Oleh: Nurhayati

Mediaoposisi.com- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berikan pembekalan resonansi kebangsaan serta bahaya radikalisme dan terorisme kepada 4000 mahasiswa baru dan civitas akademika yang turut hadir pada musim penerimanaan mahasiswa baru di Universitas Widyatama Bandung. (https://www.bnpt.go.id/berikan-pembekalan-dan-resmikan-gedung-di-universitas-widyatama-kepala-bnpt-ajak-ribuan-mahasiswa-identifikasi-radikalisme.html/amp)

Tidak hanya isu radikal dan terorisme yang berhembus di lingkungan pendidikan, setahun menjelang pemilihan presiden isu politik menjadi buah bibir dunia kampus. Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) akan segera mengeluarkan peraturan tentang larangan kampus tidak boleh untuk kegiatan politik praktis. (https://m.detik.com/news/berita-jawa-tengah/d-4213295/menristekdikti-kampus-tidak-boleh-untuk-berpolitik-praktis)

Pemuda merupakan bagian dari masyarakat yang notabenenya lebih aktif, memiliki semangat menggebu, visioner dan ahli dalam pergerakan. Kalaulah ada generasi yang bisa dipercaya dan mampu mengemban amanah sebesar dunia, maka pemudalah orangnya. Rezim menaruh perhatian lebih terhadap pemuda. Isu radikal dan terorisme yang katanya mengancam mahasiswa ditangani serius dengan turunnya perangkat aparatur negara ke universitas.

Apa yang dilakukan oleh BNPT dan Menristekdikti baru-baru ini bukanlah perhatian pertama terhadap dunia kampus dan mahasiswa. Telah ada upaya sebelumnya dalam rangka menangkal isu radikalisme dan bibit-bibit terorisme di perguruan tinggi. Upaya itupun tak tanggung-tanggung, Presiden Republik Indonesia yang langsung memilih rektor di universitas negeri maupun swasta. (https://m.detik.com/news/berita/d-3517470/mendagri-tak-lagi-oleh-dikti-rektor-kini-dipilih-presiden) 

Istilah ‘radikal’ pada umumnya disematkan pada orang yang memiliki pemikiran ekstrim, teror yang dilakukan pada aksi pemboman di suatu daerah disebut ‘teroris’. Tak bisa dipungkiri, istilah ini kemudian dimanfaatkan oleh suasana politik yang sedang memanas.

Kemudian isu ini digunakan untuk menunjuk islam sebagai tersalah tunggal. Media di desain sedemikian rupa agar terbentuk opini bahwa yang radikal dan teroris adalah mereka yang berpaham islam kaffah yang dengan pemikiran radikalnya berusaha mengganti Pancasila dengan Khilafah melalui berbagai terror yang dilakukan oleh umat muslim.

Pemuda diajak memiliki pemikiran yang sama. Bahwa kesucian Islam akan ternodai dengan orang-orang yang koar-koar tentang Islam Kaffah dan Khilafah. Karena sesungguhnya Islam itu cinta damai, hanya orang-orang radikal yang mengatasnamakan Islam kemudian melakukan aksi terror. Melalui rangkaian sosialisasi yang dilakukan pemerintah, pemuda diajak untuk menjadi Islam yang biasa saja.

Jika dicermati, apa yang salah dengan ide Islam kaffah? Bukankah Allah telah berfirman bahwa Muhammad diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh dunia? (TQS. Al-Anbiya: 107). Jika Islam pun telah sedemikan rupa sempurna mengatur hidup manusia hingga memiliki aturan bernegara, lantas kenapa jika umat Islam menginginkan khilafah?

Untuk membendung arus opini Islam, pergerakan pemuda berusaha dibungkam.. Mahasiswa diberi tanda warning, bahwa yang menginginkan Khilafah adalah anti Pancasila, yang mendakwahkan Islam Kaffah adalah teroris-radikal. Jika mahasiswa berpolitik, silahkan keluar saja dari kampus. Artinya rezim menginginkan pemuda tidak usah ikut campur soal urusan umat dan politik. Pemuda jadi mahasiswa saja, fokus pada studi kemudian jadilah interpreneur.

Pemuda takkan dibiarkan melanggeng bebas, aksi turun kejalan menyuarakan Islam dengan tuntutan penerapan Islam kaffah akan senantiasa dibungkam. Antisipasi dininya ialah pengadaan kuliah umum bahaya radikalisme dan terorisme dikalangan mahasiswa, kemudian membuat penguasa langsung yang turun tangan. Peran mahasiswa diaborsi sedini mungkin agar kalangan pemuda tak menjadi batu sandungan kepentingan penguasa dan pemilik modal.

Jika demikian, maka dapat disimpulkan bahwa upaya penguasa melakukan perlawanan terhadap radikalisme dan bibit-bibit terorisme di kampus merupakan upaya membendung kebangkitan Islam dan menekan pemuda muslim agar tak menjadi duta dalam penyebaran dakwahnya. Berusaha membuat mahasiswa agar tak memikirkan dakwah Islam serta terus disibukkan oleh tugas kuliah.

Sebab penguasa tau bahwa pemuda dengan peran strategisnya akan sanggup melakukan apa saja apalagi sekedar melawan kedzoliman penguasa. Dan penguasa tak ingin pemuda tau bahwa potensi mereka akan mampu membawa kebangkitan Islam yang artinya akan membawa kehancuran bagi penguasa. Dan sudah selayaknya pemuda tau akan perannya serta segera sadar dari bius yang melenakannya karena pemuda adalah agen perubahan.[MO/sr]

Posting Komentar