Oleh : Husain Matla

Agak gemes juga saya melihat respon Prof. Nadirsyah Hosen (dianggap  seakan profesor keislaman tapi selama ini kulakan ilmunya ke Australia), yang menyerang khilafah dengan mengeksplorasi error-error di masa khilafah. Dengan itu beliau mengatakan “anak-anak eks HTI itu lucu-lucu” karena membela peradaban yang banyak penyakitnya.

Mediaoposisi.com-Saya kira tanggapan itu tidakjujur. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani sendiri sudah mengatakan bahwa khilafah Islam adalah daulah basyariyah alias negaranya manusia alias negara manusiawi sehingga bisa juga salah. Jadi HTI bukan memperjuangkan suatu yang tak bisa salah. Itu tak berarti tak perlu diperjuangkan karena itu adalah perintah Allah.

Shalat yang pelaksanaannya salah banyak, tak berarti kita tak perlu shalat. Tak perlu kita mengecam shalat. Apalagi berkata, orang yang menjalankan ritual agama lain nyatanya lebih disiplin, tertib, dan semacamnya.

Secara matematik, suatu kesempurnaan konsepsi  jika dilaksanakan oleh pelaku yang tidak sempurna, hasilnya  akan tidak sempurna.  Y = a X. Sungguh pun X-nya 100, jika  a  < 100 %, maka Y < 100. Tak perlu kita mengatakan Y= 100. Tapi jangan juga katakan  X  bukan 100. Tak perlu kita katakan implementasi khilafah tak mungkin salah. Tapi tak perlu pula kita katakan khilafah salah  (ibaratnya : Y = implementasi khilafah, a = manusia, X = sistem khilafah).

Terkait ini saya ingin memberikan ulasan tentang lima penyakit  pada umat Islam. Dengan ini kita bisa melihat penyakit umat Islam di masa dulu (ketiika salah menjalankan Islam) dibanding sekarang  (ketika hidup dalam demokrasi dan kapitalisme).

Apakah kita bisa percaya diri, termasuk terhadap umat Islam yang dulu paling buruk sekalipun dalam menjalankan Islam, sebagaimana Nadirsyah Hosen, yang  begitu percaya diri menyerang yang “tempo doeloe” dan membela yang “zaman now”.

Lima Penyakit Umat Islam

1. Penyakit tiap generasi

Al Alamah Ibnu Khaldun mengatakan bahwa negara terdiri dari empat generasi, yaitu perintis, pembangun, penjaga tradisi, penikmat. Setelah itu disambung negara berikutnya. Generasi awal selalu lebih baik dari generasi berikutnya.

Sungguhpun demikian, kalau kita gali lebih dalam, tak berarti generasi awal pasti ideal. Di sini saya ingin memberikan gambaran bahwa tiap generasi bisa punya penyakit. Itu yang membuat generasi berikutnya terganggu.dan itu pula yang membuat negara bisa berusia pendek. Berikut contohnya.

a)  Penyakit generasi pertama: keras kepala, visioner ekstrem, pelit, tak seimbang. Contoh real Indonesia. Mengapa yang menjadi pemimpin generasi kedua adalah Pak Harto, yang bukan penerus orde lama. Karena generasi pertama berada dalam penyakit tadi. Bung Karno menyingkirkan Masyumi, menggunakan uang negara dalamjumlah besar untuk membangun simbol-simbol nasionalisme, kemudian zaman itu ekonomi terabaikan, dana untuk pembangunan kurang. Beliau bercerita kesederhanaan tapi hidupnya dikelilingi para penaridan lukisan mahal. Ini beda dengan Rasulullah yang “generasi pertama yang asli”, yang zuhud dan manusiawi. Sehingga semuapihak, termasuk musuhnya, Abu Sufyan, tunduk mengikuti beliau.

b) Penyakit generasi kedua: terlalu fokus, monoton,  kurang menghargai kreativitas. Ini seperti Indonesia diakhir Orba. Dana pembangunan besar. Dana pendidikan kecil. Sehingga gagap alih generasi. Infrastruktur dibangun di banyak tempat. Tetapi rakyat tidak berkembang. Ekonomi sudah dalam kendali aseng dan asing. Ini berbeda dengan masa khilafah masa generasi kedua. Sungguhpun Muawiyah  banyak dikecam, tapi tetap lebib baikdari PakHarto. Ide-ide baru, termasuk dari lawan politiknya, Hasan bin Ali dan Ibnu Abbas, masih diakomodasi. Ide-ide juga diserap dari rakyat sendiri. Sehingga pada masa itu angkatan laut khilafah menjadi nomorsatu didunia. Wilayah khlafah Islam berkembang menjadi dua kali lipat.

c) Penyakit generasi ketiga:  pragmatis,suka dagang sapi. Genarasi ini menghasilkan banyakpemimpin, sebagai kader-kader hasil generasi kedua. Tetapi sering tidak rukun. Sehingga untuk rukun akhirnya muncul politikdagang sapidan saling sandera. Ini sebagaimana Indonesia di masa sekarang. Ini adalah peyimpangan. Majapahit dimasa Hayam Wuruk, Mataram dimasa Sultan Agung, Khilafah Abbasiyah di masa Harun Ar-Rasyid (ketiganya khas generasi ketiga pula) tampaknya lebih baik dari itu.

