Oleh: Nisa Rahmi Fadhilah
(Mahasiswi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Mediaoposisi.com- Tahun Baru Islam ditandai dengan bergantinya bulan Dzulhijjah ke bulan Muharram. Itu berarti, sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru Islam 1440 H. Di Indonesia, umat islam  sangat antusias menyambut momen ini, ada yang menyambutnya dengan kegiatan pawai, perlombaan islami, hingga tabligh akbar.

Umat Islam senantiasa berharap bahwa dengan bergantinya tahun hijriyah ini dapat membuat kehidupan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Namun yang  terpenting bagi umat islam ialah dapat meneladani hijrah Rasulullah saw. dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah

Kata “hijrah” di Indonesia menjadi populer. Pasalnya, kata ini digunakan untuk seseorang yang mengalami perubahan diri dari kondisi kemaksiatan menuju kondisi islami, dari pribadi yang brandal menjadi individu yang dekat dengan Allah SWT, dari muslimah yang belum menutup aurat menjadi sosok yang tak lepas dri jilbab. Masyarakat sering  menamakan hal tersebut sebagai fenomena hijrah.

Pengunaan kata hijrah tidaklah salah, karena hijrah terbagi menjadi dua macam yaitu hijrah bathinah (batin) dan zhahirah (lahir). Hijrah batin adalah meninggalkan apa saja yang diperintahkan oleh hawa nafsu yang selalu memerintahkan keburukan dan seruan setan. Hijrah batin ini, yakni meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan adalah perkara yang wajib bagi setiap muslim.

Adapun hijrah zhahirah ialah lari menyelamatkan agama dari fitnah. Menurut al-jurjani, hijrah adalah meninggalkan negeri yang berada di tengah kaum kafir dan berpindah ke Darul Islam. Definisi hijrah semacam ini diambil dari fakta hijrah Rasulullah saw. sendiri dari Mekkah ke Madinah.

Darul Islam adalah suatu wilayah (Negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh berada ditangan kaum Muslim. Sebaliknya, darul kufur adalah wilayah (Negara) yang tidak menerapkan syariah islam dan keamanannya tidak ditangan kaum muslim, sekalipun mayoritas penduduknya beragama islam.

Hijrah lahir inilah yang menjadi peristiwa besar dalam sejarah umat Islam. Pada saat Rasulullah saw. dan para sahabat berhijrah ke Madinah, Islam dapat ditegakkan secara menyeluruh hingga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hukum-hukum Islam dapat dilaksanakan dengan sempurna setelah hijrah Rasulullah saw. mulai dari hukum agama, sosial, ekonomi hingga pemerintahan.

Namun demikian, hijrah lahir ini justru belum terealisasi, bahkan terabaikan. Umat Islam sudah merasa cukup dengan perbaikan pribadi dan urusan ibadah mahdhah semata. Belum ada ikhtiar yang kuat untuk menyelamatkan agama dari fitnah. Padahal segala bentuk tuduhan buruk tertuding jelas ditujukan kepada agama Islam.

Kondisi ini tak jauh berbeda dengan kondisi saat Rasulullah saw. dan para sahabat berada di Mekkah. Keadaan jahiliah melanda setiap aspek kehidupan sampai kemudian Allah SWT memberikan pertolongan dengan tegaknya Islam di Madinah.

Karena itu, Tahun baru Islam hendaknya tidak dijadikan rutinitas seremonial belaka, melainkan dapat meneladani momentum hijrah Rasulullah saw. dengan melakukan perubahan. Perubahan dilakukan dengan cara menerapkan syariah Islam secara kaffah sebagai aturan kehidupan manusia.[MO/sr]




Posting Komentar