Oleh: Rin Suhud

Mediaoposisi.com-Isu mengenai siklus krisis ekonomi 10 tahunan sedang hangat diperbincangkan publik saat ini. Banyak pihak yang mempertanyakan, apakah siklus tersebut memang benar-benar terjadi setiap 10 tahun sekali ? Atau hanya kebetulan saja. Krisis ekonomi 1998 dan 2008 lalu merupakan krisis yang berdampak buruk bagi perekonomian global dan nasional.

Data menunjukkan, memasuki triwulan pertama 2018, banyak indikasi yang terus mengarah ke arah tersebut. Kekhwatiran masyarakat terhadap akan terulangnya krisis ekonomi pun terus menghantui. “Akhir pekan lalu, rupiah ditutup melemah menjadi Rp 13.804 per dollar. Pelemahan rupiah ini tentunya ironis, mengingat sebulan terakhir banyak sentimen positif yang berasal dari domestik, khususnya perkembangan makroekonomi kita.

Kalau kita cermati, dibalik penguatan nilai tukar dollar AS belakangan ini, lebih banyak disebabkan oleh imbas kebijakan ekonomi dan geopolitik yang dikeluarkan oleh Presiden AS Donald Trump. Kenaikan nilai tukar dolar pekan lalu sebenarnya dipicu pernyataan Trump yang menyatakan bahwa OPEC telah membuat harga minyak berada di level yang tinggi walaupun semu.

Ketidak pastian ini melengkapi ketakutan pelaku pasar uang yang sebelumnya telah muncul akibat kebijakan kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS, Federal Reserve, yang diperkirakan lebih agresif selama 2018. Sejumlah analis memperkirakan, suku bunga acuan the Fed Rund Rate (FFR) akan mengalami kenaikan setidaknya tiga kali selama 2018”.(Republika.co.id: Kebijakan Trump, Penguatan Dollar AS dan Rupiah,23/04/2018).

“Nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS pada semester II 2018. Tekanan terhadap rupiah didorong sentimen eksternal dan internal. Rupiah melemah 9,52% dari 2 Januari 2018 di posisi 13.542 per dolar AS ke posisi 14.835 per dolar AS pada Senin 10/9/2018. Hal itu berdasarkan patokan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor).


Nilai tukar rupiah bahkan sempat sentuh level terendah di posisi 14927 per dolar AS pada 5/9/2018. Bila melihat kurs tengah BI, rupiah merosot terjadi sejak Mei 2018. Rupiah pertama kali sentuh posisi kisaran 14.000 pada 9 Mei 2018 di posisi 14.704 ”. (Liputan6.com :Rupiah melemah imbas faktor global, 10/09/2018)
“Terhitung sejak 5 September 2018, nilai tukar mata uang rupiah  mencapai angka 14960,45 rupiah. Kenaikan angka yang cukup fantastis dari tahun 2011, yang ketika itu rupiah menguat di angka Rp 8455 tepatnya di Agustus 2011 terhadap dolar AS.


Kondisi nilai mata uang rupiah terhadap dolar yang terus melemah ditengarai terjadi karena beberapa faktor. Selain itu, sentimen negatif pada mata uang negara berkembang dipengaruhi oleh krisis  mata uang Turki dan Argentina yang merembet pada negara-negara berkembang yang mengalami isu pelebaran defisit, salah satu di antaranya adalah Indonesia”. (www.pikiran rakyat.com,5/9/18, Mengintip Kondisi 6 Negara yang terdapak Penguatan Dolar AS)

Dengan demikian, tak dapat dipungkiri bahwa kapitalisme sebagai sistem ekonomi kini tengah berjaya di tingkat global, terutama setelah momentum hancurnya Sosialisme pada awal tahun 1990-an. Hampir seluruh negara di dunia menerapkan Kapitalisme dengan berbagai variasinya.

Kapitalisme modern saat ini dibangun dengan monetary based economy (ekonomi berbasis sektor moneter/non-real), bukan real based economy (ekonomi berbasis sektor real). Keuntungan ekonomi diperoleh bukan melalui kegiatan investasi produktif (produksi barang dan jasa), melainkan dalam investasi spekulatif melalui sektor non real (keuangan). Dalam ekonomi berbasis sektor moneter (keuangan) inilah, kapitalisme tidak dapat dilepaskan dengan bunga (riba).

Sistem ekonomi non-real ini berpotensi besar untuk meruntuhkan sistem keuangan secara keseluruhan. Krisis ekonomi yang melanda belahan dunia menjadi bukti bahwa ada yang salah dalam sistem kapitalis.
Sistem kapitalis telah terbukti menimbulkan krisis yang berulang. Bagaimana solusi alternatifnya? Sistem keuangan Islam, telah menunjukkan ketangguhan sistem ekonomi Islam yang pernah diterapkan selama 1300 tahun lamanya dan tidak pernah mengalami krisis ekonomi global yang signifikan serta menunjukkan peran penting institusi pemerintah yang akan menerapkan sistem keuangan tersebut.

