Oleh:Dewi Nasjag
(anggota akademi menulis kreatif)

Mediaoposisi.com-Tak lekang oleh jaman, ternyata para pembenci Islam selalu eksis. Yang beda cuma casing. Dulu ada Abu Jahal, sekarang ada Abu Janda dll.

Masih  viral  pemberitaan tentang pembatalan ceramah  dari salah satu ulama kondang tanah air, Ustadz Abdul Somad (UAS), beliau mengaku  memilih membatalkan ceramahnya di beberapa tempat  karena mendapatkan intimidasi dari pihak tertentu.   Itu disampaikan pada akun instagram dan facebook miliknya,  Lantas  menyusul  beberapa pemberitaan terkait  yang juga viral di berbagai media.

Dilansir dari  cnn.indonesia.com (9/9/2018) bahwasanya sehubungan UAS akan mengisi ceramah di Tangerang Selatan, Kapolres Tangerang selatan, AKBP Ferdy Irawan memberi catatan  kepada UAS agar tidak berceramah  soal politik .  Fokus pada  perihal agama saja.

Catatan  senada juga disampaikan oleh Wapres,  Jusuf Kalla (JK) yang menghimbau UAS untuk mengevaluasi kembali materi ceramah agar tak menuai  banyak pro dan kontra di masyarakat (cnn.indonesia.com , 4/9/2018).
Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash Shaf (61): 8)
Ayat di atas layak  disematkan kepada  para elit penguasa yang layaknya Abu Jahal kekinian.

Karena telah dengan  terang benderang melarang  Ulama untuk tidak membawa-bawa politik  ketika berdakwah .  Para elite berpendapat  bahwa Islam  itu sudah suci jadi  tak perlu ikut campur dan mengatur politik . Agama ya agama dan politik ya politik . sungguh ini merupakan  _"keseleo statement"_ yang akan bikin masyarakat meradang .

Ya… karena  ini artinya   sama saja  dengan mengatakan bahwa Islam bukanlah agama yang sempurna dan paripurna.

Sejatinya, Islam adalah agama yang syammil mutakammil (sempurna dan paripurna),. Islam tidak melulu mengatur masalah ibadah ritual . 

Tapi  juga mengatur seluruh aspek kehidupan  antara lain : Sosial, Ekonomi, Pendidikan, dan Politik.  Islam telah mengatur  sampai pada tataran yang sangat detail dalam kehidupan manusia.   Disinilah  letak keistimewaan dan kesempurnaan islam.

Sebagai agama politik sekaligus  ideologi , Islam menjadi jalan hidup yang  memberikan arahan  dan tuntunan kepada manusia, dalam segala hal.   Sehingga Islam tidak akan pernah bisa jauh dari politik.  Politik Islam , tentunya.

Jika para elit penguasa  melarang ulama agar tidak berceramah politik dan hanya membolehkan  Ulama membicarakan  urusan ibadah ritual saja, Lantas apa bedanya  agama  Islam dengan agama lain?!

Melarang Ulama bicara politik berarti menolak serta mengamputasi  sebagian ajaran Islam . Sungguh  pelarangan tersebut merupakan  upaya sekulerisasi (pemisahan) massif yang menyingkirkan peran Islam dalam pengaturan kehidupan.

Sekulerisasi Penyebabnya
Sekulerisasi adalah upaya menjadi kan kehidupan jauh dari agama . Sekularisasi , membebaskan  manusia dari agama dan metafisik. Sehingga manusia hanya akan mengedepankan urusan  kehidupan duniawi tanpa perduli  lagi tentang kehidupan ukhrowi . Manusia pun terdorong  untuk  bebas  berprilaku hanya  berdasarkan hawa nafsu.

Itulah cara pandang yang mendasari mereka mengkritik Ulama yang berpolitik atau mebawa konten politik dalam ceramahnya. Sekuler.  Mereka tak mau agama ikut campur urusan pemerintahan atau pengaturan masyarakat.

Padahal itulah sumber penyebab atas berbagai  keterpurukan dan kerusakan .  Sebagaimana kita tau telah begitu banyak problema  yang terjadi di negeri ini .  Kasus  korupsi yang makin tumbuh subur, narkoba yang menjamur di setiap kalangan, kenakalan remaja dimana mana, pelacuran,  seks bebas berikut praktik aborsi , pembunuhan dan tindakan  kriminalitas lainnya.

Disadari ataukah tidak  kesemuanya adalah keniscayaan  fakta akibat  sekularisasi .  Seharusnya masyarakat tidak boleh alergi politik, sebaliknya harus melek  politik .yang tentunya adalah politik  Islam,  yang benar,

Sebenarnya, Politik di dalam Islam bukan lah politik pragmatis  seperti yang terjadi sekarang. Saling adu rebut kekuaasan yang dengan kekuasaan tersebut  dijadikan sebagai alat untuk meraup kekayaan tanpa peduli tentang nasib rakyatnya

Politik dalam Islam  tidak lain- adalah ri'ayatusy syu'unil ummah dakhiliyan wa kharijiyan bi hukmin mu'ayanin (mengatur urusan umat , baik di dalam negeri atau luar negeri dengan hukum tertentu).  Hukum dalam hal ini , yaitu  syariat Islam yang akan membawa keberkahan pada seluruh alam.
Bukankah negeri ini adalah negeri yang  mayoritas penduduknya  beragama Islam.  Lantas apa yang ditakutkan dari Ulama yang berceramah politik islam?!

 "Buta Terburuk Adalah Buta Politik"
Orang yang buta politik sebenarnya adalah buta segalanya,dia tidak mendengar,tidak melihat dan tidak mengambil andil dalam peristiwa. Dia  akan begitu dungu dengan  mengatakan"aku benci politik!".Sungguh  kalimat yang  justru melahirkan kerusakan dan memicu  para penjajah  berbondong bondong datang   menjarah negeri ini _with very easy absolutly.

"Orang Islam yang tidak peduli pada politik, akan dipimpin oleh politisi yang tidak peduli pada Islam "

Ada benarnya perkataan Erbakan (mantan PM Turki) ini . Sebenarnya sudah kita rasakan di era Demokrasi,Kapitalisme-Sekularisme, di mana umat Islam yang mayoritas namun serasa minoritas. Betapa tidak, Islam selalu dilabeli Radikal  , dikatakan Teroris, ceramah  dibatasi , dakwah di bungkam , sekolah-sekolah Islam dicurigai dan masih banyak lagi bentuk bentuk diskriminasi tehadap  Islam dan umat mayoritas.

Duh gusti… Sebagai umat Islam mbok ya  jangan alergi politik. Agar umat Islam bangkit kembali, tak terpuruk tak terjajah,dan  tak terpecah belah  memang tak bisa ditempuh dengan  cara kompromi, melainkan  hanya dengan dakwah politik.  Para ulama harus ambil bagian mejelaskan Islam sebagai agama politik yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Hanya itu cara yang hakiki. Berdakwah Islam  kaffah sesuai metode Nabi.  Perjuangkan syariat Islam agar  tegak kembali  Jadi  , why not dakwah politik.[MO/sr]

Posting Komentar