Oleh: Al Azizy Revolusi

Mediaoposisi.com- Nilai tukar Rupiah terus melemah dalam beberapa hari terakhir hingga mencapai Rp.15.000 per dollar. Yang lucu, pemerintah malah menyebut faktor eksternal sebagai penyebabnya. Setelah krisis Turki yang disalahkan, kini Argentina menjadi kambing hitamnya.

Lemahnya rupiah tidak saja diakibatkan oleh persaingan dagang antara Amerika dengan Tiongkok dan Uni Eropa. Tetapi juga faktor internal sendiri.

Bisa diduga, efek turunnya nilai tukar Rupiah ini berbanding lurus dengan turunnya daya beli masyarakat. Berimbas pada komoditi ekspor dan impor. Jika perusahaan menengah ke bawah tak bisa bertahan, maka akan banyak karyawan yang dirumahkan alias di-PHK. Krisis Ekonomi Indonesia sebenarnya hal yang sering terjadi. Sebab, sistem mata uang Indonesia mengacu pada dollar AS.

Mengapa harus berbasis pada dollar? Karena dollar digunakan sebagai alat transaksi antar negara. Inilah yang disebut fiat currency, dimana mata uang kertas tidak ditopang emas sebagai alat tukarnya.

Dulu, mata uang berbasis emas dan perak. Namun sejak 1971, sistem mata uang dilepaskan dari emas dan perak melalui pembatalan perjanjian Bretton-Wood oleh Presiden AS, Richarda Milhous Nixxon. Pasalnya AS terus mencetak dollar untuk meningkatkan belanja fiskalnya diantaranya untuk membiayai perang Vietnam. Defisit anggarannya makin membesar sementara rasio antara supply dollar dan cadangan emasnya terus merosot.

Pemberlakuan fiat currency mata uang dunia jadi tak stabil. Percetakan mata uang yang tak terkendali mengakibatkan inflasi melambung tinggi. Fluktuasi nilai mata uang tak bisa diprediksi lagi.

Sejatinya, krisis ekonomi seperti hari ini akan terjadi jika mata uang berbasis emas dan perak. Mata uang yang sudah teruji ratusan tahun di dunia moneter Internasional. Dengan menerapkan mata uang emas, pemerintah suatu negara tidak dapat menambah pasokan uang dengan bebas. Uang hanya bertambah ketika bertambah pula cadangan emas negara. Sehingga inflasi yang diakibatkan oleh pertumbuhan uang sebagaimana pada sistem mata uang kertas (fiat money) tidak terjadi.

Kestabilan sistem mata uang emas dan perak membuat kelancaran dan kestabilan transaksi perdagangan. Para eksportir tidak akan khawatir nilai ekspor akan terganggu. Sebab, meski mata uang yang beredar di berbagai negara itu berbeda-beda, namun tetap disandarkan pada emas dan perak.

Salah satu keunggulan emas dan perak dibandingkan dengan uang kertas hari ini adalah karena Ia memiliki nilai intrinsik. Karena itu, emas dan perak bisa diperjual belikan jika tak digunakan sebagai mata uang.

Islam adalah agama sempurna. Untuk urusan mata uang ini pun sudah diatur secara khusus. Sistem moneter dalam Islam memang berbasis pada emas dan perak. Semua itu hanya mungkin diterapkan oleh Khilafah. Sehingga solusi yang mendasar terhadap persoalan ekonomi Indonesia adalah dengan meninggalkan ekonomi liberal dan kembali pada syariah dan khilafah.[MO/sr]




Posting Komentar