Sistem keuangan Islam secara komprehensif terdiri dari :


1.  Mata uang syar’i berdasarkan emas dan perak

Sistem ekonomi Islam telah menetapkan bahwa emas dan perak merupakan mata uang, bukan yang lain. Mengeluarkan uang substitusi harus ditopang dengan emas dan perak, dengan nilai yang sama dan dapat ditukar saat ada permintaan. Dengan begitu, uang kertas negara manapun tidak akan bisa didominasi oleh uang negara lain. Sebaliknya, uang tersebut mempunyai nilai intrinsik yang tetap tidak berubah.

Islam mewajibkan zakat atas emas (dinar) dan perak (dirham) karena keduanya dianggap sebagai mata uang dan sebagai standar harga barang dalam jual beli dan upah-mengupah tenaga kerja. Rasulullah SAW bersabda :

لَاتَبِيْعُوا الذَّهَبَ بالذَّهَبِ إِلاَّ سَوَاءً بِسَوَاءٍ وَ الفِّضَةَ بِالْفِضَّةِ إِلاَّ سَوَاءً بِسَوَاءٍ وَبِيْعُوا الذَّهَبَ بِاْلفِضَّةِ وَ اْلفِضَّةَ بِالذَّهَبِ كَيْفَ شِئْتُمْ

Artinya : “Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali harus sama (ukuran keduanya), dan janganlah kalian menjual perak dengan perak kecuali harus sama (ukuran keduanya). Dan juallah emas dengan perak dan perak dengan emas bagaimana yang kalian inginkan”. (H.R Bukhori)

Ketika Islam menetapkan hukum-hukum pertukaran dalam muamalah, emas dan perak dijadikan sebagai tolak ukurnya. Rasulullah melarang pertukaran perak dengan perak atau emas dengan emas kecuali sama nilainya. Beliau memerintahkan untuk memperjual belikan emas dan perak sesuai yang diinginkan. Atas dasar ini, jelas sesungguhnya mata uang syar’i adalah emas dan perak.

2. Bebas riba

Sistem keuangan Islam secara tegas melarang riba dan penjualan komoditi sebelum dikuasai oleh penjualnya. Karena itu, haram menjual barang yang belum menjadi hak miliknya secara sempurna. Haram memindahtangankan kertas berharga dari akad-akad yang batil. Islam juga mengharamkan semua sarana penipuan dan manipulasi yang dibolehkan oleh kapitalisme dengan klaim kebebasan kepemilikan.

Berdasarkan hal ini, seluruh transaksi riba yang tampak dalam sistem keuangan dan perbankan modern (dengan adanya bunga bank) diharamkan secara pasti, termasuk transaksi-transaksi turunannya yang biasa terjadi di pasar-pasar uang maupun pasar-pasar saham.


Penggelembungan harga saham maupun uang sehingga tidak sesuai dengan harganya yang wajar dan benar-benar memiliki nilai intrinsik yang sama dengan nilai nominal yang tercantum di dalamnya adalah tindakan riba. Rasulullah SAW bersabda :
                                                                                                            

      الذَّهَبُ بـِالذَّهَبِ وَاْلفِضُّة باْلِفضِّةِ وَ اْلبُرُّ بِاْلبُرِّ و الشَّعِيْرِ بِالشَّعِيْرِ وَ التَّمَرُ بِالتَّمَرِ وَ اْلمَلَحُ بِاْلمَلَحِ مَثَلاً بِمَثَلٍ وَ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ اَوْ اْستَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى


“(Boleh ditukar) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam yang setara (sama nilai dan kualitasnya) dan diserah terimakan langsung (dari tangan ke tangan). Siapa saja yang menambahkan (suatu nilai) atau meminta tambahan, sesungguhnya ia telah berbuat riba”. (HR. Al-Bukhari dan Ahmad).

3. Bertumpu pada ekonomi sektor riil.

Bertumpu pada ekonomi riil. Sistem ekonomi Islam selalu menomor satukan kebutuhan dan pemberdayaan masyarkat secara riil bukan sekedar pertumbuhan ekonomi saja sebagai isu utama yang memerlukan jalan keluar dan penerapan kebijakan. Sistem ekonomi Islam memfokuskan pada manusia dan pemenuhan kebutuhannya, bukan pada pertumbuhan ekonomi itu sendiri.
Wallahu’alam bi ash showab.[MO/dr]

Posting Komentar