2. Penyakit tiap empat generasi

Terjadi saat negara kacau balau. Yaitu saat generasi keempat. Menyongsong  munculnya restorasi, atau revolusi. Terjadi kemewahan dan pemborosan. Rebutan harta, tahta, wanita. Perang Paregrek di Majapahit terjadi dalam kondisi ini. Rebutan Roro Hoyi antara Amangkurat I dan anaknya, Amangkurat  II, terjadi dalam kondisi ini. Zaman inilah zaman ketika Surat At-Takatsur mendapatkan konteksnya.

3. Penyakit empat generasi di negara ketiga sejak kebangkitan

Terjadi kemewahan dan pemborosan. Tetapi skalanya luar biasa. Inilah yang sebenarnya dikritik oleh  Nadirsyah Hosen. Kita bisa memahami ini dengan gampang jika peta peradaban kita uraikan dalam negara demi negara berbasis urutan waktu. Anggap sepuluh negara.

Negara pertama adalah negara kebangkitan. Negara ketiga adalah negara kejayaan. Negara kelima adalah negara kehancuran. Bangkit lagi. Negara kedelapan adalah negara kejayaan kedua...

Negara kesepuluh adalah negara kehancuran kedua. Sehingga bentuknya berupa grafik M. Itulah yang saya maksud sebagai “SIKLUS M” di buku saya, “Islam Memimpin Milenium III seri 2, Siklus M”. Jika kita uraikan usia peradaban itu 1300 tahun, maka dalam 1300 tahun, penyakit ini terjadi dua kali, yaitu di negara ketiga dan negara kedelapan.

Di peradaban Islam, itu lebih tepatnya dimasa putra-putra Khalifah Al-Mutawakkil di masa Abbasiyah (abad IX M), dan dimasa putra-putra Khalifah Murat III di masa Utsmaniyah (abad XVI M). Lebih tepatnya kondisi kekacauan selama 9 tahun pasca meninggalnya Al-Mutawakkil (di sinilah posisi khilafah yang dikecam Nadirsyah, terutama masa Khalifah Al-Mu’tazz ( bin Al Mutawakkil) ) dan pemerintahan 10 tahun Khalifah Mehmed III (bin Murat III).

Bayangkan, itu adalah kondisi ketika harta mengalir dari segala penjuru dunia. Saya juga jengkel sebagaimana Pak Nadirsyah.Tapi saya mencoba untuk objektif. Saya sendiri membayangkan, andai saya ganteng sekali, menjadi khalifah di usia di bawah 25 tahun, banyak pihak takhlukan menyerahkan anak-anak gadis cantik untuk jadi selir saya, demi perlindungan terhadap provinsi yang mereka pimpin, sebagian dari mereka menyerahkan pasukan, sebagian menyerahkan upeti, sebagaimana “COBAAN DUNIA” yang menimpa Al Mutawakkil dan Murat III, apa yang bisa saya lakukan?

Resikonya saya punya anak-anak serupawan  dan sekece Al Ghazalinya Ahmad Dhani sekaligus calon penerus tahta negara terbesar di dunia,tapi nantinya mereka saling bertikai di antara mereka, masing-masing didukung ibunya yang bersaing dengan panglima-panglima terhandal di dunia..

Saya akan mencegah itu semua terjadi !!!  Itu pikiran saya yang jauh dari pusat harta dan pusat kekuasaan dan sekarang berusia 45 tahun,dan dapat amanah jaga mushala.

Tapi bagaimana jika saya persis sebagaimana kedua khalifah itu? Saya tidak ingin membela apa yang terjadi di masa khilafah, karena itu memang salah. Tetapi proporsional lah. Itu hanya terjadidua kalidalam 1300 tahun. Tak hanya puncakkejayaan negara. Tetapi puncak kejayaaan peradaban.

Dan peradaban barat  juga mengalami hal itu. Bahkan jauh lebih parah. Bedanya lebih banyak terjadi pada konglomerat, bukan presiden, karena pusat harta dan kuasa di konglomerat. Lihat saja berbagai penjajahan dan perampasan yang dilakukan. Perilaku pembesar Inggris dan Belanda dimasa lalu. Belum lagi kerusakan moral yang terjadi. 

