidak membuat aturan soal batas usia untuk mengenal dunia digital, maka yang terjadi adalah anak dibawah umur mulai mengenal 'sisi gelap' dunia digital. Sebab kita tahu bahwa dunia digital memungkinkan remaja untuk bisa berteman dengan siapa saja. Ini menandakan bahwa, negara menjadikan kebebasan atau liberalisme sebagai patokan dalam pergaulan masyarakat.

Kondisi remaja saat ini tidak akan pernah berubah sebelum sistem di negeri ini diubah. Sebab kerusakan-kerusakan yang terjadi dimasyarakat bersifat sistematis. Maka diperlukan perbaikan sistem, dari sistem kufur ke sistem yang sahih yaitu Islam. Dalam penjagaan akhlak masyarakat, Islam menjadikan aqidah sebagai modal utama dalam perbaikan tatanan akhlak dimasyarakat, sehingga pendidikan agama untuk memperkuat aqidah sangat ditekankan.

Jadi Masyarakat tidak dibiarkan bebas menentukan aturan dalam perbuatan mereka, sebab syariat Islam sebagai patokannya.

Tidak hanya itu Islam juga mengajarkan pendidikan seks diusia dini. Sebab dalam Islam, pendidikan seksual merupakan suatu mekanisme untuk mengenal, memahami serta memelihara diri mereka, hal ini tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 59. Ketika anak berusia 10 tahun, wajib memisahkan tempat tidur antara anak perempuan dan laki-laki, juga mengajarkan mereka meminta izin ketika memasuki kamar orang tuanya terutama dalam tiga waktu, sesuai firman Allah SWT dalam Alquran surat An-Nuur (24): 58-59.

Dalam Islam sarana komunikasi boleh digunakan, sekalipun itu adalah produk dari barat. Tapi pengawasan akan penggunaan alat serta jaringan komunikasi harus dijaga. Sebab jangan sampai produk barat yang bersifat madaniyah atau fisik, akan merusak aqidah dan akhlaq bagi masyarakat, atau malah dijadikan sarana untuk kejahatan. Sebab sejatinya sarana yang ada haruslah menjadi penguat ibadah dan dakwah Islam.

Dengan segala kesempurnaanya maka Islam akan mampu menjawab tantangan di setiap zaman. Meskipun sarana berubah, syariat Islam akan selalu sesuai dengan zamannya. Bukan malah sebaliknya. Hanya Islam lah yang mampu memuliakan manusia seutuhnya.[MO/sr]




Posting Komentar