Oleh : Ade Aisyah

Mediaoposisi.com-Bagai bumi dengan langit.  Itulah perumpamaan sifat perbuatan yang sangat bertolak belakang antara perbuatan membawa dan mengibarkan bendera tauhid dengan membakar bendera tauhid. 

Dalam pandangan Islam membawa dan mengibarkan bendera tauhid dengan penuh rasa ta’dzim dan memuliakan kalimat tauhid itu sendiri  adalah termasuk akhlaqul karimah (akhlak yang mulia) sementara membakar bendera tauhid apalagi dengan kepuasan  dan mengolok-olok termasuk akhlaqul madzmumah (akhlak yang buruk),

Su ul adab (adab yang buruk) dan perbuatan biadab, menyakiti perasaan umat Islam yang senantiasa menjaga kemuliaan kalimat tauhid  Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasuulullah. Bahkan bagi umat Islam Kalimat tauhid adalah perkara hidup dan mati.

Sikap para Sahabat Rasulullah SAW sendiri menampakkan dengan jelas dan gamblang  tentang  pembelaan mereka terhadap ar-Rayah (Bendera Rasululuah/Bendera Tauhid). 

Dalam Perang Mu’tah.  Pasukan kaum muslimin yang berjumlah 3000 orang harus menghadapi pasukan Romawi Nasrani yang berjumlah 200.000 orang.  Peperangan berkecamuk dengan dahsyat.

Pusat perhatian musuh tertuju kepada pembawa bendera kaum muslimin dan keberanian para panglima Islam dalam maju memerangi musuh, hingga mati syahidklah panglima pertama Zaid Haritsa radhiallahu ‘anhu. 

Lalu bendera perang diambil oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.  Beliau berperang habis-habisan hingga tangan kanannya terputus, lalu bendera dibawa  dengan tangan kirinya hingga terputus pula dan Ja’far merangkul bendera dengan dadanya hingga terbunuh. 

Beliau syahid dengan ditemukan 90 luka lebih akibat tebasan pedang, tusukan panah atau tombak yang menunjukkan keberaniannya dalam menyerang musuh.Kemudian bendera perang dibawa oleh panglima ketiga. 

Abdullah bin Rawahah radhialloohu ‘anhu dan berperang hingga mati syahid menyusul kedua rekannya.  Agar bendera tidak jatuh, pasukan muslim bersepakat untuk menyerahkannya kepada Khalid bin Walid  radhiallahu ‘anhu maka Kahalid pun membawa bendera tersebut.

Itulah kisah teladan para shahabat generasi terbaik Islam dalam memuliakan bendera tauhid.  Mereka rela mengorbankan jiwa raga demi membela bendera tauhid dan kemenangan Islam.  Mereka mendapat kemualiaan di hadapan  Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman.

Berbeda dengan perlakuan rezim saat ini terhadap pembawa bendera tauhid.  Kriminalisasi justru dilekatkan terhadap pembawa bendera tauhid dan anehnya sang pembakar bendera tauhid malah dilepasan oleh polisi. 

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komisaris  Jenderal Arief Sulistyanto mengataan pria  yang diduga membawa bendera saat insiden pada peringatan Hari Santri Nasional itu berinisial US (34 tahun) berasal dari Desa CIbatu Garut. 

Ia sudah diamankan di tempat kerjanya di Jalan Laswi Bandung, Jawa Barat, Kamis (25/10) sekitar pukul 13.00.  US terancam hukuman penjara selama tiga pekan dan denda Rp 900.

Sementara itu, tiga orang yang terkait dengan pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid dilepaskan polisi.  Menurut Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU mereka dilepasan karena  tidak terbukti melakukan penistaan agama. 

Bahkan dia berpendapat banyak ulama menyebut menulis kalimat tauhid di bendera itu hukumnya makruh. Sikap polisi dan sebagian tokoh ulama tersebut sudah menyakiti perasaan sekian juta umat Islam Indonesia. 

Sulit sekali memperoleh keadilan bagi umat Islam di negri yang mayoritas umat Islam.  Belum reda rasa marah akibat pembakaran bendera tauhid.

Umat sudah disakiti lagi dengan ketidakadilan yang diterima  dari pihak kepolisian dan sikap rezim saat ini yang tidak berpihak kepada mayoritas umat  Islam yang sudah didzolimi.

Umat Islam tidak bisa berharap banyak kepada negara yang berjalan diatas sistem sekuler seperti saat ini, Kemuliaan Islam dan umat Islam  hanya akan terjaga dalam negara yang menerapkan Islam Kaffah.  Walloohu ‘alam bish Showab.

Penulis adalah ibu rumah tangga, anggota Akademi Menulis Kreatif, Pengajar di STP Daruth Tholibin al-Ayyubi Garut dan Kepala Paud Siti Aisyah Samarang Garut.[MO/gr]





Posting Komentar