Oleh: Aulia Rahmah

Mediaoposisi.com- Sosok ulama dalam kehidupan Umat Islam ibarat suluh ditengah kegelapan (mengutip pernyataan Ustadz Abdul Shomad). Merekalah pemandu hidup manusia yang kerap dilalaikan oleh hiruk pikuk kehidupan dunia.
   
Interaksi hubungan manusia dengan Tuhannya dan dengan sesamanya menjadi tertib dan teratur sebab bimbingan ulama. Dengan keikhlasan mengharap ridha Allah mereka  mencurahkan tenaga dan pikiran, mendedikasikan hidupnya sebagai penyambung lisan Rosulullah Saw, yang bersabda : " Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham melainkan mewariskan ilmu " ( HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah )
   
Sekularisasi disemua lini membawa efek pada upaya pengkerdilan peran ulama. Ulama diangap tak elok memberikan ceramah tentang politik. Seperti yang dilansir oleh CNNIndonesia.com (9/9), Kepolisian Resor Metro Tangerang Selatan memperingatkan agar ceramah UAS ( Ustadz Abdul Shomad ) tidak mengandung unsur politik praktis dan hanya fokus pada agama. Ulama hanya diperbolehkan ceramah tentang sholat, zakat, dan puasa saja.
   
Sekularisme bukanlah ajaran Islam, memisahkan Islam dari politik ibarat memisahkan kepala dari tubuh. Jika kepala telah dipenggal maka tak akan lama lagi tubuh akan mati. Menyambut sekularisme justru akan menyebabkan keterpurukan dan keterjajahan Umat Islam. Sangat disayangkan bila aparat di negeri muslim terbesar Indonesia melarang ulama ceramah tentang politik Islam.
   
Bagaimana dapat menjadi suluh di tengah kegelapan jika ulama dibatasi ceramahnya ? Padahal hidup manusia selama 24 jam sebagian besar berkaitan dengan politik. Pernikahan, pendidikan, pekerjaan, perdagangan, dan pemenuhan kebutuhan lainnya, semua berkaitan dengan politik.
   
Eksistensi bangsa ini juga atas jerih payah para ulama. Sebut saja Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Teungku Umar,  mereka adalah para ulama. Mana mungkin mereka dapat teguh berjuang melawan penjajah tanpa pemahaman politik Islam ?
   
Umat Islam tak boleh alergi dengan politik, tetapi harus memahami politik Islam yang benar. Politik bukanlah sekedar meraih kekuasaan melalui partai - partai yang diembel - embeli Islam saja. Lebih dari itu, politik Islam adalah upaya untuk mengatur urusan umat, menjamin kebutuhan rakyat terpenuhi dengan baik, dan mewujudkan Islam rahmatan lil alamin.
   
Memperjuangkan Islam sebagai agama dan politik ( ideologi ) merupakan kewajiban dan prasyarat kebangkitan kembali Umat Islam. Dengan politik Islam yang dipandu oleh ulama pewaris nabi, umat akan peka dengan segala bentuk penjajahan. Dengannya maka akan tumbuh persatuan yang kokoh sehingga seluruh komponen bangsa akan dengan ikhlas bersinergi melawan penjajah.
   
3 G. Gold, Glory, dan Gospel yang melekat dalam diri penjajah tetaplah eksis hingga hari ini. Merampas kekayaan alam negara jajahan, menyebarkan agama, dan mencari kekuasaan untuk melangengkan penjajahannya, selalu disebar oleh negara - negara besar yang rakus akan kemewahan dunia. Umat Islam sering terkelabuhi dengan penjajahan gaya baru yang dibungkus kontrak kerja dibidang ekonomi, perdagangan, politik, dan kebudayaan. Tanpa suluh dari para ulama, mustahil umat akan menyadari hal itu.
   
Jika petinggi negeri ini melarang ulama memberi pencerahan politik Islam maka bangsa Indonesia akan tetap berada pada kegelapan. Kubangan penderitaan akan selalu menyelimuti. Negeri kaya dengan berjuta potensinya sirna oleh manusia - manusia serakah. Sungguh menyayat hati jika kita menderita gizi buruk, hutang selangit, harga BBM mahal. Kemanakah kekayaan alam kita ?
   
Oleh karenanya ulama dengan kapasitas keilmuannya sangatlah bermanfaat untuk kita jadikan obor dalam hidup kita. Tentu saja ulama yang menolak sekularisme, llbealisme, kapitalisme, dan paham lain yang bertolak belakang dengan Islam. Sebab dengan cara menyebarkan paham - paham inilah penjajah kini mengaplikasikan bentuk penjahahan gaya barunya.[MO/sr]


Posting Komentar