Oleh: Hafshah Damayanti, S.Pd
(Forum Muslimah Pantura)


Mediaoposisi.com-Akhirnya penguasa negeri ini terpaksa tak bisa lagi menganggap remeh terhadap kondisi rupiah yang kian tak berdaya dihadapan dolar Amerika Serikat. Sejak awal tahun ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan. Bahkan rupiah pun sempat terjun bebas menyentuh level terendah hingga hampir menembus angka Rp 15.000/US$ pada Rabu (5/9).

Seperti biasanya, penguasa bersikap santai sembari percaya diri akan fundamental ekonomi negara yang masih baik-baik saja. Sehingga melemahnya rupiah terhadap dolar AS justru dianggap positif. Seperti yang dikatakan oleh Wapres Jusuf Kalla bahwa pelemehan nilai tukar mempunyai dampak positif, mampu menaikkan pendapatan ekspor. merdeka.com(2018/5/8). Atau ketika Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menganggap kondisi tak berdayanya rupiah terhadap dolar justru akan menambah pundi-pundi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor pertambangan serta sikap optimis Kemenkeu bahwa negeri ini tetap akan dipercaya para investor, meski rupiah terkapar.

Tapi untuk kali ini, penguasa tampak panik ketika rupiah benar-benar loyo dihadapan dolar. Penguasa paham bahwa apa yang mereka klaim terhadap fundamental ekonomi negeri ini akan cukup tangguh menahan gejolak ekonomi global adalah bualan belaka. Setidaknya menurut ekonom senior yang juga mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Anwar Nasution.cnbcIndonesia.com(2018/9/8).

Jurus-jurus sakti untuk menyelematkan rupiah agar tak semakin terpuruk pun dikeluarkan oleh penguasa. Seketika penguasa pun menaikkan pajak penghasilan (PPh) impor barang konsumsi dengan harapan volume impor berkurang dan rupiah pun terdongkrak. Yang dampaknya tentu saja harga barang-barang konsumsi kian melangit. Rakyat pun makin menjerit. Pasalnya penguasa negeri ini termasuk yang doyan impor hampir disemua barang konsumsi. Kenaikan harga BBM tak luput disebut-sebut sebagai langkah ampuh untuk menyelamatkan rupiah yang rapuh. Namum, agaknya penguasa masih malu-malu, kenaikan BBM bukan pilihan bijak untuk saat ini. Mereka tak ingin rakyat meradang, pilpres lima tahunan sudah menjelang.

Gejolak nilai tukar rupiah terus berulang, seiring semakin kuatnya cengkeraman Kapitalisme global yang digawangi Amerika Serikat. Sebagai negara adikuasa, Amerika Serikat dengan Kapitalisme dan neoliberalnya telah sukses menancapkan hegemoni militer, politik serta ekonomi terhadap dunia internasional. Nafsu negara penjajah AS begitu besar untuk menguasai dan merampok kekayaan negara-negara lain. Utamanya negeri-negeri muslim yang kekayaan alamnya berlimpah, tak terkecuali Indonesia.

Sejatinya krisis nilai tukar mata uang pun terjadi di hampir semua negara sebagai konsekunsi ketundukan mereka terhadap sistim ekonomi Kapitalisne dengan neoliberalnya. Sebut saja Yunani, Venezuela bahkan Turki tak luput menjadi korban kejahatan ekonomi Kapitalisme. Beragam perangkap yang dipasang AS untuk menjerat negara-negara dunia agar terbenam pada kubangan lumpur kotor ekonomi Kapitalisme. Salah satu perangkap itu adalah kepongahan AS untuk memaksakan mata uang dolarnya sebagai alat pembayaran semua negara dalam transaksi ekonomi internasional. Serta keinginan AS yang ngotot menjauhkan emas secara total dari ranah transaksi finansial dan moneter internasional. Jebakan ini sukses menarik negara-negara dunia tak terkecuali Indonsesia ke dalam pusaran krisis moneter yang senantiasa berulang. Pada akhirnya kehidupan ekonomi masyarakat kian tak tentu arah, kesejahteraan jauh dari harapan.

Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia, dengan kekayaan alam yang berlimpah. Anugerah Sang Maha Pencipta. Tak layak terus menerus menjadi sapi perah dari negara-negara Kapitalisme yang dimotori AS. Limpahan kekayaan negeri ini tak bersisa sedikit pun untuk rakyat. Rakyat harus menanggung dampak krisis moneter yang terus saja berulang. Rupiah melemah atau menguat terhadap dolar mungkin mereka tak paham mengapa terjadi. Tapi kehidupan kian susah tak mampu mereka hindari. 

Sudah saatnya negeri muslim ini butuh solusi pasti bukan janji-janji penguasa lima tahunan pada pesta Demokrasi. Penting untuk segera disadari oleh negeri ini. Sistim ekonomi Islam adalah solusi sahih yang tak pernah ingkar janji karena semata berasal dari Illahi. Dengan kebijakan moneternya berbasis emas dan perak, sistim ekonomi Islam mampu bertahan dalam badai krisis ekonomi bahkan mampu melenyapkan beragam transaksi ekonomi batil penuh tipu-tipu yang menjadi penyebab utama krisis ekonomi terjadi. Wallahu a’lam bi ash shawwab.[MO/dr]

Posting Komentar