Ribuan budak wanita Bali dan Manado diboyong ke Batavia, dan takada akad yang pasti seperti dalam peradaban Islam. Bahkan di masa sekarang ini, coba dihitung saja berapa juta hubungan intim pria wanita yang tidak sah dalam tiap jamnya? Belum lagi pertentangan oral-orba yang korbannya jutaan. Pertikaian AS-RusiadiSuriah yang menjadikan berbagaikeluarga mengenaskan.

Khilafah mengalami kerusakan dipusatnya dua kali dalam 1300 tahun kau maki-maki. Sekarang rusak dimana-mana selama berabad-abad kau diamkan? Maumu apa profesor?

4. Penyakit keempat, penyakit pemikiran. Initerjadi pada negara keempat dan negara kesembilan dari kesepuluh urutan negara tadi. Saat  itu muncul filsafat yang aneh-aneh warisan Romawi dan Persia. Banyak umat  Islam sampai termurtadkan karena ini.

Secara syara’, tentu saja inilebih parah dibanding ketiga penyakit sebelumnya. Karena resikonya kafir, bukan lagi maksiyat. Kecuali kalau anda menganggap kekafiran bukan masalahyang harus diurus..

5. Penyakit kelima,mengemban pemikiran asing. Ini adalah kondisi paling parah karena terjadi pergantian standar nilai, daristandar Islam,menuju standar asing.  Kalau sudah begini, yang halal akan dianggap haram,sementara yang haram akan dianggap halal.

Ustadz punya istri dua dianggap manusia durjana, pimpinan geng motor berlangganan ratusan PSK dianggap wajar, bahkan ditunggu-tunggu bantuannya untuk loba bola voli berhadiah menthok di banyak desa. Harta riba dianggap lumrah, padahal dosanya seperti menzinahi ibunya sendiri. Akibatnya pun parah.

Penjajah merasa gampang  menjajah, karena “cukup dengan hutang diperbankan kami”. Rakyat dibuat boros luar biasa. Pegawai golongan dua bergaya hidup golongan tiga karena ambil kredit gampang. Nantinya warisannya pun berupa hutang. Termasuk warisan negaranya, yang hutangnya 4000 T lebih.

Pemimpin partai yang meragukan akherat pun menjadi ketua pembinaan ideologi negara, membawahi ulama nomor satu di majelis ulama. Kalau seperti ini dianggap biasa, untuk apa Rasulullah menyebarkan Islamdengan resiko nyawa? Bukankah mending hidup damai dengan keluarga, serta menjalin koalisi dengan Abu Lahab?

Penguasa muslim punya selir dianggap amoral (padahal itu halal,entah akadnya istri atau budak), sementara tiap kabupaten bahkan sebagian kecamatan mempunyai lokalisasi.

Artis-artis papan atas merasa aman-aman saja anak perempuannya dibawa anakkonglomerat ke mana-mana karena sutra dengan s besar telah bertebaran di berbagai minimarket. Hukuman poting tangan buat pencuri dimaki, tapi ribuan koruptor tertawa. Hukuman rajam dikecam tapi pemerkosa dan pedofilia menjamur dimana-mana.

Bagaimana mau menghilangkan itu semua sementara sesuai kaidah demokrasi presiden dipilih rakyat dan untuk dipilih butuh dukungan dana raksasa, sedangkan sesuai kaidah kapitalisme para konglomeratlah yang menyandang dana raksasa dengan kompensasi usaha haram juga harus dilegalkan di negeri itu agar dana mereka meraksasa.

Dari lima penyakit tadi, kalau kita  pahami standar-standar berbasis nash syara, maka nomor satu paling ringan selanjutnya makin berat, dan paling berat adalah nomor lima. Khilafah dimasanya yang buruk dilanda penyakit nomor tiga. Sementara sekarang ini, dimasa tidak ada khilafah. Yang terjadi adalah nomor lima.

Secara logika anakSD pun sebenarnya logika tentang hal ini cukup sederhana. Tidak shalat,apalagi menyalahkan shalat, tentu lebih buruk dibanding  shalatnya salah. Mentertawakan orang yang kentut saat shalat tapi dia tidak shalat bahkan menghina shalat, tentu itu hanya layak jika ada tuhan lain yang punya surga dan neraka versi lain.

Tetapi saya akan tetap setuju dengan Profesor Nadirsyah Hosen dengan catatan:  jika nabi kita orang Australia dan ia memperbilehkan riba dan pelacuran.

Kalau tidak, lebih baik kita semua berpikir agenda paling urgen umat Islam:

1.Dirikan khilafah Islamiyah
2.Antisipasi semua "penyakit" dan pencegahannya
3.Siapkan dakwah skala dunia

Kita bayangkan, rindukan, impikan: para ulama, tokoh parpol Islam, tokoh ormas Islam, militer, menggalang implementasi hal-hal itu.[MO/sr]

Posting Komentar